Sarapan Politikana: Mahasiswa Bermental Preman • penulis: sarapan politikana, 07 Maret 2010 09:55:31 • 6 Berita Foto • 45 KomentarPenting +4

 

Gambar di atas merupakan cuplikan unjuk rasa para mahasiswa di Makassar. Mereka melakukan sikap sok superior ini dengan berbagai alasan, dari penuntutan penuntasan kasus Bank Century, penolakan terhadap pidato Presiden atas tanggapannya akan rekomendari sidang paripurna, sampai menuntut tanggung jawab kepolisian yang dituduh melakukan pengerusakan kantor sekretariat HMI di Makassar.

Di satu sisi, unjuk rasa mahhasiswa ini ada segi positifnya, yakni mereka melakukan pengawalan terhadap politik dan penegakan hukum di negara ini. Tapi di sisi lain, tindakan mereka melakukan pemblokiran jalan, bakar ban dan barang lainnya, sangat berlebihan. Pantas saja kalau warga malah geram dengan kelakuan mahasiswa itu dan membantu polisi menyerang mahasiswa.

Contohnya begini, mereka meminta pengusutan kasus Bank Century. Mahasiswa yang menuntut ini pasti tidak membaca koran atau menonton berita. Toh, jelas-jelas selama ini Komisi Pemberantasan Korupsi sudah melakukan pemeriksaan dan pengusutan atas kasus Bank Century. Contoh beritanya ada di Koran Tempo hari ini.

Lalu, mengenai penolakan pidato presiden. Percuma para mahasiswa tersebut melakukan unjuk rasa dengan kekerasan seperti itu, toh presiden tidak akan mencabut atau mengganti pidatonya hanya karena isi pidato itu tidak disukai mahasiswa di Makassar. 

Sedangkan mengenai tuntutan mereka agar polisi bertanggung jawab atas penyerangan ke sekretariat HMI, kok saya jadi melihatnya kalau penyerangan itu merupakan sebab akibat dari aksi yang dilakukan mahasiswa. Memang polisi diharamkan melakukan penyerangan dan pengerusakan seperti yang terjadi di sekretariat HMI itu, tapi toh hal itu tidak akan terjadi kalau mahasiswa juga tidak anarkis dalam unjuk rasanya.

Satu lagi tentang sebab akibat, jangan pernah kita menyelahkan anggota dewan yang suka main pukul atau adu urat suara saat sidang atau rapat di DPR. Toh, anggota dewan dulunya juga mahasiswa. Jadi selama mahasiswanya bersikap anarkis, kelakuan seperti preman, ya lulusan yang dicetak (beberapa jadi anggota dewan) akan mempunyai bibit mental preman juga.

Pada akhirnya, unjuk rasa itu bukan untuk mewakili kepentingan rakyat lagi, tapi merupakan pemuasan nafsu semata. Dan masyarakat tidak akan simpati pada unjuk rasa mahasiswa lagi, karena hal itu malah membuat resak penduduk saat lakukan aktivitasnya.

Sayang kan.... 

(Lihat foto: Sarapan Politikana: Mahasiswa Bermental Preman)


Artikel ini memiliki: 6 Berita Foto • 45 KomentarPenting +4

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »