Orang Jawa Cinta Kemiskinan & Penindasan • penulis: faizal assegaf, 09 Maret 2010 06:41:47 • 21 KomentarMenarik +3

Dua puluh tahun lalu, ketika pertama kali tiba di Pulau Jawa, saya terkagum dengan keindahan Jakarta. Kota dengan sejuta harapan dan menyimpan berbagai impian. Namun seiring dengan waktu yang berjalan, saya mulai jenuh bercampur prihatin.

Anggapan saya, mungkin kalau pergi ke pinggiran Jakarta, atau ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa, lebih menarik dan manusiawi. Ternyata, apa yang saya temukan justru lebih parah. Sepanjang rel besi, roda kereta api bergerak, dari ujung Jakarta ke pelosok Jawa, tampak perumahan kumuh berjejer.

Berjuta penduduk berjubel dalam kerumunan dan interaksi sosialnya yang sangat ironi. Dan makin jauh ke desa-desa kecil di negeri Wali Songo ini, semakin dalam saya menemukan masalah yang krusial dan kompleks. Mengerikan, lebih dari 80% warganya terendam dalam lumpur kemiskinan.

Panorama kehidupan rakyat Jawa yang menyedihkan itu, membuat hati saya bergetar. Saya lantas berfikir, kalau Jawa yang begitu dekat dengan pusat kekuasaan negara, terjebak dalam kemiskinan. Lantas bagaimana dengan nasib rakyat di ujung timur dan barat Nusantara?

Setelah berhari-hari larut dalam kecemasan di Jakarta, secara perlahan mengantarkan saya terlibat dalam berbagai jaringan dan organisasi. Dan memasuki pertengahan tahun 1997, kegelisahan saya makin bergejolak dan bergerak menemukan tekat untuk melawan rezim Soeharto. (baca)

Dari kampus Mercu Buana, saya mulai akrab dengan corong, spanduk, famplet dan aneka ragam selebaran yang isinya mengajak mahasiswa dan rakyat untuk berontak. Awalnya, hanya segelintir mahasiswa yang tulus meleburkan diri untuk bergabung. Namun kemudian membesar dan beraliansi dengan gerakan mahasiswa dari berbagai kampus lainya.

Dari lorong-lorong hening di pojok kampus, berbagai diskusi dan taktik gerakan mulai dirumuskan. Tujuannya hanya satu: Turunkan Soeharto dan perbaiki sistem bernegara. Kehendak ini menjadi bara yang membakar semangat saya dan teman-teman untuk bergerak. Di waktu yang sama, tekanan rezim yang bercampur dengan hinaan sebagian besar mahasiswa dan media massa, sesekali membuat hati kami ciut.

Kami dianggap gila, tolol, kurang kerjaan dan sok berjuang mewakili rakyat. Waktu itu saya ingat, gerakan aksi teman-teman, acap kali dianggap sebagai OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), dan sebagian besar media massa yang menjadi corong Soeharto, rajin menuding kami sebagai kelompok anarkis, separatis dan subversif.

Tuduhan miring itu seolah-olah mempermainkan nyawa kami. Apalagi, saya dan teman-teman yang kebetulan kuliah di kampus milik adik Soeharto, Probosutedjo. Di mana intimidasi dan kebebasan berpendapat bisa berubah menjadi pemecatan alias “DO”. Sebuah resiko yang terpaksa harus dilewati. Dan sekiranya rezim Soeharto kala itu tidak tumbang, mungkin ceritanya berbeda. Tidak menutup kemungkinan yang tersisa dari kami hanyalah nama saja.

Ojo Kesuwen Sare, Tangio !

Hari-hari berdemo melawan Soeharto, makin membuat kami matang dan tegar. Setidaknya, kami mulai memahami lebih dalam tentang kebobrokan sistem bernegara. Pandangan prihatin saya tentang kemiskinan dan pembodohan atas rakyat di Jawa dan daerah-daerah lainnya, kian menemukan jawabannya. Yakni, ketidakadilan…!

Dan faktor ketidakadilan itu lahir dari perilaku korup kepemimpinan nasional. Bayangkan, seorang Soeharto menjajah bangsanya sendiri selama 32 tahun. Menjadikan negeri ini terlilit utang dan menghamba kepada negara-negara maju. Modus kejahatan itu dirancang oleh “mafia berkeley”. Komplotan ekonom berdasi yang pro kepada kapitalis asing, yang kini meninggalkan anak kandungnya yang bernama “Neolib”.

Lepas dari peristiwa kelam itu, kini saya kembali termakan kemarahan dengan melihat akrobat politik rezim SBY. Sebuah bentuk rezim “special edition” yang rajin tebar pesona. Namun menyimpan kelicikan dan kebohongan. Nyaris serupa dengan watak Soeharto yang membungkus kebengisan dibalik senyumnya yang ramah.

Dan tak heran, kalau “neo Soeharto” (SBY) kini sedang melakoni drama korupsi berjudul Century. Ceritanya sangat nyata dan menyimpan praktek kejahatan yang tak beda dengan skandal BLBI. Wajar saja mahasiswa di Makasar tersulut marah dan berontak. Pandangan mereka sederhana. Kalau dana 6.7 triliun itu disumbangkan kepada para petani miskin di Pulau Jawa, tentu saja dapat meringankan beban ekonomi yang melilit mereka.

Namun, saya prihatin. Kenapa justru mahasiswa dan pemuda di Pulau Jawa saat ini memilih bungkam…? Ataukah mereka sedang menyusun rencana besar untuk bergerak…? Mungkinkah semangat mereka lebih revolusioner dan militan melampaui gerakan mahasiswa yang berlangsung di Makasar dan daerah lainnya…?

Kalau benar pemuda dan mahasiswa di Pulau Jawa sengaja memilih apatis dan tidak peka dengan kondisi negeri ini, maka tak salah, bahwa: Orang Jawa itu cinta kemiskinan dan penindasan. Sebuah bentuk kecintaan yang menyebabkan lebih dari setengah abad rakyat di negeri ini terpaksa terjerumus menjadi “ras cangkokan” neokolonialis, dengan nama barunya: Jawa fatalisme…!

Saudara Jawaku, bangkitlah dari tidurmu yang panjang. Rakyat di timur dan barat Nusantara menunggumu berdiri tegak dan bergegas untuk bersama-sama membangun perubahan di negeri ini…. semoga!

Salam, Faizal Assegaf
Jkt - 7 Maret 2010.

(Lihat foto: Orang Jawa Cinta Kemiskinan & Penindasan)


Artikel ini memiliki: 21 KomentarMenarik +3

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »