Pilkada Sleman, Potret Pelecehan Suara Rakyat • penulis: Lantip, 27 April 2010 10:44:10 • 34 KomentarPenting +10

Sudah beberapa lama saya ingin menuliskan hal ini, sudah beberapa lama pula ternyata saya tidak menulis di rubrik politikana. Genap setahun Politikana, saya persembahkan tulisan ini, potret pendidikan politik yang tidak berjalan di masyarakat.

Pemilihan Kepala Daerah sebentar lagi berlangsung di Sleman Yogyakarta. Terdaftar 6 (enam) 7 (tujuh) pasangan yang akan berlaga dalam pemilihan ini. Geliat kampanye masing-masing calon semakin terasa seiring semakin dekatnya perhelatan besar tersebut.

Tak kurang, tadi pagi pintu rumah didatangi tamu, menyampaikan keinginannya untuk menempelkan stiker salah satu pasangan. Ketika ditolak dengan halus, muncul pula represi halus bahwa hal itu "keharusan" dengan menggunakan kalimat,"semua orang di daerah ini menempelkan stiker ini". Sebagai pendatang baru, istri saya memilih untuk menuruti dengan syarat kami menempel sendiri stiker tersebut. Jadilah, pintu kami terhiasi oleh stiker yang sama sekali tidak nyeni, dan hanya bisa berharap angin segera menerbangkannya. Kami menempelkan stiker itu di kertas, baru pakai isolasi kecil sekali ditempelkan ke pintu, kawir-kawir kalau istilah orang Jogja :)

Terlepas dari itu, satu hal yang menjadi keprihatinan saya. Saya merasa ada penghianatan kepercayaan masyarakat namun nampaknya justru didukung oleh partai-partai yang secara arogan menyatakan diri sebagai wakil suara rakyat. Salah seorang calon bupati yang mendapat dukungan cukup kuat tak lain adalah dia yang pada pemilu 2009 kemarin mendapat kepercayaan masyarakat untuk menjabat sebagai anggota DPD.

Kepercayaan Masyarakat sudah dikapitalisasi

Itulah yang terlintas di pikiran saya. Dengan mengantongi kepercayaan masyarakat, besarnya dukungan dari pemilu sebelumnya, tak malu sang anggota DPD yang baru terpilih mengajukan diri sebagai calon bupati Sleman. Atau mungkin tidak mengajukan diri, saya tidak peduli, yang pasti dia menetapkan diri ikut andil dalam laga pemilihan kepala daerah ini.

Tidak gelisahkah hatinya karena dia sama sekali belum membuktikan kinerjanya di tempat dimana masyarakat mempercayakan mandatnya? Periode 2009-2014 sebagai anggota DPD, ditinggalkan begitu saja bahkan di awal masa jabatan untuk maju ke pemilihan kepala daerah.

Dalam kepala saya terbayang jawaban klise,"masyarakat mempercayai saya untuk menjadi kepala daerah, saya tidak bisa menolak". Dan saya sudah siap dengan satu teriakan atas hal itu,"BOHONG BESAR!". Masyarakat sudah mempercayai Anda untuk menjabat sebagai anggota DPD Sleman, Anda semena-mena meninggalkannya begitu saja, apa jaminannya Anda tidak akan meninggalkan kerja sebagai kepala daerah untuk berbisnis atau berlaga di arena politik baru?

Yang mengherankan nampaknya tidak ada yang memprotes. Hingga saat ini pasangan tersebut masih mendapat dukungan dari mana-mana, bahkan anggota DPD lain yang juga ikon kota Yogya tak malu menampilkan dirinya di spanduk kampanye pasangan ini, sungguh mengenaskan.

Apatisme Fatalis

Demikian saya menyebut kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini menyebut dirinya aktivis sosial. Tidak ada suara satupun yang cukup nyaring menyuarakan tentang pengkhianatan ini. Bahkan tidak satu beritapun saya temui memprotes kehadiran sang anggota DPD di jajaran calon bupati Sleman.

Apakah memang sudah sedemikian parah tingkat apatisme kita? Tidak adakah yang berusaha melakukan civic/voter education mengenai betapa parahnya pengkhianatan ini? Atau memang suara-suara yang selama ini terdengar kritis itu hanyalah suara-suara pesanan? Ada uang anda meradang sok merakyat?

Tidak ada kata lain yang bisa saya susun kalau nanti anggota DPD ini terpilih sebagai bupati Sleman selain kata "bencana sosial" bagi masyarakat Sleman.

Apa yang bisa kita lakukan? Sayapun hanya bisa menuliskannya di sini :(

 

nb: terimakasih untuk @herylink untuk koreksinya :) ps: tadi awalnya sudah 7, terus googling cepat lha kok nemunya 6 yang ikut debat hehe.. terimakasih sekali lagi


Artikel ini memiliki: 34 KomentarPenting +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »