Elegi untuk Para Penerima Bakrie Award
Bau busuk itu menyergap hidung..
Panas mentari menyengat kepala..
Kanan - kiri terhampar lautan lumpur
Nampak atap-atap rumah yang tenggalam
Ini Porong, Sidoarjo kawan.....
29 Mei 2006, banjir lumpur telah menghancurkan tanah ini
Sekolah, masjid dan pabrik pun tenggelam
Ini bukan hanya persoalan rumah dan tanah yang terendam
Ini soal peradaban yang dihancurkan
Namun di Jakarta, ada sebuah penghargaan yang dibagi-bagikan
Katanya,...
Untuk menghargai prestasi para cendikiawan,
Untuk mengembangkan dan memajukan kebebasan..
Untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan
Untuk mengembangkan dan memajukan pengetahuan di tanah air
Namun, kemana penghargaan bagi warga Porong, Sidoarjo?
Mereka yang kehilangan tanah dan rumahnya
Mereka yang setiap hari menghirup udara beracun,
Mereka yang harus menggunakan air tercemar,
Mereka yang terpaksa kehilangan sekolahnya,
Mereka yang terpaksa kehilangan tempat bermain,
Mereka yang terpaksa kehilangan rumah ibadahnya,
Mereka yang tiba-tiba kehilangan kasih sayang seorang ayah,
Mereka yang tiba-tiba kehilangan belaian lembut ibunya,
Ah..kebebasan macam apa yang kau katakana itu?
Kebudayaan macam apa yang hendak kau kembangkan itu?
Pengetahuan seperti apa yang hendak kau majukan itu?
Dan para penerima penghargaan itu adalah para cendikiawan..
Harusnya mereka kan bisa merasakan derita warga Porong..
Ya harusnya...tapi kenyataanya?
Hus..berhentilah bertanya..
Adalah hak mereka untuk menerima penghargaan itu
Adalah hak mereka untuk tidak peduli dengan korban lumpur
Adalah hak mereka untuk melupakan tragedi 29 Mei
Jika semua adalah hak mereka, lantas apa kewajiban mereka sebagai cendikiawan?
Oleh: Firdaus Cahyadi
note:
Elegi: Syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan duka cita
(Lihat foto: Elegi untuk Para Penerima Bakrie Award)
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Bagus +5