Jangan Ada Kuda Troya Dalam Tubuh KPK • penulis: Amstrong Sembiring, 18 Maret 2010 00:41:04 • 0 KomentarPenting +3

Posisi Tumpak Hatorangan selaku plt. Ketua KPK yang tidak lagi punya dasar hukum, ikut membuat lambat proses hukum kasus Century. Bila DPR  memilih ketua baru, jangan sampai jadi kuda troya masuknya kepentingan tertentu. Demikian kata Febri Diansyah, peneliti ICW, dalam diskusi bertajuk ‘Siapa Saja Perampok Uang Rakyat dalam Kasus Bank Century?’. Diskusi berlangsung di Kantor LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakpus, Rabu (17/3/2010). Di dalam pasal 25 ayat 3 UU 10/2004 tentang Peraturan Perundang-undangan, tegas dinyatakan bahwa perpu - dalam hal ini penganggkatan Plt. Ketua KPK- otomatis tidak berlaku ketika DPR memutuskan untuk menolaknya.

Istilah Kuda Troya atau dalam ekonomi disebut free rider untuk menggambarkan timbul akibat Property Right yang tidak berjalan dengan benar. Salah satu ciri property right adalah hak dan kewajiban atas sesuatu yang menjadi property right hanya akan ditujukan kepada pemiliknya. Misalnya property right atas rumah. Yang berhak menempati dan berkewajiban membayar pajak adalah si pemilik rumah. Bukan orang lain. Ketika sesuatu tidak memiliki ciri property right ini, timbullah free rider. Misalnya nilai kerja kelompok. Pekerjaan individu dalam kelompok manfaat dan nilainya tidak langsung ditujukan kepada individu tersebut, tetapi menjadi nilai kelompok. Karenanya selalu ada saja orang-orang yang kontribusinya kurang dari yang lain dan mendapatkan nilai yang sama. Beberapa diantaranya bahkan tidak memberikan kontribusi apapun. Disini jelas terlihat persamaan antara ciri free rider dengan ciri orang yang tidak dewasa. Free rider mendapatkan manfaat dengan harga yang tidak setimpal. Free rider membiarkan orang lain yang menanggung akibat atas perbuatannya. Free rider tidak mengakui hal yang menjadi tanggung jawabnya.

Sedangkan, di bidang teknologi, Trojan horse atau Kuda Troya atau yang lebih dikenal sebagai Trojan dalam keamanan komputer merujuk kepada sebuah bentuk perangkat lunak yang mencurigakan (malicious software/malware) yang dapat merusak sebuah sistem atau jaringan.

Modus Operandi

Dalam suatu peristiwa besar dan sangat penting “kasus sensual” yang menghebohkan, selalu ada pihak-pihak “berbagai macam profesi” yang ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk berbagai motif di dalamnya, kalau penulis istilahkan adalah sebagai Kuda Jingkrak. Motivasinya bermacam-macam dan atau singkatnya sikap-perilaku-Nya, terkesan kuat “ada udang dibalik batu”. Sehingga yang benar-benar mempunyai idealisme menyelesaikan permasalahan malah terkadang menjadi terabaikan gara-gara ada yang menyalip di tikungan. Akhirnya timbullah berbagai kecurigaan, mengapa hanya satu pihak saja yang diuntungkan, mengapa pihak lain yang justru lebih dirugikan tidak diungkap dan dihebohkan.

Sebagaimana, penggunaan istilah Trojan atau Trojan horse atau Kuda Troya   dimaksudkan untuk menyusupkan kode-kode mencurigakan dan merusak di dalam sebuah program baik-baik dan berguna; seperti halnya dalam Perang Troya, para prajurit Sparta bersembunyi di dalam Kuda Troya yang ditujukan sebagai pengabdian kepada Poseidon. Kuda Troya tersebut menurut para petinggi Troya dianggap tidak berbahaya, dan diizinkan masuk ke dalam benteng Troya yang tidak dapat ditembus oleh para prajurit Yunani selama kurang lebih 10 tahun perang Troya bergejolak.

Kita percaya bahwa kalangan professional, pers, sebagian politisi, LSM, gerakan moral dan sebagainya selama ini masih memiliki itikad baik dalam posisinya sebagai media kontrol pemerintah. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengendalikan suatu isu agar tidak menjadi bola liar dan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu demi kepentingan sangat pragmatis “memuakkan“. Kasihanilah rakyat! Kasihanilah Masyarakat luas, oleh karena “uang rakyat atau hak rakyatmenjadi terserobot oleh kepentingan yang lagi-lagi hanya mengurusi diri sendiri atau golongan atau sekelompok atas nama rakyat.

Kita tahu benar, bahwa untuk mendeteksi keberadaan Kuda Troya (Trojan) merupakan sebuah tindakan yang agak sulit dilakukan. Meski cara termudah adalah dengan melihat port-port mana yang terbuka dan sedang berada dalam keadaan listening“, dengan menggunakan utilitas tertentu semacam Netstat. Hal ini dikarenakan banyak Trojan berjalan sebagai sebuah layanan sistem, dan bekerja di latar belakang (background), sehingga Trojan-Trojan tersebut dapat menerima perintah dari penyerang dari jarak jauh.

      Oleh karena itu, Kuda Troya akan selalu menjadi virus dalam suatu momen dan tidak akan dapat dihilangkan. Namun demikian kita bisa mengontrolnya agar virus tersebut tidak menyebar kemana-mana dan mempengaruhi logika atau opini publik untuk kepentingan “golongan atau sekelompok” tertentu. Namun demikian, pada akhirnya juga  masyarakat luas (red, rakyat) menentukan penilain-Nya. Sebagaimana adagium sering di  kumandangkan oleh para politisi gedung bundar tersebut, yakni berbunyi Bukankah Suara Rakyat adalah Suara Tuhan  (Vox populi, vox dei).

   

(Lihat foto: Jangan Ada Kuda Troya Dalam Tubuh KPK)


Artikel ini memiliki: 0 KomentarPenting +3

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »