Naturalisasi Riedl Buat Presiden 2014 • penulis: Marshall Rommel, 05 Desember 2010 11:09:07 • 45 KomentarMenarik +7

Timnas Sepakbola Indonesia sekarang bukanlah timnas Indonesia duapuluh, sepuluh, atau bahkan setahun lalu. Sejujurnya kita cukup kaget melihat pola permainan dalam dua pertandingan terakhir Piala AFF sewaktu melawan Malaysia dan Laos. Pemain Indonesia yang biasanya malas mengejar bola, kelelahan di babak kedua, serta patah semangat di ujung laga, tampil luar biasa kali ini. Hilang segala kemalasan, kelelahan, dan berganti semangat luar biasa dari awal hingga ujung pertandingan. Kemanapun bola dikejar tanpa kenal lelah, dan hasilnya sudah pasti luar biasa. Sebelas gol disarangkan dalam dua pertandingan membuktikan itu semua, sesuatu yang rasanya muskil dilakukan di waktu lalu, bahkan di kandang sendiri sekalipun.

Kebijakan naturalisasi pemain, sedikit banyak berpengaruh pada permainan timnas kali ini. Dua pemain 'cabutan' dari luar negeri yang bermain di liga lokal, 'El Loco' Gonzales dan Irvan Bachdim, seperti membawa darah segar yang mampu memotivasi pemain lain untuk bermain dengan penuh semangat. Para pemain yang malas mulai tersingkir sejak kehadiran mereka, digantikan pemain yang rajin menjemput bola seperti Oktavianus 'Okto' Maniani atau M. Ridwan. Namun tak kalah penting adalah sosok di balik kesuksesan timnas tersebut, siapa lagi kalau bukan Alfred Riedl, pelatih berdarah Austria yang membesut timnas Indonesia sejak bulan Mei 2010.

Semasa menjadi pemain, karir Riedl boleh dibilang tidak terlalu istimewa, hanya pernah menjadi top skor Liga Austria tahun 1972 bersama FK Austria Wina, dan Liga Belgia tahun 1973 dan 1975 bersama Sint-Truiden. Demikian pula semasa menjadi pelatih, karirnya juga relatif biasa-biasa saja, hanya terbilang cukup sukses mengangkat Vietnam dari lubang kubur ketika berhasil menjadi runner-up Piala Tiger tahun 1998. Kemudian setelah kembali lagi tahun 2005, dia berhasil membawa Vietnman hingga perempat final Piala Asia tahun 2007, sebelum dipecat akibat gagal membawa Vietnam ke final SEA Games dan hanya duduk di tempat keempat.

Bersama tim Indonesia, walaupun belum boleh dibilang sukses, setidaknya Riedl telah berhasil memoles timnas yang kelihatan pemalas dan tanpa motivasi menjadi timnas yang beringas dan penuh semangat, seperti yang ditunjukkan dalam dua pertandingan terakhir Piala AFF. Malaysia dihajar 5-1, sementara Laos yang menahan seri tim kuat Thailand 2-2 juga dilumat setengah lusin tanpa balas. Kerja keras yang ditunjukkan Riedl dengan dua pemain naturalisasi menumbuhkan semangat luar biasa buat para pemain lokal lainnya untuk bahu membahu mengangkat timnas Indonesia from zero to the hero.

Melihat negara Indonesia, sepertinya bangsa ini memang masih harus 'dikelola' orang asing untuk mengangkat Indonesia sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Naturalisasi atau perubahan kewarganegaraan orang asing menjadi WNI menjadi salah satu pilihan agar dapat menggunakan orang asing namun dengan bendera merah putih. Melihat kesuksesan (sementara) Riedl melatih timnas bersama dua pemain naturalisasinya, mengapa kita tidak mencari saja politikus berbakat di luar negeri untuk menjadi anggota partai di Indonesia, setelah lima tahun dinaturalisasi, kemudian mencalonkan diri menjadi Presiden 2014. Atau misalnya ketika Obama sudah tidak menjadi Presiden AS, suruh pensiun saja di Indonesia, kemudian lima tahun lagi dinaturalisasi, dan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia 2024.

Naturalisasi dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan semangat orang lokal dalam mengelola negara dengan sepenuh hati, bukan cuma mengeruk anggaran negara untuk kepentingan pribadi. Dengan naturalisasi, orang lokal yang pemalas dan culas diharapkan malu sendiri untuk tetap berbuat demikian, sementara orang rajin dan jujur semakin mendapat tempat di negeri ini.

(Lihat foto: Naturalisasi Riedl Buat Presiden 2014)


Artikel ini memiliki: 45 KomentarMenarik +7

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »