Walaupun sudah lewat hampir dua minggu silam, International Java Jazz Festival 2010 yang digelar di Kemayoran Jakarta, tetap masih menorehkan kenangan dan kekaguman bagi para antusias musik jazz khususnya di Indonesia. Jazz up life for three days 5 s/d 7 Maret 2010, diwarnai musisi-musisi ternama Internasional seperti John Legend, Tony Braxton, Jason Mraz, Manhattan Transfer, Bob James, Kenny “Babyface” Edmonds dll. Kedatangan para musisi jazz besar dunia dalam ajang musik jazz Internasional ini, sama sekali tidak dihinggapi rasa khawatir atas ketidakstabilan politik di Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini.
Meskipun banyak musisi kesohor mancanegara yang hadir di perhelatan musik jazz tersebut, bukan berarti para musisi Indonesia kehilangan pamor, bahkan penampilan mereka mampu menyedot banyak penonton dengan sambutan yang luar biasa meriah, diantaranya ada Ecoutez, Syaharani, Parkdrive, Glenn Fredly, Pasto, Bhaskara, Dian Pramana Poetra dll. Penonton ternyata berduyun-duyun bahkan berdesak-desakan menikmati aksi dan penampilan para musisi Indonesia, bahkan boleh dibilang sebuah fenomena yang menakjubkan, ternyata mereka datang bukan karena faktor musisi mancanegara, tetapi juga musisi lokal. Sudah saatnya musisi Indonesia mendapat tempat dan porsi yang lebih besar di acara-acara Internasional lainnya yang serupa.
Di Indonesia sendiri musik jazz berkembang dengan berbagai improvisasi, termasuk menyertakan instrumen-instrumen musik etnik tradisional, seperti Kua Etnika (Djaduk Ferianto), Batuan Ethnic Fusion (I Wayan Balawan), Dwiki Dharmawan dengan Krakatau, Vicky Sianipar dll. Mulai tahun 90-an hingga sekarang banyak sekali musisi dan kelompok musik jazz terbentuk. Jazz tidak lagi dibawakan mainstream, namun hasil distilasi berbagai musik seperti fusion, acid, pop, rock bahkan etnik. Mereka berekplorasi lebih jauh dengan elemen-elemen menarik dari musik etnis.
Musik tradisional Bali, Jawa, Sunda, Batak, Minang dll yang unik dan langka dikombinasikan dengan musik jazz modern, sambil melestarikan lagu-lagu daerah dengan aransemen musik modern, kadang memiliki elemen yang kuat dalam improvisasi, sehingga sering menunjukkan dinamika, ritme dan tempo yang sering berubah drastis sebagai suatu karakteristik dari instrumen gamelan misalnya. Pagelaran dan provokasi yang paling gencar menampilkan ethnic jazz music, di akhir tahun 70-an adalah Kang Harry Roesli Alm, beliau dikenal sebagai Doktor Musik Kontemporer.
Contoh (clip) etnik musik bernuansa jazz :
Gambar: dari sini
JJF 2010 Jadi Festival Jazz Terbesar di Dunia
Info lengkap Java Jazz Festival 2010 disini
(Lihat foto: Sekilaf info dari Java Jazz Festival 2010)
Artikel ini memiliki: 8 Komentar • Menarik +3