INILAH.COM, Jakarta- Juru bicara DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul melihat aksi masyarakat Yogyakarta yang pro penetapan, sama sekali tidak mencerminkan masyarakat Yogya. Ruhut bahkan menyamakan aksi tersebut seperti aksi massa PKI pada tahun 1965.
"Iya kalau lihat demo kemarin aku ingat waktu tari genjer-genjer waktu di Halim tahun 1965. Seperti orang tari genjer-genjer tahun 1965," ujar Ruhut, Selasa (14/12/2010).
NOTE:
Benar bahwa, esensi politik adalah kompetisi. Dan kompetisi, adalah persaingan. Sementara demokrasi adalah sebuah usaha untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian, lapang dada dan menghindari upaya-upaya kehancuran serta manipulasi dan tipu-tipu dalam bentuk apapun, secara terbuka ataupun terahasiakan.
Benar bahwa, esensi politik adalah persaingan, tetapi, menolak satu gagasan dengan kekerasan, cemohan dan caci maki berarti menolak prinsip demokrasi secara anarkis.
Jika kekerasan, cemohan dan caci maki adalah cara primitif dalam kompetisi politis maka, "Menyamakan aksi massa Yogya dengan aksi massa PKI pada tahun 1965" adalah bentuk kasar dan keji dari usaha mengubur dan membelenggu kebebasan karuniawi setiap manusia.
Dan akan lebih jahat lagi ketika cara-cara itu dipakai, saat situasi dalam keadaan genting dan runcing. Nampak persis rasionalitas "Either with us or with the terrorist" dan dipakai oleh sebagian elit politik Indonesia. Cara-cara primitif yang kasar dipamerkan oleh Ruhut Otak Tumpul saat ini.
Tapi, itu hanyalah sekedar salah satu contoh dari buruk peringai elit politik yang menanggalkan kultur demokrasi yang beradab! dan tentu saja, Ruhut tengah menanggalkan nurani dan otak!.
(Lihat foto: Ruhut: Aksi Massa Yogya Mirip Aksi PKI)
Artikel ini memiliki: 66 Komentar • Menarik +10