Ranah media Indonesia akhir-akhir ini betul-betul dihiasi dan dinominasi akan 2 hal. Yang pertama tentunya perhelatan akbar di Afrika Selatan sana, Piala Dunia, dan satu lagi tentang hebohnya perkembangan kasus video seks Ariel. Porsi-porsi pemberitaan yang sesungguhnya tak kalah penting, seperti dana aspirasi Rp 15 M, lanjutan sidang Bit-Chan vs Anggodo, Partai Demokrat dan pemilihan anggota2nya, KPK menangkap basah auditor BPK yg menerima gratifikasi di Bandung, rekening milyaran milik pejabat tinggi POLRI, dll, malah seolah tenggelam di balik hiruk pikuknya liputan akan 2 hal tersebut.
Okelah untuk Piala Dunia memang selalu bgtu dari masa ke masa. Pertunjukan kelas dunia seolah memberikan air bagi dahaga bangsa ini akan sepakbola yang bermutu (dibanding sepakbola bangsa sendiri tentunya). Campuran aroma bisnis & patriotisme seolah teramu dahsyat di perhelatan ini.
Namun, kasus video seks Ariel? Kenapa bgtu heboh? Membaca artikel bung Fello Citizen (http://politikana.com/baca/2010/06/22/menggugat-televisi-indonesia.html), sepertinya memang media sangat berperan dalam hal ini. Siapa sih Ariel? Pejabat kah dia? Politisikah dia? Herannya banyak dari kita seolah jadi polisi moral dalam hal ini. Ada banyak tanggapan yang saya jumpai di jejaring sosial yang menyikapi semua ini dengan nada yang skeptis, ironis & nyinyir bahwa betapa kita terkadang menutup mata dan hanya berani melihat kuman di seberang lautan, tapi seolah menolak besarnya gajah di depan kita.
Ariel tersangka karena ia benar sebagai pelaku seperti dugaan polisi?
Komentar salah seorang teman begini :
"Kalau di senayan sana, buat video pribadi yg erotis ndak bkal dipenjara. Pdhal dah beristri lagi laki2nya. Kalau di luar senayan, jgn harap diperlakukan sama. Dah dihujat, didemo, diinterogasi, dipenjara lagi. :P "
Ingat kasus YZ & ME? YZ itu kalau saya tidak salah adalah Kabid Kerohanian Golkar (!!!). Cerita kelanjutannya hilang bgtu saja. ME? Mau jadi Ca.Bup kan?
Kenapa ME tidak didemo FPI or ormas sejenisnya? YZ kenapa tidak didemo di daerah pemilihannya? (CMIIW dalam hal ini ya.. :P)
Lalu pastinya semua tahu kalo dah kejadian begini, semua sibuk mempersoalkan akhlak bangsa yang remuk redam karena idola anak mudanya doyan seks bebas. Gak sesuai budaya timur lah, ga sesuai dengan identitas bangsa lah, menyalahi agama lah, itu budaya barat, de el el..
Budaya Timur? Budaya Barat? Hold on.. baca twitter-an dari salah satu yg saya follow:
"Rakyat di USA sewot kalo politisi punya cacat moral. Sekali mereka kedapatan kasus, maka mereka akan dikuliti di media. Banyak contohnya."
"Bill Clinton dulu sempat proses impeachment, cuma gara2 ketahuan selingkuh dengan Monica Lewinski. "
"Banyak senator2 yg hancur karir politiknya sejak ketahuan punya selingkuhan atau cacat moral. Yang terbaru: John Edwards"
"Tapi untuk artis/seleb mah mereka gak pasang standar tinggi. Kalo selingkuh atau punya sex tape, mereka cuma pikir: "namanya juga artis"
"Tapi sepertinya rada kebalik di Indonesia, kita menuntut artis kita punya moral, tapi politisi gak kita pasang standar yg sama."
I agree fully for that. Moral pejabat/politisi diperbolehkan brengsek, moral artis tak boleh bejat di negeri ini?
Lalu, siapa yang mesti menjalankan roda pemerintahan? Artis ya?
Bill Clinton kan pd masanya yg menjalankan roda pemerintahan USA? Bukan si Paris Hilton, pun skandal video seksnya heboh!
Obama kan? Bukan Tiger Woods dengan para mistresses-nya?
Sehingga pastinya jadi muncul kesimpulan bahwa semua seputar Ariel & video seksnya sesungguhnya mungkin hanya penetralisir atas beberapa isu yang tengah gencar berjalan. Seperi twitteran dari beberapa orang ini:
"Penahanan pemusik itu tdk lbh dari upaya pengalihan issue dr kasus2 korupsi & rekayasa bombastis. Well, plg tdk kali ini tdk dgn tembak2kan "
"Seandainya ditemukan video porno dgn tokoh Anggodo, mungkin orang2 alim akan tertarik kpd kasus rekayasa hukum yg jahat itu."
Sedemikian ironiskah bangsa ini? Salah siapa? Media yang sudah terkontaminasi kepentingan politik? (Kasi tau saya kalo TVOne-ANTeve-Vivanews ada memberitakan penolakan bung GM terhadap Bakrie Award & hujatan/penolakan thd Lapindo + Dana Aspirasi 15M ) Salah kita juga kah sebagai bangsa timur yang berusaha mempertahankan adat ketimuran? (Timur mana sih? Jepang aja produsen bokep terbesar di Asia! Thailand bangga dengan industri sex mereka! Di Timur Tengah, tarian perut yang terbuka adalah bagian dari seni budaya!) Kalau soal moral, bukankah sudah rahasia umum kalo pejabat/politisi yang korup itu sama dengan moral bejat? Lalu kenapa tidak ada demo besar2an dari para moralis itu terhadap mereka?
Tambahan lagi, ada 2 menteri yang menyikapi video seks ini dengan pernyataan-pernyataan yang kontra-produktif. Menkominfo (yahhhh.. dia lagi - jd inget thread saya sebelumnya :P) lebih suka menyikapi video porno daripada ngurusin IT murah untuk rakyat. Dan betapa tertinggalnya kita dari negeri2 tetangga dalam hal ICT. Kita sangat tertinggal dalam E-Readiness, bahkan di Asia Tenggara. (http://www.ejisdc.org/ojs2/index.php/ejisdc/article/viewFile/219/184) Apa ia takut dihujat kalo semua rakyat bisa internet, terus video/situs porno merajalela (Mohon pencerahan donk atas logika ini :P).
Mendiknas sibuk menyuruh razia handphone yang memuat video seks itu daripada mikirin kenapa banyak siswa yang bunuh diri karena tidak lulus UN, ato ngurusin sarana/prasarana pendidikan yang njomplang di daerah sana, ato apa kabar tuh 20% APBN utk Pendidikan? Parahnya pencegahan lewat misalnya Sex Education seperti diabaikan oleh para petinggi. Mgkn menurut mereka (Mendiknas & Menteri Pemberdayaan Wanita) biarlah belajar seks cari tau sendiri, lewat orang tua (saya mah ogah nanya2 ke ortu soal sex), teman (hmmm... rawan ini), atau mencari sndiri (ah kan salah lagin nanti, kalau ketauan buka situs porno & nonton BF!).
Bukankah lebih baik preventif & edukatif daripada reaktif & represif? Atau kita lebih suka menghujat/menghukum daripada mencegah/mendidik?
Berikut saya petik ada satu artikel karya Sudirman Nasir, seorang kandidat PhD di School of Population Health, Universitas Melbourne - Australia (Semoga lulus cum laude bila angkat topik soal 2 menteri itu!! :P), yang saya petik dari sumber ini : http://berita.liputan6.com/kolom/201006/282723/Video.Seks.dan.Sikap.Reaktif.Pejabat
Video Seks dan Sikap Reaktif Pejabat
-Sudirman Nasir-
Beberapa hari terakhir ini banyak tanggapan muncul mengiringi beredarnya video seks yang diduga melibatkan tiga pesohor di Indonesia. Kecaman bermunculan terhadap pelaku, pengunggah dan pengedar video seks itu, begitu pula kekhawatiran terhadap dampak video seks yang telah tersebar dan dengan mudah ditonton para remaja dan anak-anak di bawah umur itu. Semua itu tentu wajar saja, mengingat masalah seks dan seksualitas memang merupakan hal peka di Tanah Air. Namun yang patut disayangkan adalah sikap reaktif dan tidak rasional yang diperlihatkan sejumlah pejabat tinggi kita dalam menanggapi video seks itu.
Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring bahkan secara serampangan menyatakan kasus video seks itu "mirip" dengan kasus Nabi Isa AS dan Yesus (Liputan 6, 18 Juni). Pernyataan tidak sensitif dan kontroversial yang tentu saja kemudian dicerca dan disayangkan banyak orang, terlebih karena dilontarkan seorang menteri. Apalagi karena sebelumnya Sembiring memang telah cukup dikenal sering menarik kesimpulan prematur seperti ketika November lalu ia menghubungkan kejadian bencana alam dengan masalah moralitas. Baru-baru ini ia juga kembali melontarkan kesimpulan melompat bahwa menonton pornografi terkait langsung dengan pewabahan HIV, dan menyatakan dana untuk penanggulangan HIV bisa dikurangi, padahal sejumlah penelitian menunjukkan dana yang ada untuk penangguulangan HIV dan AIDS saat ini jauh dari memadai (The Jakarta Globe, 18 Juni).
Sejumlah kalangan seperti pendidik maupun peneliti dan aktivis kesehatan reproduksi telah memberikan tanggapan lebih konstruktif terhadap kasus video seks itu misalnya lewat imbauan semakin perlunya menggencarkan pendidikan seks khususnya kepada anak-anak dan remaja sehingga dampak buruk video seks dan pornografi bisa ditekan. Namun sikap reaktif juga ternyata diperlihatkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh. Nuh menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendidikan seks di sekolah-sekolah. Nuh bahkan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap dampak positif pendidikan seks dan mengungkapkan bahwa masalah seks bisa diketahui secarah alamiah oleh anak-anak dan para remaja.
Nuh lebih memilih mengimbau para guru di sekolah-sekolah melakukan langkah-langkah represif dengan menggencarkan razia terhadap telepon seluler para siswa (The Jakarta Post, 11 Juni). Sejumlah sekolah diberitakan telah melakukan razia telepon seluler, beberapa di antaranya bahkan melakukannya pada saat jam-jam belajar. Sikap reaktif Nuh ini sangat ironis mengingat posisinya sebagai Menteri Pendidikan. Sikap reaktif serupa telah diikuti sejumlah pejabat di daerah. Sejumlah pemerintah kabupaten dan kota telah menyatakan akan mencekal ketiga pesohor yang diduga terlibat dalam video seks itu untuk melakukan kegiatan keartisan di daerahnya.
Ketidakpercayaan Menteri Pendidikan kita terhadap dampak positif pendidikan seks perlu mendapatkan perhatian lebih karena sikap ini diametral berhadapan dengan bukti-bukti penelitian ilmiah di bidang kesehatan masyarakat (public health evidence) yang melaporkan pentingnya peran pendidikan seks dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif dan sehat terhadap masalah-masalah seks, seksualitas, kesehatan reproduksi dan relasi di kalangan anak-anak dan remaja. Laporan-laporan berkala lembaga-lembaga dunia seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO), Unicef maupun UNAIDS menunjukkan besarnya peran pendidikan seks dalam mengurangi mitos dan kesalahpahaman mengenai seks, seksualitas dan masalah-masalah kesehatan reproduksi sekaligus ikut berperan mengurangi kejadian kehamilan di usia dini, kehamilan tidak diinginkan dan tidak direncanakan, juga kejadian infeksi menular seksual khususnya di kalangan anak-anak muda. Tak terhitung banyaknya publikasi mengenai dampak positif pendidikan seks bagi anak-anak dan remaja di jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku akademik kesehatan masyarakat dan kedokteran hingga tulisan-tulisan populer di media-media massa.
Susan Moore dan Doreen Rosenthal dalam Sexuality and Adolescence: Current Trends (2007) secara lebih spesifik menunjukkan, di masa ketika teknologi informasi makin maju seperti saat ini, semakin mendesak memberikan informasi, pengetahuan dan lingkungan yang mendukung (enabling envrionment) bagi anak-anak dan remaja untuk bertumbuh-kembang secara sehat sebagai makhluk sosial maupun biologis. Moore dan Rosenthal terutama menitik-beratkan pentingnya peran sekolah, keluarga, teman sebaya, media massa, teknologi informasi dan juga kebijakan pemerintah untuk menyediakan lingkungan yang mendukung anak-anak dan para remaja untuk mendapatkan informasi, pengetahuan dan sikap positif mengenai masalah-masalah seks, seksualitas, kesehatan reproduksi maupun relasi sosial. Moore dan Rosenthal mengajukan banyak bukti di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang betapa sikap reaktif, represif dan tidak rasional terhadap masalah-masalah seks, seksualitas dan kesehatan reproduksi bisa berakibat merugikan bagi pertumbuhan anak-anak dan remaja.
Dalam konteks Indonesia, pendidikan seks terhadap anak-anak dan remaja semakin penting karena masih banyaknya mitos maupun kesalahpahaman mengenai seks, seksualitas dan kesehatan reproduksi bukan hanya di kalangan anak-anak dan remaja melainkan juga di kalangan orang-orang dewasa. Sebagian besar orang-orang tua juga masih merasa tabu dan tidak siap melakukan komunikasi mengenai masalah seks dengan anak-anaknya. Akses anak-anak dan remaja terhadap teknologi informasi merupakan hal bermata dua, di satu sisi positif karena membuat mereka bisa menjangkau informasi yang lebih luas namun di sisi lain apabila tidak dibekali pengetahuan memadai mereka bisa termakan informasi-informasi menyesatkan (termasuk informasi menyesatkan dalam hal seks dan seksualitas). Pendidikan seks di sekolah (dengan catatan tersedia fasilitas dan para guru dengan pengetahuan memadai mengenai masalah seks, seksualitas dan kesehatan reproduksi) merupakan salah satu jalan keluar.
Menteri Pendidikan Nasional dan pejabat-pejabat lain seharusnya belajar lebih banyak pada pengalaman negara-negara lain bahwa sikap reaktif, tidak rasional, dan represif gagal menghasilkan dampak positif. Ahli pendidikan Arief Rachman misalnya telah mengingatkan pemerintah bahwa ada lima pendekatan yang seharusnya dilakukan terhadap anak-anak dan remaja yakni memberikan informasi mengenai hal baik dan buruk, edukasi sehingga mereka bisa berpikir dan melakukan hal-hal baik, penanaman nilai lewat cara alternatif (olahraga, permainan, rehabilitasi), serta langkah terakhir represif (hukuman), misalnya, merazia. Sikap reaktif dan serta merta melompat ke langkah represif seharusnya dihindarkan.
nah, saya kasih deh penutup artikel ini (lagi2) dengan status twitter dari teman sebelah :
"Dgn cerita horor kita takut-takut asyik. Dgn perkara sex kita cemas-cemas asyik: kita pun mengintip, lalu memaki, lalu mengintip lagi."
"Semoga selama alami cobaan tahanan ini, Ariel bisa ciptakan lagu bagus yg bakal nge-hit. Jangan mau kalah ama Anang donk. :D"
(Lihat foto: Video Seks & Reaksi Kita Semua :))
Artikel ini memiliki: 23 Komentar • Menarik +5