Yang Penting Hasilnya • penulis: djibrieljd, 14 Desember 2010 13:50:01 • 23 KomentarMenarik +10

Agus Randil Jadi Tersangka

Maman Suarta Juga Jadi Tersangka

Eko Endang Koswara Malah Di Tahan

Gerakan Penegakan Hukumkah?

 

Tiba-tiba saja intensitas rapat di Pendopo Gubernur Banten meningkat tajam. Sepertinya penting, karena yang sering hadir pejabat eselon dua. Lama rapat pun tak tangung-tanggung, sering sampai malam hari. Tak ada kabar pasti, apa yang dirapatkan.

Angin berhembus, berusaha mengusir panas. Diam-diam membawa kabar dari kuping ke kuping: "Gubernur Banten dan sekutunya panik luar biasa". Badai hukum datang menerjang. Perahu pun terancam.

Kejadian-kejadian penegakan hukum di Banten, memang sedang luar biasa. Mitos hukum tak bernyali di Banten, seolah runtuh tanpa bekas. Semua orang terperangah, tak percaya.

Buat mereka yang mengharapkan perubahan, seperti mimpi ketiban durian runtuh. Buat mereka umat kelompok dominan, seperti mimpi ketemu genderuwo di siang bolong. Ketemunya di tengah pasar lagi.

Berawal dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memerintahkan pencoblosan ulang di Pilkada Pandeglang, badai pun dimulai.

dr Budi Djaja S, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten dikabarkan diperiksa Kejaksaan Agung (Kejagung). Lalu Agus Randil, mantan Kepala Biro (Kabiro) dan Maman Suarta, Kabiro Umum dan Perlengkapan Sekda Banten ditetapkan sebagai tersangka.

Ino Ruswita, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah Tinggi (Dikmenti) dan Mahmud Marua, Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Banten diperiksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang. Tak lama kemudian, Eko Endang Koswara, Kepala Dindik Banten ditahan di rutan Serang oleh Kejari.

Belum selesai warga Banten terkejut, MK memutuskan pilkada ulang Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kemenangan tipis Airin atas Andre Taulani menjadi batal. Wabah terperangah melanda Banten. Jempol berduyun-duyun menyambut MK dan Jan S Maringka, Kepala Kejari Serang.

 

Kebetulan

Badai hukum itu tentu disambut gembira. Doa dan harapan yang digantung bertahun-tahun dalam lemari, seolah ditemukan maha penguasa. Tapi ini sangat diluar kebiasaan. Otak perlahan berputar, kuping menyergapi angin, mata meloncat jauh.

Terlihat jelas jalur politik melawan arus besar Banten. Pemenang pilkada Pandeglang, Iyet adalah ibu tiri Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten. Atau Iyet adalah istri (entah yang ke berapa) Chasan Sochib, ayahanda Atut. Sedangkan pemenang pilakda Tangsel, Airin D adalah adik ipar Ratu Atut Chosiyah. Atau Istri Chaeri Wardana, adik kandung Atut.

Sebagian besar warga Banten sudah memastikan kemenangan mereka, jauh sebelum pencoblosan. Dasar hitungannya sederhana, pemegang kunci kas daerah. Terorganisir dan sistematis. Uang dan jabatan jadi super bonus. Ngiming-ngimingi. Lalu MK membuyarkan kepastian itu.

Terlihat jelas hukum mulai memainkan pencak. Agus Randil, Maman Suarta dan Eko Endang Koswara dikenal sebagai loyalis Gubernur. Tak sedikit jasa mereka saat pilkada gubernur lalu. Katanya, akibat jasanya itu, Agus Randil langsung naik jabatan dari camat ke kepala biro.

Mereka bertiga ditambah dr Budi Djaja, Shaleh MT, Winardjono merupakan para pengendali SKPD beranggaran empuk. Bukan hanya nilai anggarannya yang besar, tapi juga diduga mudah dalam pencairan anggaran.

Dokumen-dokumen berindikasikan tindak pindana korupsi yang diduga dilakukan mereka dan sekutunya, bertebaran di antara kaum pergerakan. Laporan ke aparat penegak hukum pun menumpuk. KPK pernah melansir hingga 500 buah laporan.

Tapi, tak ada tindakan hukum berarti yang terjadi. Malah budaya silaturahmi meningkat. Pembinaan hukum, kelakar LSM. Entah pejabat yang dibina hukum atau hukum yang dibina pejabat. Tak aneh muncul istilah "mereka kebal hukum".

Kemudian, Jan S Maringka datang menjabat Kepala Kejari Serang. Eko pun ditahan. Marua dan Ino dinanti dalam benak banyak orang. Kebetulan kejagung pun beraksi. Agus Randil dan Maman Suarta jadi tersangka. Djaja diperiksa. Lalu Agus Tauhid, Kepala Dinas Pertanian (Distanak) Banten terbawa-bawa.

Dua jalur utama dalam lingkar kekuasaan bertindak menentang kelompok dominan, sungguh suatu yang luar biasa. Kebetulan? Ah rasanya dalam kekuasaan tidak ada kebetulan.

Kebetulan 19 jaksa di Banten diganti. Kebetulan Kejati Banten baru. Kebetulan Kejari Serang baru. Kebetulan tahun depan (2011) pilkada gubernur Banten. Kebetulan gubernur Banten dari Golkar. Kebetulan presiden dari Demokrat. Kebetulan Golkar di pusat sedang tidak harmonis dengan Demokrat. Ah, terlalu banyak kebetulan.

 

Angin Berbisik

Jauh hari sebelum badai hukum tiba, prakiraan cuaca sudah disiarkan. Saat pidato kenegaraan/konferensi pers, SBY pernah mengatakan yang intinya, telah terjadi pengumpulan kekuasaan pada sekelompok kecil orang di daerah. Tak lupa embel-embel dinasti daerah, raja daerah.

Setelah itu, SBY pun sering ke Banten. Dayang-dayangnya juga sering ke Banten. Acara seremoni di Banten sering dihiasi pejabat pusat. Ah, harmonis sekali.

Lalu cuaca berubah. Ketidakharmonisan Golkar-Demokrat membuat jalan-jalan di Banten menjadi licin. Tak hati-hati, bisa terpeleset. Jatuh berdebam. Sakit rasanya. Tapi jika sudah nasib, terpelesetpun tak dapat dihindari.

 

Angin tak sedap merebak. Katanya, soal proyek, pusat enggan berhubungan dengan Banten. Usulan kegiatan pembangunan di Banten dengan menggunakan sumber dana APBN, sering disarankan untuk relokasi ke provinsi lain. Kegiatan yang sudah tercantum pun, sering dikerjakan diam-diam tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ke Pemprov Banten.

Kabar angin yang tak jelas arahnya menyebutkan peristiwa Ani Yudohono - Atut Chosiyah. Mendung tampak terlihat. Lalu gelegar isu mengagetkan Banten, katanya Ibaz, anak SBY akan turun di Pilkada Gubernur Banten 2011. Isu ini disambut gembira Bambang Sukresna, Ketua DPD Demokrat Banten. Bambang berkomentar, pilkada gubernur nanti, jangan sampai 4 L. Elo lagi, elo lagi.

Tak lama, Bambang membatalkan kontrak hidup secara sepihak. Dalam keadaan sehat, saat mengobrol, tiba-tiba muntah darah. RSUD menuding jantung tak mau lagi kompromi. Uniknya, penyakit jantung Bambang tidak tercatat di RSUD. "Mungkin dicatat di RSU lain," lempar RSUD.

Lain RSUD, lain masyarakat. Kematian Bambang diisukan terkait ajian 4 L. Suara Demokrat di Banten, cukup untuk mengusung nama calon gubernur. Nama Ibaz sangat jadi jaminan pemenangan.

By the way, kematian Bambang Sukresna dinilai memuluskan kelompok dominan menguasai Demokrat Banten. Persiapan belanja partai di tahun 2011.

Di bursa calon gubernur Banten, muncul nama Wahidin Halim (WH), Walikota Tangerang. Daerah yang dianggap penentang abadi Pemprov Banten (baca: kelompok dominan). Angin pun berbisik, sudah direstui Ani.

Tangsel jadi daerah penting. Kemenangan di Tangsel, jadi pukulan telak bagi WH. Tangsel sepertinya harus dikuasai. Pilkada Kota Tangsel pun dipersiapkan dengan matang. Berduyun-duyun kegiatan Pemprov Banten hijrah ke Tangsel.

Pandeglang dijadikan tempat latihan. Iyet pun turun berlaga. Jayabaya, Bupati Lebak yang diisukan berpasangan dengan WH, disibukan pemberontakan Malingping jadi kabupaten. Gubernur sudah berucap, Kabupaten Malingping jadi!

Kota Serang? Walikotanya, Bunyamin dalam keadaan sakit. Wakilnya, Haerul Jaman, tak lain adik tiri Atut Chosiyah. Sedangkan Kabupaten Serang, Tatu Chasanah, adik kandung Atut Chosiyah sudah bercokol di kursi Wakil Bupati.

Orang kemudian meraba Ismet, Bupati Tangerang. Hubungan Ismet dengan Bunyamin Davnie, bukan rahasia lagi. Davnie maju di pilkada Tangsel, jadi pasangan Airin D. Walau tak dapat dipastikan, arahnya diduga jelas. Kota Tangerang tinggal sendiri. Warga Banten pun pasrah, hanya doa yang bisa dilakukan.

 

Sumber Yang Sama

Pencoblosan ulang pilkada Pandeglang, tidak dapat dikatakan menghalangi cengkraman kelompok dominan. Karena, biar diulang, hitungan di atas kertas, Erwan-Iyet masih diduga menang.

Ini harus dilihat dari sisi penundaan kemenangan. Tertundanya Pandeglang punya bupati resmi, bukan penjabat Bupati. Karena penjabat Bupati tidak dapat mengeluarkan kebijakan strategis, termasuk di dalamnya menandatangani APBD Pandeglang 2011.

Bisa jadi Pandeglang tak punya APBD. Biar Erwan-Iyet terpilih, kunci kas daerah dipegang, isinya kosong. Tak ada dana pembangunan Pandeglang yang bisa dimanfaatkan untuk kampanye pilkada gubernur nanti. Biar menguasai jaringan birokrasi, tanpa uang, mana bisa jalan. Kelompok dominan harus mengeluarkan dana ekstra.

Pilkada ulang di Tangsel, benar-benar judi besar. Airin hanya menang 1.100 suara atas Andre Taulani. Tipis. Jika diulang, sangat mungkin berbalik posisi. Jika tipis lagi, bisa masuk MK lagi, diulang lagi.

Jika ingin menang telak, campur tangan harus besar. Lebih mudah terlihat. Masuk MK lagi, diulang lagi. Tidak ikut campur, siapa jamin? Memasrahkan kemenangan Tangsel? Sakit deh rasanya.

Dua daerah, Tangsel dan Pandeglang tak dikuasai benar. Ini semua ulah MK. MK di pusat. Pusat itu pemerintah. Pemerintah itu dipimpin SBY. SBY itu Demokrat. Demokrat tak harmonis dengan Golkar. Atut itu dari Golkar.

Kejagung berulah, Agus Randil dan Maman Suarta jadi tersangka. Agus Tauhid diperiksa, begitu pula dengan Djaja. Kajari Serang yang baru, Jan S Maringka tak ketinggalan berulah. Eko ditahan. Ino dan Marua dibayangkan orang Banten juga bakal ditahan. Diperiksa sih sudah.

Jika ditambah Winardjono, Shaleh MT, Eutik dan Zaenal Mustaqiem, maka menguatkan dugaan banyak orang. Para pengendali SKPD beranggaran empuk jadi sasaran hukum.

Akibatnya, walau positif buat masyarakat, ini menambah gentar pejabat untuk menyimpangkan anggaran. Di tahun 2011, banyak orang menduga pemanfaatan anggaran untuk kepentingan kampanye. Kelompok dominan dapat batu sandungan lagi.

Ini ulah Kejagung, ya di pusat dan Kajari baru dari pusat juga datangnya. Kalo pusat, ya pemerintah pusat pimpinan SBY yang pasti ada di Demokrat. Demokrat tak harmonis dengan Golkar. Atut itu dari Golkar.

Ternyata jalur itu berasal dari sumber yang sama. Ah, peristiwa apa antara Ani - Atut yang menyebabkan terlihatnya mendung. Simpul-simpul pun tercekat bisu. Hanya anggukan perlahan terlihat. Tiba-tiba gema badai terdengar kencang. WH bakal ke Demokrat!!!

Tapi, terserahlah alasan apa yang dipakai. Mau penegakan hukum, mau kepentingan politik 2011, kami sangat menikmati kelompok dominan panik. Kebahagiaan yang sekarang sulit didapat. Thanks God, sudah mampir ke ranah Banten.

 

BTW: sori, tulisannya panjang, analisanya dangkal. Sudah lama tak menulis.

(Lihat foto: Yang Penting Hasilnya)


Artikel ini memiliki: 23 KomentarMenarik +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »