Batavia dan Merpati • penulis: lucky luke, 21 Maret 2010 18:06:52 • 32 KomentarMenarik +6

Pekan lalu, saya melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa maskapai yang berbeda. Saat berangkat dari Jakarta ke Surabaya, Sabtu (13 Maret), saya naik Batavia Air. Batavia salah satu maskapai yang sering delay. Pengalaman saya, 2-3 kali naik Batavia mengalami keterlambatan. Tetapi, maskapai ini cukup menyadari kewajibannya, dan saat keterlambatan melebihi 30 menit, penumpang mendapat jatah snack dan minuman di ruang tunggu.

Pada perjalanan Sabtu itu saya lega karena pemberitahuan boarding dilakukan beberapa menit sebelum jadwal. Saya piker, pesawat berangkat on schedule. Seluruh tempat duduk saat itu terisi penuh. Tetapi setelah seluruh penumpang duduk di dalam pesawat, cukup lama menunggu, dan pesawat tidak juga bergerak. Sekitar 15 menit kemudian terdengar suara pramugari mengumumkan, bahwa pesawat tidak bias lepas landas karena padatnya lalu lintas pesawat yang landing dan take off di Soekarno – Hatta. “Pesawat diperkirakan baru bias take off sekitar 30 menit lagi,” ujar sang pramugari.

Penumpang pun berdesah resah. Tetapi, apa boleh buat, selama 30 menit itu penumpang hanya menunggu dan menunggu. Hanya saja, pihak maskapai masih tetap ingat kewajibannya, memberikan jatah snack dan minuman tidak lama kemudian, sesuai ketentuan Menteri Perhubungan.

Dari Surabaya, saya kembali ke Jakarta naik pesawat Merpati, Kamis (18 Maret). Kapasitas hanya terisi separo. Padahal, harga tiket jauh lebih murah dibanding Batavia. Saya dapat tiket seharga Rp 250 ribu. Keberangkatan tepat waktu. Pelayanan di dalam pesawat juga masih seperti dulu: penumpang dapat snack dan minuman.  Pokoknya, Merpati cukup oke dibanding maskapai yang (mestinya) sekelas dia, seperti Mandala dan Lion. Mungkin masih lebih baik dibanding Batavia, Sriwijaya, juga Adam dan Bouraq yang sudah cukup lama mati.

Tetapi mengapa Merpati tidak begitu diminati? Saya tidak tahu. Saya rasa setelah memiliki pengalaman panjang dalam usaha ini, manajemen Merpati mestinya bisa lebih kaya inovasi dalam manajemen dan marketing. Tetapi, mengapa mereka terkesan masih jauh tertinggal dibanding maskapai Lion atau Mandala?

Selain itu, setelah  menjadi anak perusahaan Garuda dan masuk dalam jaringan BUMN, Merpati mestinya bisa lebih membangun kecintaan rakyat. Jika rakyat menggunakan jasa BUMN, lalu keuntungan BUMN itu meningkat, maka yang menikmati adalah Negara. Dan uang Negara itu akhirnya nanti terpulang kembali untuk rakyat juga. Adapun jika rakyat menggunakan jasa perusahaan swasta, apalagi swasta asing, maka keuntungannya untuk pemiliki modal saja. 

Saya tidak tahu, mungkin seharusnya manajemen Merpati (juga BUMN) pada umumnya yang bergerak di sector usaha yang sangat kompetitif, mestinya lebih agresif dalam komunikasi yang membangun kecintaan kepada usaha (dan produk) milik Negara. Di sisi lain, rakyat harusnya lebih berkesadaran untuk semaksimal mungkin memilih jasa dan produk dalam negeri, lebih-lebih yang ditawarkan oleh perusahaan milik Negara.  Dengan begitu, kita untung, Negara juga untung…..

Disclaimer: maaf saya tidak dibayar Negara untuk menulis ini.

 

(Lihat foto: Batavia dan Merpati)


Artikel ini memiliki: 32 KomentarMenarik +6

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »