"Gitu,ya, modelnya !Gak balas sms!" kataku kepada seorang kolega melalui sms. Kesel, karena beberapa smsku tak ditanggapi."Yo iyah, titenono!" sms ku lagi.
"Lagi nyuci,Om!" akhirnya dia membalas.
"Hari gene, laki-laki mencuci?" ledekku.
"Gak ada yang salah,kan ?" balasnya.
Aku tersenyum. Susah membayangkan kolegaku itu yang senengnya jalan-jalan ke sana ke kemari (sok sibuk), ngurus ini-itu, dll,dll. Pendek kata dia adalah seorang laki-laki yang "ringan kaki", tapi kok masih mau "membantu" istri. Aku geleng-geleng kepala !
Namun, gelenganku berhenti manakala membaca sms terakhir itu. Ya, membantu istri memang tidak salah. Mencuci baju anak dan istri memang tidak salah. Sepertinya, tak ada konstitusi yang mengatur pembagian tugas antara istri dan suami.
Bahu-membahu, agaknya menjadi kata kunci. Saling mengisi adalah aktualisasinya. Andai negara ini dikelola seperti ini, mungkin tak perlu berulangkali tersuruk. Kesadaran bahwa negara itu sebuah keluarga, agaknya perlu dikembangkan. Mungkin selama ini kita lupa, bahwa kita sebuah keluarga. Masing-masing ingin menang sendiri. Maka kemauan dan kemampuan mendengarkan sama pentingnya dengan kemauan dan kemampuan berbicara.
Pemimpin harus mau mendengar suara rakyat. Memang tak cukup mendengar saja, tetapi juga harus menindaklanjutinya. Demikian pula rakyat, harus mau mendengarkan pemimpin sekaligus melaksanakan yang menjadi arahan dari pemimpin.
Dan "lelaki pencuci" tadi seakan membuka mata.bersama lebih baik dari sendirian. Kebersamaan akan membangun pengertian. Pengertian akan membangun harapan. Sedangkan kesendirian mungkin hanya akan mendatangkan "makian"....
Artikel ini memiliki: 84 Komentar • Lucu +9