TIDAK seperti biasanya, jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun tangan, selalu pihak yang didukungnya akan menang. Misalnya dalam Munas Partai Golkar beberapa waktu lalu. Aburizal Bakrie (Ical) yang didukung SBY, ternyata menang atau berhasil menyingkirkan Surya Paloh, sehingga sekarang Ical menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Saat Hatta Radjasa mencalonkan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) yang dan waktuj itu bersaing dengan Drajad H Wibowo. Kembali Hatta menang secara aklamasi karena di tengah jalan Drajad memilih mundur. Ini juga kabarnya berkat dukungan SBY kepada Hatta Radjasa.
Hal yang sama juga terjadi ketika KH Said Aqiel Siradj hendak maju menjadi kandidat Ketua Umum PBNU. SBY kembali memberi dukungan kepada Said Aqiel Siradj. Indikasinya adalah dengan diundangnya Said Aqiel Siradj ke kediaman Presiden di Puri Indah, Cekeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Dan ketika pemilihan Ketua Umum PBNU dilaksanakan, sebagaimana kita ketahui, Said Aqiel Siradj mampu mengalahkan lawannya dan akhirnya terpilih jadi Ketua Umum PBNU. Rabu (19/5), kabarnya calon Ketua Umum DPP Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng diundang ke Puri Indah, Cikeas. Orang lantas menafsirkan bahwa Andilah orang yang dipilih SBY untuk menggantikan Ketua Umum Hadi Utomo.
Tentang dukungan SBY kepada Andi juga dibenarkan Freddy Numberi. Dan biasanya, jika seseorang didukung SBY selalu memenangkan pertarungan politik. Faktanya? Ternyata bukan saja Andi tidak terpilih. Namun jago SBY itu ternyata terpental pada putaran pertama. Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa Andi sampai terpelest, dan mengapa pula perhitungan SBY kali ini keliru? Inilah yang menarik bahwa fatwa SBY ternyata tidak semuanya berhasil mulus. Kenyataannya, Andi yang disebut-sebut mendapatkan dukungan SBY harus tergeletak. Apakah ini tanda-tanda kejatuhan SBY? Jawabnya mungkin saja! Jika ucapan atau pun arahannya sudah tidak direspon, bagaimana mungkin SBY masih akan berdiri tegak.
Tidak hanya itu, Partai Demokrat ke depan pun bakal mengalami masa-masa suram. Karena partai tersebut terhitung partai baru yang kekuatannya belum mengakar seperti partai lainnya, misalnya Partai Golkar dan PDIP. Selama ini yang diandalkan Partai Demokrat adalah figure SBY dengan segala macam citra dirinya. Sosok pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur (Jatim) itulah yang menjadi magnit bagi partai tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin magnit tersebut dapat berlaku efektif, ketika terhadap para kadernya saja sudah tidak digubris. Mengapa? Karena dalam pemilihan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, arahan SBY agar para kader mendukung Andi tidak dilirik sama sekali. Sebab Andi sudah terpental pada putaran pertama. Dan justeru kandidat lain yang kurang diperhitungkan, yakni Marzuki Alie malah mendapatkan suara cukup signifikan.
Maka sebagaimana kita katakan di atas kejadian di Kongres II Partai Demokrat di Bandung adalah merupakan cerminan bahwa sosok SBY sudah tidak laku lagi dijual. Sekaligus kita pun meragukan akan keberlangsungan Partai Demokrat itu sendiri ke depan. Sebab dengan memudarnya citra SBY, hampir pasti akan diikuti memudarnya Partai Demokrat. Lagi pula, partai tersebut bukanlah partai kader, tetapi partai yang memenangkan Pemilu dalam keadaan serba kebetulan. Dalam pertarungan politik yang lebih adil dan menafikan soal keberuntungan, mungkinkah Partai Demokrat masih akan menjadi pemenang? Sulit rasanya keinginan itu tercapai. Bahkan bukan mustahil ke depan Partai Demokrat bakal terseok-seok!
[SUMBER]
Pengaruh SBY sudah tidak kuat lagi dalam pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat.
KEMENANGAN Anas Urbaningrum dalam pemilihan Ketua Umum DPP Partai Demokrat 2010-2015 di Padalarang, Bandung, tadi malam, menegaskan bahwa penggunaan politik pencitraan yang keliru ternyata dapat menjadi blunder politik yang fatal.
Dalam kompetisi meraih kursi Demokrat-1 itu, Anas unggul secara meyakinkan setelah bersaing dengan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng dalam dua putaran pemungutan suara. Pada putaran pertama, Anas meraih 236 suara (45%) mengungguli Marzuki Alie yang memperoleh 209 suara (40%), dan Andi Mallarangeng 82 suara (16%). Pada putaran kedua, Anas meraih 280 suara (53%) mengungguli Marzuki yang meraih 248 suara (47%).
Pengamat politik Yudi Latif mengatakan politik pencitraan yang direpresentasikan Andi Mallarangeng tidak efektif dan mengalami kekalahan telak sejak dari babak pertama. Menurut dia, politik pencitraan tidak dapat dipakai begitu saja dalam kampanye partai. "Itu kesalahan fatal. Itu kampanye yang terlalu mengandalkan pencitraan secara eksesif," ujar Yudi tadi malam.
Pencitraan yang dilakukan Andi, menurut Yudi, hanya menimbulkan perlawanan akar rumput, yaitu DPD dan DPC Partai Demokrat. "Itu menimbulkan situasi diam-diam semangat melawan dari bawah, karena AM (Andi Mallarangeng) terlalu mengandalkan restu dari atas (Cikeas)."
Andi, menurut Yudi, percaya diri berlebihan dengan dukungan Cikeas. "Seolah restu SBY akan sangat efektif setelah diwakili anggota keluarga Cikeas, Edy Baskoro."
Menurut Yudi, pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat sudah tidak cukup kuat dalam pemilihan ketua umum partai. Ada kesadaran pengurus daerah bahwa figur SBY mulai memudar. "Pengurus-pengurus di tingkat cabang sadar pada 2014 SBY tidak akan lagi jadi presiden dan figur sentral," ujar Yudi.
Sementara itu, pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti menyatakan bahwa SBY merupakan masa lalu bagi Demokrat. Kekalahan Andi dalam putaran pertama menegaskan bahwa PD semakin independen.
Kolaborasi
Dalam pernyataan pertama sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas mengatakan, "Inilah kemenangan demokrasi. Tidak ada perpecahan. Tidak ada hard feelings. Pak Andi dan Pak Marzuki adalah kader terbaik. Kami bertiga akan tetap memajukan Demokrat," ujar Anas tadi malam. Tak lupa ia juga mengundang semua pihak untuk berkolaborasi.
Sementara itu, Andi mengakui kekalahannya dan menyatakan mendukung siapa pun yang terpilih sebagai ketua umum. Sebelum pemungutan suara babak kedua, Andi mengarahkan dukungannya kepada Marzuki.
Salah seorang tim sukses Marzuki Alie, Achsanul Qosasih, mengatakan SBY terbukti tidak mampu membendung Anas. "Ya, ini kekalahan Cikeas. Inilah kalau memberi dukungan itu setengah-setengah hati," kata Achsanul.
[SUMBER]
---------------------
Roda tak selamnya berputar di atas, matahari tak selamanya bersinar di langi, ada waktunya di terbenam ... sebab, dunia itu hanyalah panggung sandiwara, kehidupan duniawi hanyalah permainan. Oleh sebab itu, jangan suka bermain-main atau mempermainkan orang lain, agar jangan menjadi pecundang di atas dunia ini.
(Lihat foto: Betulkah Kekalahan Andi Mallarangeng, Tanda-tanda Jatuhnya SBY?)
Artikel ini memiliki: 17 Komentar • Menarik +5