Rumitnya ngurus listrik di negara ini memang 'menyebalkan' dan malangnya kita sebagai konsumen, PLN (almost) have no effort untuk menjelaskan kesusahan dia dalam menjalankan usaha listrik ini terutama dalam manajemen energi.
Disadari atau tidak, banjir besar di Australia akan berakibat cukup besar bagi Indonesia, terutama dalam pasokan listrik ke rumah-rumah. Apa pasal? Karena pasokan batubara Australia ke pasar dunia otomatis terhenti, sehingga ada ketidakseimbangan antara supply dan demand. Dan selayaknya prinsip pasar, otomatis harga batubara melambung tinggi.
PLN sendiri punya kesulitan untuk mengimbangi harga batubara tersebut, karena komponen TDL yang sudah disepakati oleh DPR dan Pemerintah salah satunya adalah adanya asumsi harga batubara. Apabila PLN membeli dengan harga pasar, otomatis TDL akan ikut berubah, hal ini yang sedapat mungkin dihindari oleh pemerintah cq. Regulator.
Sebagai ilustrasi, harga spot batubara per Januari 2011 adalah USD 135 (/metric ton), sementara HBA (Harga Batubara Acuan) yang dikeluarkan Pemerintah adalah USD 112, dan harga batubara sesuai asumsi TDL PLN adalah (sekitar) USD 70!
Makin ricuh lagi adalah PLN yang tidak bisa mengikuti HBA yang ditetapkan pemerintah, karena pemerintah sendiri sudah menetapkan harga batubara untuk PLN yang jauh di bawah HBA. Ini masalah yang serius, apalagi dalam komposisi pasar domestic, PLN merupakan penyerap batubara tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 70,69% total produksi domestic yang mencapai 78,97 juta ton per tahun.
Menjadi lebih serius adalah walaupun Pembangkit Listrik PLN yang menggunakan batubara 'cuma' 5900 MW (dibandingkan total daya terpasang sekitar 20.000-an), tapi pembangkitnya adalah pembangkit utama, macam PLTU Suralaya, Paiton dan Tanjung Jati B yang memberi supply sekitar 40-60% kebutuhan listrik di Jawa.
Sebagai gambaran, saat ini di Paiton, stockpile (baca: cadangan) batubara hanya cukup untuk 9 hari, padahal seharusnya cadangan batubara aman untuk Paiton selayaknya untuk 14 hari.
Dan hingga tulisan ini disusun, negosiasi antara PLN dengan supplier batubara besar (macam Adaro dan Bukit Asam) masih mengalami jalan buntu karena ketidaksesuaian harga.
Jadi kalo kemudian ada pemadaman bergilir lagi, harus diingat, selain PLN jangan lupa 'salahkan juga' pemerintah yang gagal mengurusi manajemen energi di negeri ini #mrenges
(Lihat foto: Habis Gelap (Belum Tentu) Terbit Terang)
Artikel ini memiliki: 67 Komentar • Penting +10