Beberapa tabloid dan acara infotaiment televisi mengungkapkan biaya pernikahan Ardi Bakrie, anak Aburizal Bakrie, dengan artis Nia Ramadhani menelan biaya hingga Rp. 100 milyar. Meskipun mendapat bantahan dari pihak keluarga kedua mempelai, kabar itu tentu membuat kita, minimal saya, rakyat Indonesia mengerutkan dahi. Kalau benar menelan biaya Rp.100 milyar, seperti apa ya kira-kira kemewahan acaranya? wuih tidak bisa membayangkan...
Karena tidak bisa membayangkan itulah, tiba-tiba dipikiran saya terlintas nama Mbok Jumi. Lho siapa lagi tuh Mbok Jumi?
Mbok Jumi adalah pengungsi korban lumpur di Sidoarjo. Perempuan itu berusia 52 tahun. Pada Minggu, 30 November 2008 silam, Mbok Jumi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dunia dengan tetap menyandang status sebagai korban lumpur.
Bulan Juni 2008, Mbok Jumi mulai merasakan sakit luar biasa di perutnya. Sakit di perutnya itu yang kemudian menghantarnya menghadap Sang Pencipta. Pada saat itu keluarga Mbok Jumi membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo. Sekitar dua minggu Mbok Jumi dirawat di rumah sakit itu. Namun, karena tak mampu membiayai ongkos rumah sakit, keluarga Mbok Jumi membawanya pulang ke pengungsian korban lumpur di Pasar Baru Porong.
Keluarganya pun pasrah. Selanjutnya, Mbok Jumi dirawat dengan menggunakan pengobatan alternative seadanya. Celakanya, dalam keadaan sakit kronis seperti itu Mbok Jumi masih terpaksa melewati hari-harinya di pengungsian korban lumpur.
Luapan lumpur di Sidoarjo telah menghancurkan rumah Mbok Jumi di Desa Renokenongo. Menurut penuturan Sugiyat, anak tunggal Mbok Jumi, seperti yang ditulis di web korban Lapindo, rumah keluarganya terendam lumpur setelah muncul ledakan pipa gas Pertamina. Namun, air yang telah menggenangi rumahnya sejak hari pertama munculnya semburan lumpur memaksa keluarga tersebut meninggalkan rumahnya untuk menjadi pengungsi.
Lho apa hubungannya pernikahan Ardi Bakrie yang digosipkan menghabiskan uang Rp.100 miliar dengan nasib pilu Mbok Jumi sebagai korban lumpur Lapindo?
Tulisan ini tidak bermaksud menghubung-hubungkan antara keduanya. Tulisan ini hanya sebuah ungkapan kegelisahan betapa ketimpangan begitu menganga di negeri ini. Di satu sisi orang dengan mudah menghabiskan ratusan juta bahkan sampai ratusan miliar hanya untuk sebuah pesta pernikahan. Namun di sisi lain ada seorang warga masyarakat yang tidak sanggup membayar ongkos rumah sakit, yang mungkin tidak sampai puluhan juta.
Apakah sejarah kehidupan manusia selalu diwarnai dengan ketimpangan seperti ini? Apakah sejarah kehidupan manusia selalu diwarnai dengan kesombongan orang-orang kaya dalam mempertontonkan kekayaannya di tengah ketidakberdayaan orang-orang miskin dan tertindas?
(Lihat foto: Pernikahan Rp.100 Milyar?)
Artikel ini memiliki: 44 Komentar • Menarik +9