Saudaraku™, di tengah kebuntuan dan mulas yang memilin perut, akibat intensitas wacana politik yang menjejal, saya menemukan celah katup pengaman. Untuk kemudian saya aktualisasikan dalam tulisan ini. Ya, saya akan menulis tentang cinta.
Cinta adalah karunia Tuhan yang terindah. Cinta itu dimulai dengan gairah, dan selanjutnya harus diikat oleh arah. Hanya dengan cara itulah maka cinta akan bisa awet, setia, dan gemati. Sungguh betapa resep yang sangat sederhana. Sayang, begitu banyak orang yang tak menyadarinya. Cobalah tengok bilik-bilik di balik kehidupan para selebritis itu. Sungguh mencengangkan, ada kebodohan, kemelaratan ruh, dan kejanggalan. Marilah kita kenang satu per satu lelakon mereka, untuk kita maknai sebagai pelajaran bagi bekal melakoni hidup ini.
Bukan karena kasus narkoba yang membelit, atau kasus tuduhan pencurian mobil yang meruyak sebelumnya, tapi ”orang ketiga”. Hal itu yang menjadi pemicu utama perpisahan Andrea dan Sammy Kerispatih waktu itu. Meski berkali-kali Sammy membantahnya, Andrea tetap yakin hubungan antara Sammy dan Natalie bukan sekadar isapan jempol atau gosip murahan.
"Aku melihatnya, kok. Jadi bagaimana aku tidak percaya?" katanya. Pernyataan Andrea itu benar adanya, setelah di lain waktu Natalie pun akhirnya mengaku dan merasakan bahwa Sammy telah “memberi hati” kepadanya. Seperti yang dulu kita lihat berulang-ulang di layar kaca, bahwa Natalie mau "jalan" setelah Sammy mengaku telah berpisah dari Andrea.
"Saya melihat tujuan kami tak lagi sama," terang Andrea. Ia bersedih, terutama setelah Sammy menampik cincin yang mereka kenakan sebagai tanda ikatan pertunangan. Dan ternyata, entah kebetulan atau apa pun namanya, kesenduan yang dirasakan Andrea itu kini justru berubah menjadi karunia. Tuhan memang selalu memiliki rencana yang terindah bagi umatnya, meski kelihatannya pahit pisan.
Lain Andrea lain pula Tyas Mirasih. Dalam setahun artis ini pernah terlibat urusan cinta dengan tiga orang. Di awal tahun, dia kedapatan bermesraan dengan Lembu Club Eighties. Di pertengahan tahun, dia menjalin cinta dengan Raffi Ahmad, dan sekaligus juga tertangkap kamera tengah berciuman dengan Bams Samsons. Di akhir tahun, ia mengaku sudah men-jomblo lagi. Ketika tampil di Empat Mata, dengan enteng ia berkata bahwa perpisahan mereka terjadi karena ketidakcocokan semata.
Ketidakcocokan Tyas tentu bukan diksi yang sempurna. Lihat saja, kepada tiga lelaki itu nyaris melakukan pola yang sama. Bersama Lembu ia berpose mesra di Sanur Bali. Dengan Raffi ia memeluk pasrah di Pantai Kuta. Dengan Bams apalagi, mereka tertangkap kamera berciuman di balik layar ketika Samsons akan manggung di Bandung. Sammy pun waktu itu juga tak jauh-jauh amat kualitasnya. Bersama Natalie – yang sintal itu – dia terlihat begitu mesra dan bahkan nampak bangga ketika tertangkap kamera.
Semua orang tentu setuju, bahwa cinta memang harus dimulai dengan gairah. Namun demikian, cinta yang hanya bermodal gairah ternyata selalu cepat punah. Tyas dan Sammy nampaknya memiliki kemiskinan ruh tentang aksioma ini. Gairah akan selalu membuat cinta menjadi indah, tapi pasti tak pernah langgeng.
Musababnya hanya satu, gairah selalu meminta misteri, hasrat yang tak pernah terpuasi. Ketika misteri cinta itu terkuak maka hasrat terpuasi, dan gairah pun reda. Cinta otomatis kehilangan pesonanya, kehilangan kesetiaannya. Foto-foto ciuman mereka juga adalah bukti adanya gairah yang sedang dipenuhi, gairah yang tertuntasi.
Cinta harus dimulai dengan gairah, dan dipertahankan lewat arah. Inilah bagian cinta yang tidak dipunyai Tyas dan Sammy: arah. Karena bersandar pada gairah, Tyas tak pernah tahu akan ke mana asmaranya bermuara. "Kami mengalir saja. Kami tidak ingin menargetkan apa pun pada hubungan ini," demikianlah kata Tyas ketika masih berpacaran dengan Raffi. Tyas tidak punya tujuan, tidak memberi arah pada sebuah hubungan. Dan tentunya: tanpa arah – sudah pasti – sebuah pasangan cuma menunggu waktu untuk berpisah.
"Aku tidak mampu membayangkan, bagaimana andai hidupku tanpa dia," kata Surya Saputra ketika melamar Cintya Lamusu di atas panggung Seleb Dance waktu itu. Cintya biarkan Surya menyematkan cincin di jari manisnya. Dengan mata bercahaya takjub, yang tak lepas memandang paras kekasihnya, dan bibir yang gemetar, dia hanya berucap pendek: "Terima kasih...". Selebihnya adalah tangis.
Cintya bahagia karena dia percaya, mereka berdua telah menemukan dan berada dalam cinta, dengan gairah dan arah yang sama. Cinta dimulai dengan gairah, dan harus diikat oleh arah. Hanya dengan itu cinta bisa awet dan setia. Sungguh betapa sederhana. Sayang, begitu banyak yang tak menyadarinya.
Sementara, aku baru menyadari bahwa cerita cinta ternyata lebih menarik daripada ngocol tentang politik yang berbusa-busa. ***
Yogyakarta, 5 Februari 2010.
Foto appear courtessy: www.detikforum.com
Note: Terima kasih untuk Kakangku: Aulia Muhammad, sampai jumpa di Kemayoran - "Road to Java Jazz fest 2010...."
Artikel ini memiliki: 21 Komentar • Menarik +3