Politik Transaksional • penulis: Yudiantoro, 12 Agustus 2010 15:05:26 • 39 KomentarPenting +10

 

Sudah sering denger tentang politik transaksional, atau politik dagang sapi atau apapun namanya itu, tapi baru sekali ini denger langsung dari narasumber kelas A sebagaimana saya ceritakan di bawah ini:

Baru selesai rapat dengan petinggi Kementrian Keuangan (ngga sebut jabatan sama nama ya), selesai rapat beliau curhat mengenai pesimisme dia dalam melihat masa depan Indonesia baik secara internal maupun di mata internasional. Beliau menilai bahwa politik transaksional masih berlaku dan bahkan (menurut beliau) makin canggih dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Berbicara teori konspirasi, ada hal yang menarik yang selalu luput dari liputan media, yaitu terkait pembahasan RAPBN yang ternyata tidak luput dari politik transaksional. Mengapa? Karena ternyata pembahasan RAPBN bisa melakukan efisiensi yang signifikan dari nilai yang diajukan dari Pemerintah, Akan tetapi kenapa ternyata angka akhir APBN tidak berbeda jauh dari angka yang diajukan oleh Pemerintah sebelum berkonsultasi dengan DPR?

Hasil perasan/efisiesi anggaran tersebut tidak dikembalikan ke negara, melainkan di posting sebagai sebuah kegiatan yang kemudian merupakan 'hak milik' DPR. Kegiatan ini, menurut kabar, sudah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi ini mengikuti hal lain yang tidak kalah menarik:

Darimana asal ide dana aspirasi? Dana aspirasi (konon) merupakan upaya 'legalisasi' untuk menerima efisiensi RAPBN. Mengapa kemudian baru muncul saat ini? Konon kabarnya, terkait 'kecelakaan' saat pembahasan anggaran di DPR, bahwa dana yang dialokasikan hasil efisiensi RAPBN tersebut gagal terserap oleh mereka.

Diikuti pula dengan isu Sri Mulyani. Kenapa DPR begitu bencinya sama Sri Mulyani? Karena SM yang memperkenalkan dan mengimplementasikan Anggaran Berbasis Kinerja, sehingga seluruh kegiatan dalam APBN harus memiliki alas kegiatan. Kondisi semacam ini tentunya akan menghilangkan kesempatan oknum-oknum untuk bermain-main dengan angka dalam RAPBN.

-------------------------------------------------

Dari cerita sis internasional, sudah jadi rahasia umum kalo kita sudah bener-bener jadi 'hamba'nya Amerika, banyak sekali hubungan kerjasama kita yang diusik Amerika, termasuk klausul dari Bank Exim America bahwa kalo kita mau dapet pinjaman kita ngga boleh punya hubungan dagang denan Iran. Untung buat yang ini kita masih waras, alias kita masih mempertahankan hubungan dagang dengan Iran. Yang lebih gila, dan diketahui umum tentunya terkait penggantian Menteri Kesehatan, karena beliau mengusir kapal riset Amerika dari Indonesia. It's confirmed bahwa penggantian beliau karena desakan Amerika.

-------------------------------------------------

Agak sedih juga melihat raut muka sang petinggi Kementrian Keuangan (yang saya kenal cukup jujur ini) dengan muka sedih, karena artinya masa depan saya juga ikut menghitam, sehitam kumisnya Foke sama totol jidatnya Tiffi.

Sebenernya masih banyak cerita-cerita yang lain, termasuk transaksi senjata dengan negara yang dibenci bener sama umat islam Indonesia, tapi berhubung sangat sensitif dan ndak ada bukti konkritnya ya kita masukan gosip/background info saja

 

Gambar diambil dari sini

 

(Lihat foto: Politik Transaksional)


Artikel ini memiliki: 39 KomentarPenting +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »