Nikmatnya Ditolak • penulis: botaksakti, 09 Februari 2011 21:44:14 • 44 KomentarLucu +4

 

Sudah lama, loyalis gardu ronda kami tidak aktif. Sore tadi, tiba-tiba Bang Alim 'nyamper' ke rumah.

"Mas Guru, yuk tar malam nongkrong lagi di gardu!" katanya tiba-tiba.

"Memangnya kenapa, Bang?"

"Ya, kangen nongkrong aja. Bukankah sejak Mas Guru punya mainan di rumah, sampeyan trus jarang ke luar? Apalagi nongkrong. Gardu jadi sepi tuh!"

Aku tersenyum. Aku telah khilaf rupanya. Benar, memang,semenjak tak miskin-miskin amat soal bandwith, aku lebih banyak nongkrong sendirian di depan layar. Habis bagaimana, Poli tetap mampu menghadirkan 'tongkrongan' yang berasa lebih elit. Pun meski cuma sendirian di depan layar, sepertinya duniaku ramai pula. Adu bacot dengan teman-teman di Poli mampu mengalihkan perhatianku dari loyalis gardu itu.

 

Lepas Isya' aku bersijingkat ke luar rumah. Gardu menjadi sasaran utamaku.Tapi, ternyata aku sudah keduluan. Di gardu sudah nongkrong Gondrong, Pak RT, dan Bang Udin.

 

"Assalamu'alaikum....!" sapaku sambil mengangkat satu tanganku dengan telapak terbuka.

"Waalaikum salam........"mereka menjawab serempak.

"Kok, udah pada di sini?" aku menyebar basa-basi.

"Iyalah, tadi Bang Alim bilang kalau sampeyan mau mulai nongkrong lagi malam ini!" sahut Gondrong.

 

Asem! Rupanya Bang Alim telah menjualku.

 

"Loh, Pak RT kok cemberut saja? Ada apa nih?" godaku melihat Pak RT tak buka suara sejak tadi.

"Hufff....sepertinya saya pengen berhenti saja jadi RT, Mas Guru!" jawab Pak RT lesu.

Kami terhenyak.

"Memangnya kenapa, Pak RT?"

"Warga udah gak seneng sama Pak RT?" selidik Bang Alim.

"Halah......paling istrinya biang keroknya!", seru  Bang Udin.

"Lha, gimana coba, kata bini saya, jadi RT itu gak ada artinya. Main politik kok nanggung, sekalian kek jadi Presiden! Begitu katanya!",

 

Kami ngakak.

"Lah, kok malah pada ketawa?" Pak RT merengut.

Aku terdiam. Ada rasa bersalah karena turut menertawakan Pak RT.

"Gini, Pak RT, sampeyan harus belajar dari Pak Be Ye. Beliau itu ditolak di banyak tempat. Yang terbaru, Beliau ditolak mahasiswa ketika menghadiri Hari Pers Nasional di Kupang., tapi Beliau tetap tegar bahkan masih sempat menanam pohon dengan santai. Pun Beliau juga dihujat di banyak kesempatan, dicemooh, dan dikritik kanan-kiri yang sebenarnya cukup memerahkan telinga. Akan tetapi, Beliau tetap kukuh seolah tak peduli!" aku mencoba memberi Pak RT motivasi.

"Tapi kan Pak Be Ye nggak setiap hari bertemu dengan para penolaknya atau penghujatnya itu, Mas Guru!", pak RT ngeyel.

"Iya sih!", sahutku.

"Bahkan Beliau belum tentu tahu tenang semua itu!", Gondrong mulai sok tahu.

"Halah, Pak RT, sampeyan kan bukan Presiden? Udah, ganti bini saja, ditanggung beres!", usul solutif dari Bang Udin.

 

Kami bengong mendengarnya.

 

"Weh, betul juga ya, Din!", kata pak RT dengan mata berbinar.

 

Wa..wa..wa....kalau begini bakalan panjang urusannya, pikirku. Tanpa pikir panjang aku segera angkat kaki tanpa suara meninggalkan mereka. Bukan apa-apa, aku tak mau dituduh ikut memrovokasi Pak RT mencari bini baru

 


Artikel ini memiliki: 44 KomentarLucu +4

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »