A Second Chance to Find True Love • penulis: iloenx, 26 Juni 2010 14:46:15 • 14 KomentarMenarik +4

Letters to Juliette adalah salah satu film yang saya rekomendasikan agar ditonton orang-orang tua. Lebih spesifik lagi, orang-orang tua yang memiliki utang yang belum dilunasi dengan masa lalu: Dulu, tak memiliki cukup keberanian untuk mengekspresikan, atau "nembak" (menurut terminologi remaja sekarang), cinta sejati. Film ini menawarkan sebuah jalan untuk mewujudkan impian masa lalu pada kesempatan kedua. What if you had a second chance to find true love?

Saya kemarin nonton film ini secara tidak sengaja. Gak niat, sebetulnya. Saya bahkan telat lima sampai sepuluh menit masuk bioskop setelah film diputar. Ketika saya masuk, film sudah sampai pada adegan ketika pasangan tunangan baru asal New York, Sophie Hall dan Victor, melakukan perjalanan prabulan madu ke Italia. Pasangan ini digambarkan begitu serasi, saling mencintai dan mengumbar janji sambil membayangkan akan menikmati bulan madu yang sangat berkesan. Tetapi, seperti syair sebuah lagu cengeng di tahun jadul itu, '... janji-janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi...' keduanya tercerai perbedaan kepentingan. Victor asyik dengan pekerjaan, sedang Sophie menemukan keasyikan sebagai penulis yang memiliki level curiousity tinggi. O ya mereka, mungkin, memang menikmati masa bulan madu itu, tetapi menjalaninya secara sendiri-sendiri.

Kisah cinta Sophie - Victor dan kemudian berubah menjadi menjadi kisah percintaan ala Romeo & Juliette antara Sophie dan Charly, seorang keturunan aristokrat Inggris, merupakan satu dari dua kisah cinta yang dikemas film ini. Ini mungkin tema yang tentu diminati kaum muda dan menjadi daya tarik bagi mereka untuk menikmati film drama komedi romantis satu ini. Tetapi, sesuai dengan niat awal saya menulis note ini untuk para orang tua yang berutang dengan masa lalu, saya ingin secara khusus mengulas kisah cinta yang satu lagi: kisah cinta Claire Smith-Wyman dan Lorenzo Bertollini.

Claire dan Lorenzo saling menemukan cinta sejati mereka di tahun 1957 (saya berharap ada di antara warga P yang mengalami hal serupa di tahun 50-an, 60-an atau 70-an itu, ha...). Waktu itu Claire, yang diperankan sempurna oleh Vanessa Redgrave, satu-satunya aktris Inggris yang pernah meraih tiga penghargaan bergengsi: Academy Award, Golden Globe dan Emmy Award, masih berusia 15 tahun. Saat berkunjung ke Italia, Claire remaja bertemu Lorenzo, dan merasakan itu sebagai cinta sejati pada pandangan pertama seperti cinta sejati Juliette Capulet saat bertemu Romeo Montague. Tetapi, tak seperti Juliette dan Romeo yang berani mengambil keputusan demi cinta mereka, Claire waktu itu terlalu takut untuk mempertahankan cinta itu. Ia meninggalkan Lorenzo dan kembali ke Inggris. Selain itu, ia meninggalkan sepucuk surat curhat di dinding Rumah Juliette di Verona.*)

Surat Claire ditemukan Sophie secara tidak sengaja saat ia membantu para Sekretaris Juliette melakukan kerja amal menjawab surat-surat untuk Juliette. Sophie kemudian membalas surat Claire dengan cukup panjang, tetapi dengan satu kalimat kunci yang sangat berkesan: what if you had a second chance to find true love? Iya, bagaimana jika sekarang kau mendapatkan kesempatan kedua untuk menemukan cinta sejati?

Kalimat kunci itulah yang menyalakan kembali bara cinta yang tersimpan di hati Claire selama 50 tahun. Diantar sang cucu, Charly, ia kembali ke Italia untuk menemukan Lorenzo-nya. Proses pencarian yang dilakukan Claire dibantu Charly dan Sophie ini dikemas apik sehingga bukan hanya tak membosankan tetapi bahkan memberi sentuhan komedi yang tidak lebay, tetapi segar. Juga mengharukan. Dan romantis. Terutama ketika akhirnya Claire dan Lorenzo bertemu, secara tidak sengaja, di sebuah kebun anggur yang terkesan sangat simbolik.

Paling Sial

Sekeluar dari gedung bioskop, saya tiba-tiba ingat Soe Hok-Gie. Aktivis mahasiswa di tahun 60an itu memiliki filosofi hidup yang dituangkan dalam tiga kalimat lugas. Teman-teman tentu masih ingat, tetapi tetap saya kutipkan lagi di sini: paling bahagia tidak dilahirkan; yang kedua mati muda; paling sial umur tua.

Mungkin karena sudah kadung dilahirkan, Hok-Gie rupanya 'memilih' mati muda. Ia terhindar dari kesialan yang dibayangkannya akan sangat menghantui ketika memasuki usia tua. Tetapi, benarkah umur tua itu sebuah kesialan?

Saya ingat prinsip filsafati lain yang lebih menarik: menjadi tua itu keniscayaan; tetapi menjadi dewasa itu sebuah pilihan. Orang-orang (berusia) tua, saya kira, mengalami kesialan hanya jika mereka tidak mau memilih menjadi dewasa. Dalam kehidupan sosial politik, kita menemukan banyak contoh: mereka yang masih saja ingin maju dalam pemilihan presiden, gubernur atau bupati, padahal sudah saatnya mereka beristirahat di rumah sambil menimang cucu; mereka yang menjadi politisi koboi dan memainkan kekuasaan untuk memperkaya diri seraya lupa bahwa negeri ini bukan warisan nenek moyang mereka sendiri; mereka yang berada di birokrasi dan masih juga melakukan tindak korupsi, padahal jatah hidup di dunia mungkin tinggal hitungan hari.

Dalam kehidupan personal, saya kira, Claire memberikan contoh bagaimana menjadi dewasa dengan menemukan cinta sejati pada kesempatan kedua. Film ini, tak pelak lagi, patut ditonton orang-orang tua, para lansia, yang dulu merasa hanya sekadar menyimpan cinta platonik.**)


*) Saya tidak bermaksud mengatakan orang Italia sama seperti Malaysia yang suka ngeklaim kebudayaan orang lain sebagai budaya sendiri, tetapi untuk kisah cinta abadi Romeo & Juliette, mereka ternyata memiliki sense of humor yang tinggi. Buktinya, mereka mengklaim Juliette punya rumah di Verona. Bahkan saat berargumen dengan Charly, yang asli Inggris, para sekretaris Juliette itu tak malu-malu mengakui bahwa Romeo dan Juliettee itu kisah legendaris asli Italia, berasal dari verona, dan ditulis oleh penulis besar yang sangat Italiano bernama Williammo Shakespiarro, ha..... senang juga menyaksikan Charly hanya bisa mingkem dalam argumen itu.

**)disclaimer: saya tak dibayar produser Letters to Juliet untuk menulis ini....

(Lihat foto: A Second Chance to Find True Love)


Artikel ini memiliki: 14 KomentarMenarik +4

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »