Bagi sebagian orang mungkin tidak mengerti apa pentingnya kenaikan peringkat utang dari BB ke BB+ oleh lembaga rating Fitch. Rating AAA+ pun tidak penting bagi orang yang tidak punya utang. Tetapi, untuk pemerintah yang gemar berutang, hal ini adalah luar biasa artinya, berutang akan lebih mudah lagi. Antara tahun 2004 hingga 2009 pemerintah SBY telah menambah utang 400 trilyun rupiah, atau rata-rata 80 trilyun rupiah setiap tahunnya dalam 5 tahun terakhir ini. Utang digunakan untuk menutup kekurangan pembiayaan APBN karena pemasukan dari pajak dan pungutan lainnya tidak cukup. Pembiayaan defisit dalam APBN dikenal juga dengan kebijakan ekspansi moneter. Pemerintah meyakini bahwa konsumsi mempunyai efek penggandaan untuk mendorong perkembangan ekonomi.
Bagi pemerintah, Surat Utang Negara (SUN) merupakan mukjizat yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Semacam obat mujarab yang murah. Pemerintah mengeluarkan SUN, Bank Indonesia bersiap sedia membeli sebagian SUN (dengan mencetak uang baru) sehingga mendorong harga surat berharga pemerintah naik, yang artinya turunnya hasil imbal (yield), atau hasilnya utang dengan bunga rendah. Uang baru di sistem perbankan menekan rendah suku bunga kredit perbankan dan efek multiplier pengeluaran pemerintah sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ketika potensi produksi dari kebanyakan ekonomi di berbagai belahan dunia mengalami kontraksi, Indonesia tampil berbeda dengan pertumbuhan ekonomi 4,4% di tahun 2009. Tetapi prestasi ini mengabaikan perbedaan antara pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan oleh meningkatnya kapasitas produksi dalam ekonomi atau hanya sekedar ekspansi permintaan. Kita semua tahu bahwa tahun 2009 adalah masa PEMILU, masanya bagi-bagi uang gratis. Pesta demokrasi membutuhkan belanja kampanye yang besar yang tidak produktif, konsumtif dan mendorong inflasi. Bukankah Demokrasi dan Kapitalisme ibarat dua sisi mata uang rupiah yang nilainya terus menurun?
Menurut hitungan Departemen Keuangan angka inflasi tahun 2009 adalah 3% yang merupakan hitungan dengan derajat kredibilitas tergantung dari mana kita melihatnya. Ibu rumah tangga melihatnya dari apa yang dapat dibeli dengan uang yang ada di tangan, ekonom menyebutnya daya beli uang. Berapa daya beli uang 10.000 rupiah? Pada tahun 2004, di pasar tradisional BSD, dengan 10.000 rupiah seorang ibu rumah tangga bisa:
Membeli 2 L minyak goreng
atau 0,8 kg daging ayam
atau 1,8 kg telur ayam
atau 0,5 kg daging sapi
Lima tahun kemudian di tempat yang sama, dengan 10.000 rupiah, ia hanya bisa:
Membeli 1,2 L minyak goreng
atau 0,4 kg daging ayam
atau 0,9 kg telur ayam
atau 0,25 kg daging sapi
Dalam lima tahun, Daya Beli Uang terpotong hampir separuhnya berlaku untuk semua komoditi makanan di atas, dan tidak berbeda jauh dengan bahan makanan lainnya secara keseluruhan. Secara agregat, harga berubah hanya karena ada dua alasan:
- Jika suplai uang meningkat, harga-harga akan naik dan jika suplai uang menurun, harga-harga akan turun.
- Jika permintaan uang (uang yang dipegang/ditahan) meningkat, harga-harga akan turun dan jika permintaan uang (uang yang dipegang/ditahan) menurun, harga-harga akan naik.
Daya beli uang bertolak belakang dengan suplai uang, dan berbanding lurus dengan permintaan uang. Daya beli masyarakat menurun indikasi meningkatnya peredaran uang. Seharusnya, tidak ada penurunan daya beli masyarakat secara berarti apabila angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi benar adanya. Uang akan mengejar produk-produk baru.
Kemungkinan yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama ini lebih karena pemanfaatan kapasitas yang masih di bawah tingkat normal, dan ekspansi permintaan yang disokong oleh paket moneter dan fiskal yang meningkatkan aktifitas ekonomi. Tetapi semakin ekonomi mendekati kapasitas penuh, semakin menambah efek pada produksi barang-barang riil menjadi lemah dan efek pada harga-harga menjadi kuat. Akhirnya, akan mencapai titik dimana ekspansi moneter hanya membuat efek inflasi terhadap harga, dan dampak pada produksi riil menjadi nol koma nol.
Kembali ke tahun 2008, dunia uaha menghadapi kenyataan bahwa tiba-tiba sejumlah besar perusahaan mengalami kerugian. Ini bukan fluktuasi usaha yang berhubungan dengan jiwa kewiraswastaan pengusaha yang membedakan antara satu usaha dengan usaha lainnya, untung, rugi atau impas. Bila terjadi secara gabungan maka yang terjadi adalah suatu siklus usaha, yaitu pasang atau surutnya usaha (boom or bust), dan ketika itu adalah masa surut secara keseluruhan. Dalam keadaan surut setiap perusahaan yang rasional akan melakukan efisiensi, atau disebut rasionalisasi. Kegiatan usaha melemah dan bank-bank menghadapi masalah kredit macet. Dalam keadaan krisis ekonomi, bank-bank berusaha menarik kredit-kredit bermasalahnya dan menahan diri dalam menyalurkan kredit baru. Ekonomi terancam resesi.
Keadaan demikian disebut siklus usaha karena masa perputaran yang pasti terjadi pada dunia usaha. Sama halnya dengan musim panas akan datang setelah musim hujan. Dalam pasar bebas, konsumen menginginkan maksimum efisiensi. Pada masa pertumbuhan, ekspansi kredit menghasilkan beberapa kesalahan alokasi modal yang menghasilkan pemborosan investasi. Resesi sebenarnya adalah proses dimana ekonomi melakukan penyesuaian terhadap pemborosan dan kesalahan yang terjadi pada saat ekonomi tumbuh, dan menetapkan kembali pelayanan yang efisien sesuai keinginan konsumen. Proses penyesuaian ini adalah likuidasi secara cepat investasi yang boros dengan menelantarkan secara keseluruhan atau mengalihkan penggunaannya untuk yang lain. Dengan kata lain, resesi adalah proses pemulihan ekonomi dan akhir dari resesi menandakan kembalinya ke keadaan yang normal, dan menuju efisiensi yang optimal. Oleh karena itu, resesi adalah suatu keharusan dan berfaedah dalam mengembalikan ekonomi menuju normal sesudah terjadi distorsi pada saat pertumbuhan ekonomi. Pasang ekonomi, karenanya, mensyaratkan penyurutan ekonomi.
Ketika distorsi ekonomi masih sedikit, maka hanya resesi kecil yang dibutuhkan untuk mengoreksi kesalahan alokasi ini. Namun, daripada hal itu terjadi, Bank Indonesia dan Departemen Keuangan paham bahwa sedikit stimulus fiskal atau moneter kadangkala sudah cukup untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi dan memperoleh pujian atas prestasi murahan ini. Tahun 2009 pemerintah mengeluarkan stimulus moneter dan fiskal sebesar Rp. 71,3 trilyun untuk kembali menunda resesi di masa pemilu. Bagaimana mungkin pemerintah yang berkuasa mau bertarung di masa resesi? Tetapi, dengan terus menunda kedatangan resesi maka otoritas moneter kian menumpuk beragam distorsi ekonomi hingga suatu saat menjadi begitu besar dan tidak terelakkan.
Distorsi utama datang dari utang pemerintah. Utang demi utang mengacaukan kalkulasi berusaha. Pengusaha dalam berinvestasi memperhitungkan tingkat laba yang berlaku yang terefleksi dari tingkat suku bunga yang berlaku di pasar uang (utang). Tingkat suku bunga yang berlaku di pasar menggambarkan tingkat suku bunga murni tambah/kurang resiko usaha dan komponen daya beli masyarakat. Tetapi, yang terpenting adalah tingkat suku bunga murni yang mencerminkan proporsi konsumsi dan tabungan masyarakat atau preferensi jangka waktu uang di masyarakat. Tingkat suku bunga murni akan rendah apabila proporsi menabung lebih besar daripada konsumsi, preferensi waktunya rendah. Begitu juga sebaliknya, tingkat suku bunga murni akan tinggi apabila proporsi menabung lebih kecil daripada konsumsi, preferensi waktunya tinggi.
Ketika uang baru hasil penjualan surat utang negara masuk ke dalam sistem perbankan, terjadi penurunan suku bunga kredit. Di permukaan tampaknya seperti dana masyarakat untuk investasi bertambah, karena efeknya sama dengan bertambahnya tabungan masyarakat untuk investasi yang menurunkan suku bunga bank. Pengusaha terkecoh dengan inflasi kredit perbankan dengan menyangka persediaan tabungan masyarakat lebih besar daripada sesungguhnya. Dengan menyangka struktur permodalan jangka panjang yang kuat yang ditopang oleh rendahnya preferensi waktu dan besarnya tabungan dan investasi masyarakat, pengusaha dan investor terkecoh untuk berinvestasi di barang dan pasar modal. Ketika inflasi kredit ini mulai dibayarkan kepada faktor-faktor produksi dan mulai mengalir ke masyarakat umum, maka bentuk sesungguhnya proporsi konsumsi-investasi masyarakat terbentuk kembali. Imbasnya adalah terjadi kegagalan investasi menyeluruh, ekonomi menuju depresi.
Menghadapi ancaman depresi, otoritas moneter selama ini mempertahankan kenaikan tingkat suku bunga dengan memilih membanjiri ekonomi dengan uang pengeluaran defisit hasil utang baru di atas tumpukan utang lama. Yang terjadi adalah modal hilang, sementara beban utang terus bertambah. Tinggal tunggu waktu ketika inflasi tidak terbendung dan pemerintah tidak mampu membayar utang yang jatuh tempo. Siapa bilang resiko utang pemerintah rendah? Apakah anak-cucu kita mau menanggung utang yang hasilnya tidak ada dan tidak pernah mereka nikmati?
Artikel ini memiliki: 6 Komentar • Menarik +2