Maaf agak berlawanan dengan mainstream Politikana. Saya cuma orang awam dan bukan berprofesi sebagai pengajar. Globalisasi telah begitu jauh dampaknya terhadap kehidupan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang demikian pesat. Kurikulum di sekolah sekolah dipacu untuk mengejar ini, namun yang terjadi banyak anak yang kurang sanggup mengikuti agar tidak tertinggal. Distraction, terutama dari televisi, facebook, game dan twitter telah menyita waktu sebagian besar ABG kita. Terus bagaimana langkah kita menghadapinya?
Apakah esensi pendidikan? IMHO, pendidikan adalah untuk membuka cakrawala kita terhadap dunia, meng-upgrade diri kita menjadi insan berpengetahuan, dan esensi terhadap semua itu adalah membaca. "Bacalah", kata Al Qur'an. "Pikirkanlah penciptaan di langit dan bumi", kata Al Qur'an. Untuk membaca dan berpikir kita memerlukan akal dan bahasa, dan kadang kadang hati yang jernih, the rest are commentary.
Manusia tidak seragam. Setiap individu memiliki bakat dan kemampuan masing masing, dengan minat yang berbeda beda pula. Ada yang berbakat seni, berbakat sains, berbakat dagang, berbakat tukang, berbakat pencitraan dan bahkan berbakat jadi koruptor dan sebagainya.
Namun, untuk menghadapi dunia, mereka perlu bahasa, bahasa yang akan membuka cakrawala mereka terhadap dunia. Bahasa yang diperlukan contohnya adalah:
Matematika, dan Bahasa untuk komunikasi sehari hari dan bahasa umum yang dipakai dalam komunikasi ilmiah dan perdagangan internasional (Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dll)
Matematika bukan ilmu, matematika adalah bahasa. Ilmu contohnya adalah fisika, biologi, teknik kimia dan sebagainya
Dengan kemampuan berbahasa ini, para pelajar memiliki bekal hidup untuk memahami apa yang sedang dibicarakan orang (lisan dan tulisan), apa yang tertulis dalam angka angka, membaca manual operasi gadget yang baru dibeli, dan bagaimana membaca tulisan atau postingan di Politikana, misalnya.
So, menurut saya, pilihan awal dahulu hanya 3 pelajaran yang diuji dalam ujian nasional adalah tepat, karena hanya mengetes esensi pendidikan, yaitu keterampilan membaca. Dan menurut saya, pelajaran wajib sebaiknya pun hanya 3 dari SD sampai SMA, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sisanya adalah tergantung bakat si anak, dan sumber daya yang tersedia di sekolah (termasuk kemampuan si guru). Sang anak bisa belajar seni gambar, pertukangan, musik dan sebagainya. However, nggak mungkin kita meng-cover semua keinginan dan bakat si anak.
Memang, pelaksanaan UN/UAN banyak dikritik karena merangsang praktik kecurangan di sekolah. Namun, itu bukan salah UN/UAN-nya, tapi salah manusianya (guru, ortu dan murid). Ada rasa malu kalau sekolahnya gagal dalam UN/UAN, sehingga guru pun banyak yang jadi joki.
UN/UAN perlu untuk mengetahui gambaran pendidikan nasional, selama mata ujinya jangan banyak banyak, cukup 3 aja, hanya untuk melihat kesiapan SDM Indonesia membaca dunia.
Silakan dibantai atau dirating hitam. Gambar diambil dari sini
(Lihat foto: Politik Pendidikan: "Kemampuan bahasa" first, the rest are commentary)
Artikel ini memiliki: 37 Komentar • Penting +7