Bawal di Akuarium • penulis: Mbah Darmo, 11 Maret 2010 09:24:42 • 40 KomentarBagus +9

Saudaraku™, sebulan terakhir ini aku mengamati salah satu ikan yang dipiara anakku di akuarium. Ikan itu sejatinya bukanlah jenis ikan hias, tetapi ikan konsumsi yang dipaksakan untuk hidup berdampingan dengan ikan hias. Kehadirannya pun juga tidak sengaja, datang sebagai “hadiah” lotere anakku dari arena pergelaran wayang di kampung neneknya dalam acara bersih desa tempo hari.

Ketika datang sebulan lalu, ikan bawal air tawar (Colosoma macropomum) itu ukurannya tak lebih besar dari sebutir koin lama seratus rupiah. Diwadahi kantong plastik yang jamak digunakan untuk bungkus gula seperempat kiloan. Jadi Anda bisa membayangkan betapa kecil ukuran ikan itu. Hanya karena perasaan iba sajalah maka ikan itu tidak kami campakkan ke selokan, tetapi oleh anakku justru dimasukkannya ke dalam akuarium. Dari sinilah awal dari serangkaian keunikan itu muncul.

Ketika masih kecil, bawal itu tak ubahnya seperti ikan silver dollar (Characiformes) yang setahun lebih dulu menghuni akuarium itu. Di antara silver dollar yang pipih ukurannya selebar tutup gelas itu, bawal itu nampak seperti anak kecil yang bercanda dengan kakaknya. Hanya saja, meski secara fisik sangatlah mirip, yang membuatnya beda adalah agresivitasnya. Pembawaan silver dollar yang tenang itu berbanding terbalik dengan si bawal yang hiperaktif, terutama ketika serbuk pelet ditaburkan.

Hanya selang dua minggu, mulai tampaklah perbedaan keduanya. Sifat bawal yang agresif dan rakus itu membuat akselerasi pertumbuhan fisiknya jauh melebihi penghuni akuarium yang lain. Tak sampai satu bulan menghuni kotak kaca itu, dimensinya telah menyamai silver dollar yang setahun lebih kami piara.

Akselerasi pertumbuhan fisik bawal itu akhirnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan yang sangat mencolok dengan silver dollar itu. Baik dari sisi anatomis maupun perilakunya dibanding dengan penghuni akuarium yang lain. Baru sebulan sejak kedatangannya, bawal itu kini mendominasi. Ukuran mulut yang jauh lebih lebar ditambah dengan kegesitannya dalam melahap setiap taburan pelet membuat ukuran fisiknya menjadi semakin bongsor, nyaris dua kali lipat ukuran si silver dollar.

Tak hanya bongsor dan rakusnya saja yang menjadi perhatian kami sekeluarga, juga kelakuannya yang menjengkelkan karena ia tercatat sebagai ikan yang paling sering memuncratkan air keluar akuarium setiap kali pelet ditaburkan. Yang membuat akuarium semula sangat tenang itu kini lebih sering bergolak. Meski demikian, kami tak buru-buru untuk menyingkirkannya, karena diam-diam ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk menunggu keunikan apa lagi yang akan dipertontonkannya.

Di luar perilaku agresif bawal itu, ternyata ada nuansa ketidakseimbangan yang menyelimuti akuarium. Penghuni lain nampak selalu kalah dalam setiap perebutan pelet dengan bawal itu. Akibatnya, beberapa di antaranya nampak murung di sudut-sudut, bahkan kadang tak bereaksi apa pun ketika pelet kami taburkan. Puncaknya, suatu pagi kami menemukan beberapa di antaranya mati setelah didahului dengan kemurungan sistemik yang melanda akuarium itu sebulan terakhir. Kuamati ikan yang murung lalu mati itu, tubuhnya kurus dan di akhir hayatnya ia bergerak lamban tak selincah sebelum kedatangan pengacau akuarium itu.

Dalam hal piara-memiara ikan di akuarium itu , anakku memang tidak selektif dengan jenis ikan yang layak untuk dipiara dalam lingkungan mikro itu. Jenis ikan apa pun dia masukkan, sesukanya. Ketika hasil nyerok di kali sebelah kampung itu ia mendapatkan wader, kotes, atau anak mujair, maka ikan-ikan tradisional itu pun juga diberinya hak yang sama untuk menghuni akuariumnya. Justru dari sikapnya yang egaliter dalam hal seleksi penghuni akuarium inilah saya mendapatkan obyek yang sungguh menarik untuk dicermati.

Pelajaran yang dapat dipetik dari dunia kecil yang bening itu adalah bahwa keseimbangan yang sudah terbangun dapat serta-merta guncang hanya karena kita salah dalam mengelola para penghuninya. Bawal memang bukanlah jenis ikan yang bisa berubah jinak beradaptasi dengan lingkungan mikro yang berbeda dengan khittah-nya. Meskipun dikurung dan disatukan dengan penghuni yang jinak gemulai, bawal itu tetap saja tumbuh sebagaimana alam memerintahkannya. Liar dan rakus, untuk kemudian tumbuh bongsor dan siap memasok protein bagi manusia yang memeliharanya.

Mencermati akuarium itu, bayangan saya segera terlempar ke sebuah ruang besar berhawa sejuk, beratap bak kura-kura hijau yang tengah pulas tertidur. Yang di dalamnya dihuni oleh orang-orang dengan segala kompleksitas latar belakang. Ketika lingkungan mikro itu bergolak, atas nama dinamika atau retorika, maka dari sanalah segera akan nampak jelas sebuah tontonan betapa manusia-manusia terpilih itu berasal dari golongan silver dollar ataukah bawal. Kelakuan nir-santun yang sungguh mengharukan. ***

 

Yogyakarta, 11 Maret 2010.

Foto appear courtesy: zonaikan.wordpress.com

(Lihat foto: Bawal di Akuarium)


Artikel ini memiliki: 40 KomentarBagus +9

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »