Retaknya Koalisi • penulis: Mr Blues, 25 Februari 2010 18:58:12 • 9 KomentarMenarik +2

 

Memang terlalu dini jika saya menyimpulkan bahwa partai koalisi pendukung pemerintah (PD,PPP,Golkar,PKS,PAN)  itu telah mengalami keretakan atau bisa disebut pecah. tapi jika menyaksikan dalam berbagai pemberitaan diberbagai media terutama dalam pemberitaan media televisi, saya pribadi melihat bahwa indikasi kearah sana itu memungkinkan.

kita semua mengetahui saat saat diawal pansus bank century, telah terlihat bahwa partai koalisi yang notabenenya partai pendukung pemerintah sudah tak terlihat kesolidan atau sebut saja seirama. seakan koalisi itu telah menjadi pecah terbagi dua. yaitu kubu yang tetap setia dengan pemerintah bahwa kasus talangan dana (bail out) terhadap Bank Century itu sesuai dengan aturan dan tidak ditemukan adanya penyimpangan hukum, yaitu PD dan PKB.

Dan dikubu yang kedua justru sebaliknya bahwa PKS.Golkar,PPP itu melihat dan memandang bahwa bail out tersebut memang telah bermasalah atau ada indikasi terjadi penyimpangan. disitu seakan akan sudah terlihat ada target terselubung diawal yang dipaksakan tanpa melihat terlebih dahulu proses serta kesimpulan akhirnya.

Dan disini saya tidak sedang ingin memperdalam akan kasus century tersebut mengenai segala tetek bengek masalah bail out tersebut, karena mungkin sudah banyak warga kampung P disini yang telah mencoba mengangkat dan mempersoalkan itu. yang menjadi menarik buat saya adalah untuk mencoba mengkaji akan fenomena realitas politik yang berkembang terutama mengenai partai koalisi ini.

Pada saat perjalanan akan halnya pansus century ini telah terjadi resistensi politik, tarik menarik yang cukup kuat antar kekuatan-kekuatan politik yang ada didalam perjalanan pansus itu sendiri. jika ditelusuri kebelakang bahwa akan halnya pansus itu telah dijadikan alat atau senjata yang cukup ampuh yang digunakan lawan-lawan politik pemerintah dalam menyerang kubu pemerintahan itu sendiri, terlebih kasus tersebut sangat berkaitan terhadap suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang dinilai sangat tidak populis atau memiliki ciri yang kontrovensi tersendiri tentunya, sebagai contoh: pansus Bulogate, sebagai upaya memberikan citra negatif kepada Presiden Abdurahman Wahid kala itu. dengan kata lain dapat dijadikan target atau usaha pemakzulan seperti yang hangat diperbincangkan saat ini.

Jika memfokuskan dalam wacana pansus century ini terlebih pada fenomena akan partai koalisi, dalam perjalanannya kita melihat ada dinamika politik didalam koalisi tersebut, kekritisan dari kubu koalisi didalam pansus dilihat oleh PD sudah sedikit banyaknya keluar dari suatu irama akan sebuah koalisi tersebut sebut saja Golkar dan PKS. sehingga counterpun dilancarkan oleh PD melalui pendekatan power serta ancaman seperti pengemplangan pajak serta resuffle sebagai bentuk dari penekanan kedua partai tersebut, istilahnya "wong hati-hati ada harga yang harus dibayar dalam sebuah sikap" dan bagi saya hal itu biasa dalam realitas politik.

Tapi menjadi menarik jika melihat dalam rapat akhir kesimpulan dari masing-masing fraksi pansus century ini, kubu koalisi nampaknya tak bergeming justru kecendrungan merespon menantang, terutama yang paling kuat responnya dari PKS. melihat fenomena tersebut timbul pertanyaan tersendiri mengapa PKS mengambil sikap yang cukup frontal dalam koalisi terutama menghadapi Demokrat? adakah maksud serta kepentingan politik yang lain, karena justru sikap PKS itu akan menciptakan ketidakharmonisan dengan pemerintah yg juga nantinya dapat menjauhkan diri dari kekuasaan. apakah PKS sudah tidak nyaman lagi didalam koalisi? atau apa memang benar PKS ingin mendobrak budaya politik yaitu kebenaran menjadi diatas dari kepentingan-kepentingan politik.

Sebenarnya saya tidak ingin berburuk sangka terhadap setiap manuver yang dilakukan oleh suatu partai, karena terlalu naif buat saya apabila partai tak haus kekuasaan. karena memang sejatinya partai merupakan alat dalam menggapai kekuasaan. andai saja memang PKS sudah tak nyaman atau tak merasa sirama mengapa tidak menarik diri dari koalisi, tapi mengapa masih bercokol?

Mengutip kata-kata botak sakti dalam tulisannya yang kemarin mengenai pansus century ini.. "Ya sudahlah.." tapi disini saya melihat dinamika politik serta realitasnya apabila koalisi ini retak dan pecah. setidaknya ada hikmah akan sisi positif didalam sistem politik indonesia yaitu terciptanya suatu pemerintahan yang seimbang dalam tataran legislatif dan eksekutif ( tercipta chek and balances) mengingat koalisi yang merupakan partai-partai pendukung pemerintah menguasai sekitar 80 persen diparlemen.

Sebagai penutup, besar harapan saya jika memang partai-partai dalam koalisi sudah merasa tak seirama lagi, janganlah selalu beretorika atas nama kebenaran,keadilan,serta wujud dari suara rakyat tapi masih saja bercokol disana. tunjukan sikap jantan yang sesuai dengan hati nurani. lagi-lagi hal fenomena tersebut membenarkan didalam domain politik bahwa tak ada teman dan lawan yang abadi yang ada hanyalah kepentingan.

(Lihat foto: Retaknya Koalisi)


Artikel ini memiliki: 9 KomentarMenarik +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »