Revolusi Islam Mesir, Sebuah Ketakutan Baru Barat & Israel • penulis: untinisa, 02 Februari 2011 16:28:51 • 24 KomentarPenting +2

CIA: Rezim Mesir Tidak Akan Tumbang Hanya dengan Demonstrasi

Tuesday, 01 February 2011 13:04 Courrier International, majalah terbitan Perancis menyingung meningkatnya aksi protes di Mesir dan menguatnya kemungkinan jatuhnya rezim berkuasa di negara itu, seraya menyebutkan analisa Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) bahwa rezim berkuasa kebal protes.

Courrier International menyatakan, "Sekitar dua pekan lalu, Dinas Rahasia Amerika (CIA) meminta para perwakilan dan penghubungnya di pemerintahan, militer, dan partai-partai oposisi, untuk memperkirakan ketahanan usia rezim berkuasa."

Hasilnya menunjukkan bahwa rezim Mubarak terbukti cukup kuat dan telah mengakar di seluruh sektor Mesir. Oleh karena itu tidak ada bahaya yang mengancamnya baik dalam waktu dekat atau jangka panjang.

Hasil penelitian CIA juga menunjukkan bahwa meski seandainya demonstrasi dan unjuk rasa makin memanas di Mesir atau bahkan sampai terjadi bentrokan berdarah, fakta tersebut tidak akan menggoyahkan kekuatan rezim Mubarak.

Disebutkan pula bahwa Mesir tidak dapat disamakan dengan negara-negara Arab lainnya, karena memiliki struktur yang kuat dan sangat komplek dibandingkan negara lain termasuk Tunisia. Ketahanan pemerintahan Mesir terhadap segala bentuk guncangan tidak dapat dibandingkan dengan negara lain.

Menurut CIA, Hosni Mubarak, presiden renta dan sering sakit-sakitan itu mendapat dukungan dari militer, dinas intelijen Mesir, pengusaha, dan para investor.

Oleh karena itu, hal yang dikhawatirkan Amerika Serikat adalah lengsernya Hosni Mubarak dari kursi kekuasaannya, bukan perubahan rezim di Mesir. (source)

 

Miami Herald: AS Pecundang Utama di Mesir

Kekacauan Mesir telah menyeret kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah ke dalam krisis dan negara ini menilai kepentingannya di Mesir berada dalam bahaya.

Koran Miami Herald cetakan AS dalam analisa hari Senin (31/1), menyinggung tekad bangsa Mesir untuk mengakhiri pemerintah Presiden Hosni Mubarak yang sudah berumur 30 tahun. Ditambahkannya, demo jutaan rakyat Mesir hari ini secara teoritis mungkin akan berujung pada apa yang disebut Presiden Barack Obama yaitu, transisi legal ke arah demokrasi dan menyerahkan kekuasaan Mubarak kepada pemerintahan transisi untuk menggelar pemilu yang sehat dan adil.

Namun terlepas dari semua prediksi tentang nasib krisis di Mesir, Miami Herald mengutip keterangan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS, J. Scott Carpenter, menyoroti dampak krisis tersebut terhadap kebijakan luar negeri AS. Dikatakannya, jika kondisi itu terus berlanjut di Mesir, maka bahayanya bagi kebijakan luar negeri AS juga akan meningkat.

Menurut koran itu, Kementerian Luar Negeri AS telah mengirim seorang diplomat veteran, Frank Wisner ke Kairo untuk memaksa pemerintah Mubarak menerima reformasi politik.

Frank Wisner, mantan duta besar AS untuk Mesir yang mengenal Mubarak, mendarat di Kairo, Senin, dan Washington percaya akan berguna jika Wisner bertemu dengan Mubarak secara langsung dan mendapatkan perspektifnya, kata Jurubicara Departemen Luar Negeri AS, Philip J Crowley.(source)

 

Israel Takut Lahir Revolusi Islam di Mesir

Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu menyuarakan keprihatinan bahwa demonstrasi besar-besaran di Mesir dapat menyebabkan lahirnya sebuah revolusi Islam seperti di Iran, karena pengunjuk rasa masih terus menuntut lengsernya Presiden Hosni Mubarak.

"Di tengah kekacauan, sebuah kelompok Islam terorganisir dapat mengambil alih negara. Itu terjadi di Iran dan juga di tempat lain," kata Netanyahu dalam sebuah konferensi pers, Selasa (1/2/2011).

Netanyahu mengeluarkan pernyataanya saat rezim Mesir tengah bergulat dengan gelombang protes anti-pemerintah yang belum pernah terjadi di negara itu. Satu juta lebih demonstran menuntut Mubarak meletakkan jabatannya dan keluar dari Mesir.

"Setiap orang berharap bahwa ini akan diselesaikan secara damai, stabilitas dapat dikembalikan dan perdamaian bisa dipertahankan," ujar Netanyahu. Ia menambahkan bahwa dirinya aktif mengikuti perkembangan di Mesir setiap setengah jam.

Sebelumnya, Ahad (30/1/2011), Netanyahu mengatakan bahwa upaya Israel difokuskan pada pemeliharaan "stabilitas dan keamanan" di kawasan. Ia juga memerintahkan menterinya untuk tidak membuat komentar mengenai perkembangan di Mesir yang tengah dilanda krisis.

"Perdamaian antara Israel dan Mesir telah ada selama lebih dari tiga dekade dan tujuan Zionis adalah "untuk memastikan bahwa hubungan itu tetap eksis," kata Netanyahu. Israel sangat prihatin tentang kemungkinan perubahan rezim di Mesir yang dapat membahayakan perjanjian damai yang ditandatangani antara kedua belah pihak pada tahun 1979.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh Presiden Israel Shimon Peres. Ia mengatakan, pihaknya selalu dan akan selalu menghormati Presiden Mubarak.

"Saya tidak menyebut segala apa yang dilakukannya baik, namun dia melakukan sesuatu yang membuat kita semua harus berterimakasih kepadanya, yaitu menciptakan perdamaian di Timur Tengah," tambahnya.(source)

 

Israel Panik

Panik dan dicekam ketakutan akan kemungkinan naiknya rezim anti-Israel di Mesir apabila Presiden Hosni Mubarak terguling, Israel memerintahkan para diplomatnya menggalang dukungan dunia untuk mempertahankan pemerintahan Mubarak.

Dalam laporan yang dimuat harian Hareetz di Israel, Senin (31/1), Kementerian Luar Negeri Israel disebut telah mengirimkan pesan kepada para diplomatnya di luar negeri untuk mengingatkan negara-negara tempat mereka bertugas bahwa mempertahankan stabilitas rezim di Mesir saat ini menjadi kepentingan Barat dan Timur Tengah.

”Untuk itu, kita harus membatasi kritik publik terhadap Presiden Hosni Mubarak,” demikian bunyi pesan diplomatik yang dikirim ke lebih dari selusin kedutaan besar Israel di Amerika Serikat, Kanada, Rusia, China, dan beberapa negara Eropa.

Saat dikonfirmasi oleh Agence France Presse, baik juru bicara Kemlu Israel maupun Kantor Perdana Menteri Israel menolak membenarkan atau menyangkal isi laporan Hareetz itu. Jika laporan tersebut benar, berarti Israel menjadi negara kedua setelah Arab Saudi yang mendukung Mubarak.

Israel hingga saat ini masih berusaha bersikap tenang dan menahan diri untuk tidak berkomentar tentang situasi memanas di Mesir. PM Benjamin Netanyahu, Minggu, memerintahkan para menterinya untuk tidak berkomentar soal Mesir secara terbuka.

Namun, di balik ketenangan sikap Israel itu tersimpan ketakutan yang sangat besar. Berita-berita utama koran di Israel, Minggu pagi, menyiratkan ketakutan itu dengan judul-judul, seperti ”Langkah Mundur 30 Tahun”, ”Yang Menakutkan Kita”, dan ”Sendirian”.

Sejak menjadi negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979, Mesir menjadi satu-satunya ”sekutu” Israel di kawasan Timur Tengah.

”Mesir dan Israel punya kepentingan strategis yang sama. Untuk mengatakan mereka sekutu, sepertinya terlalu berlebihan. Namun, paling tidak, kedua negara itu tak saling berperang,” tutur Shlomo Avineri, pakar politik dari Hebrew University, Israel.

Avineri menambahkan, Mesir adalah negara kekuatan utama di dunia Arab. ”Tidak ada negara (Arab) lain yang akan berperang (melawan Israel) tanpa melibatkan Mesir,” tutur dia.

Para pejabat pertahanan Israel pun dikabarkan mulai mempertimbangkan menggeser konsentrasi kekuatan militer mereka ke arah perbatasan Mesir di selatan.

Mesir, selain terikat perjanjian damai, membantu menekan Hamas di perbatasan Gaza, mendukung proses perdamaian Israel- Palestina, dan ikut menghalangi ambisi Iran, juga memasok 40 persen kebutuhan gas alam Israel.

Merusak perdamaian Mantan Duta Besar Israel untuk Mesir, Eli Shaked, mengatakan, jika rezim Mubarak betul-betul tumbang, siapa pun yang berkuasa di Mesir setelah itu akan merusak perdamaian Mesir-Israel. ”Satu-satunya pihak yang mendukung perdamaian hanya orang-orang di lingkaran dalam Mubarak,” tulis Shaked dalam artikel di harian Yedioth Ahronoth.

Ketakutan utama Israel adalah apabila golongan Islam fundamentalis, seperti Ikhwanul Muslimin, berkuasa di Mesir pasca-Mubarak. ”Dalam situasi kaos seperti ini, kelompok-kelompok seperti Ikhwanul Muslimin diuntungkan karena mereka paling terorganisasi dan memiliki tujuan pasti,” tutur pakar Timur Tengah dari Haifa University, Benjamin Miller.

Berbagai kalangan di Israel juga menyayangkan sikap Presiden AS Barack Obama dan para pemimpin negara-negara Eropa yang seolah meninggalkan Mubarak di tengah krisis. Harian Ma’ariv memuat artikel berjudul ”Paman Sam Menembak dari Belakang”.

Pejabat tinggi Israel, yang dikutip Hareetz, menyebut orang- orang Amerika dan Eropa terhanyut dalam opini publik dan tidak mempertimbangkan kepentingan Barat yang sejati.

”Meski bersikap kritis terhadap Mubarak, mereka harus membuat teman mereka merasa tidak ditinggal sendirian. Jordania dan Arab Saudi melihat bagaimana semua orang (di Barat) meninggalkan Mubarak dan itu akan menimbulkan implikasi serius,” tutur pejabat tersebut. (source)   

 

Mubarak Tumbang, Kegagalan Strategis Israel!

Rezim Zionis deg-degan memantau transformasi terbaru di kawasan Timur Tengah terutama Mesir. Berbagai media massa Israel menyebut kondisi Mesir saat ini sebagai ujian terberat bagi Hosni Mubarak.

Koran al-Hayat melaporkan, Perdana Menteri Rezim Zionis Benjamin Netanyahu memperingatkan kepada kabinetnya supaya tidak mengungkapkan statemen mengenai gejolak Mesir. Peringatan perdana menteri Israel ini mengemuka setelah seorang menteri rezim Zionis yang tidak bersedia disebutkan namanya dalam wawancara dengan majalah Times Amerika Serikat mengungkapkan kekhawatiran Israel mengenai transformasi terbaru di Mesir dan runtuhnya rezim Mubarak.

Sekitar 10 jaringan televisi rezim Zionis memberitakan eksodus besar-besaran diplomat rezim Zionis dari Negeri Piramida itu. Berbagai sumber pemberitaan berbahasa Arab melaporkan dimulainya penarikan staf kedutaan rezim Zionis di Kairo, menyusul gelombang bola salju demonstrasi rakyat Mesir.

Koran al-Quds mengutip sumber terpercaya mengungkapkan larinya staf kedutaan rezim Zionis di Mesir setelah para demonstran mendekati gedung kedutaan tempat mereka bekerja. Dilaporkan sebuah helikopter dikirim ke lokasi untuk memindahkan para staf kedutaan rezim Zionis. Kemudian mereka dialihkan menggunakan pesawat khusus ke Israel.

Sumber lokal melaporkan, meski gedung kedutaan rezim Zionis merupakan bangunan tingkat tinggi, namun staf kedutaan Israel merasa khawatir atas keselamatan diri mereka dan mendesak pengiriman helikopter untuk menghindari serangan para demonstran Mesir yang sedang mengamuk. Sebelumnya dilaporkan, Duta Besar Israel di Kairo melarikan diri setelah terbongkarnya sebuah jaringan spionase rezim Zionis di Mesir.

Sebelum gelombang protes rakyat Mesir meluas, para pejabat rezim Zionis memprediksi militer keamanan Mesir akan berhasil menguasai kondisi dan mengamankan gelombang protes rakyat. Petinggi Israel menilai Mesir berbeda dengan Tunisia. Namun media massa dan pejabat Zionis dalam beberapa hari terakhir mengungkapkan pandangan lain yang merevisi prediksi sebelumnya. Mereka sangat mengkhawatirkan transformasi di kawasan mulai dari Tunisia, Lebanon hingga Mesir.

Chanel 2 rezim Zionis menyebut "Negeri Piramida itu Diambang Revolusi".Televisi Israel ini menilai runtuhnya pemerintahan Mubarak akan menjadi sebuah kegagalan strategis bagi Israel." Setelah menyaksikan bola salju protes rakyat di Mesir, mantan kepala Riset Militer rezim Zionis menilai kondisi saat ini di Mesir dan negara-negara Arab sedang meledak.

Selama beberapa hari terakhir seorang pejabat keamanan rezim Zionis dalam wawancara dengan koran Yediot Aharonot mengungkapkan, "Perubahan fundamental dalam pemerintahan Mesir bisa berbuntut pada revolusi yang berdampak pada keamanan Israel." Pejabat keamanan Israel ini menegaskan, nota kesepakatan damai Israel-Mesir merupakan poin penting bagi Tel Aviv. Jika terjadi perubahan struktur dalam pemerintahan Hosni Mubarak, maka militer mau tidak mau harus menebus ongkos yang sangat besar. Mesir memainkan peran signifikan di kawasan, khususnya dalam menjalankan kebijakan Israel."

Menyinggung kekhawatiran rezim Zionis, pejabat tinggi militer Israel ini mengungkapkan bahwa ancaman Hamas di Jalur Gaza bukan hanya masalah kami dengan Mesir. Ditegaskannya, jika rezim Mesir berubah, maka Israel akan menghadapi masalah besar. Militer Mesir yang dilengkapi persenjataan modern Amerika dari tank, jet tempur hingga puluhan kapal perang tercanggih akan menjadi bumerang bagi Israel.

Kekhawatiran munculnya fron baru menghadapi rezim Zionis -itu pun diperbatasan- menghantui para pejabat tinggi Israel. Militer Mesir adalah sebuah militer Barat dan antek-antek AS. Namun jika terjadi perubahan rezim Mesir, Israel terpaksa akan bersikap berbeda dari sebelumnya. Sejumlah analis politik Israel melihat masalah ini dengan kacamata yang lebih optimis. Ben Joseph, analis politik dari Universitas Haifa mengungkapkan, Rezim Mubarak mungkin akan tumbang, namun Mesir bukan Iran. Bahkan di antara pejabat Ikhwanul Muslimin ada yang berkomitmen menjalin perdamaian dengan Israel. (source) " http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=29136:mubarak-tumbang-kegagalan-strategis-israel&catid=15:lintas-warta&Itemid=58

------------

Pengakuan saksi mata WNI yang baru pulang di bandara Soetta via TVOne, mengatakan bahwa sampai hari Jum'at 28/2/2011, tak ada tanda-tanda akan gerakan demo besar-besaran sehingga mereka semua tenang-tenang saja. Tetapi sejak hari jum'at itu, tiba-tiba saja meledak dan tak terkendali lagi. Gelombang demo itu datangnya ibarat air bah zaman nabi Nuh as, tiba-tiba saja dan entah dari mana saja warga Mesir bisa tumpek-blek di lapangan 'Tahrir Square'. Semua kejadian itu samsekali tak pernah diantisipasi oleh kalangan intelejen Mesir, termasuk agen-agen intelejen Israel yang bertugas disana.

Saya juga membaca di sebuah situs di luar negeri, agen-agen intelejen Israel mengakui terkaget-kaget dan salah menilai situasi masyarakat Mesir hingga hari jum'at lalu itu. Menurut kalangan intel Israel di Mesir itu, selama ini dalam sejarah Mesir, tidak pernah ada catatan kejadian demo besar-besaran secara serempak dan sepertinya terorganisir secara rapi. Laporan agen intel Israel, baru berhasil mereka up-date baru beberapa hari ini saja, tapi sudah sangat terlambat sekali.Tentu ini hal yang sangat mengherankan, sebuah rezim otoriter yang sangat berkuasa, dengan dukungan polisi rahasia paling terorganisir rapi di Timur Tengah, bisa kecolongan. Jangan ditanya juga kemampuan inteljen Israel yang ditugaskan disana tentunya. Bahkan intelejen AS, CIA, sampai 2 minggu lalu begitu yakinnya kalau rezom Husni Mubarok itu akan bertahan dari hembusan angin revolusi Tunisia sampai mereka menyaksikan sendiri perubahan yang sangat cepat ini.

(Lihat foto: Revolusi Islam Mesir, Sebuah Ketakutan Baru Barat & Israel )


Artikel ini memiliki: 24 KomentarPenting +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »