PADA suatu tempat di Indonesia yang bhineka ini, hiduplah seorang Mpu yang hanya ingin dipanggil Mpu. Selebihnya dia memilih menyembunyikan identitas. Dia mengaku hidup di gunung, sengaja menyepi secara fisik dari hiruk pikuk negeri yang seperti tak pernah bosan berkawan dengan masalah ini.
Tapi, jangan salah, kendatipun secara wadag si Mpu hidup di pedalaman, dia termasuk orang yang mengamini tesis Thomas L Friedman, jurnalis Amerika yang menyebut ”dunia ini datar” berkat canggihnya teknologi informasi ini. Biar hidup di gunung, si Mpu melek teknologi. Dia tetap mengakses internet dan paling rajin online. Dia coba melihat Indonesia dari ketinggian 3 ribu meter dari permukaan air laut.
”Agar bebas kepentingan,” itulah alasannya ketika suatu saat saya iseng-iseng berkirim surat elektronik kepadanya –yang alamatnya diwanti-wantinya tak boleh diberikan pada sembarang orang yang belum tentu dia kehendaki– untuk bertanya kenapa dia memutuskan untuk menyembunyikan fisiknya, tapi rajin menatap dunia dan berpendapat tentang Indonesia.
Di tengah ribut-ribut Bank Century, vonis Antasari dkk, saling gebuk antara pemerintah dan orang yang diduga kuat mengemplang pajak, Permen-nya Tifatul yang menurut banyak orang pahit itu, juga beberapa cabang Majelis Ulama Indonesia alias MUI mempermasalahkan perayaan Valentine, iseng-iseng saya berkirim surat lagi pada si Mpu. Biasanya isi suratnya membawa makna yang begitu mengena, kendati untuk mempraktikkannya masih agak sulit di beberapa bagian.
Surat terakhir saya begini; ”Dari ketinggian Anda, bagaimana Mpu melihat Indonesia di antara Imlek dan Hari Valentine ini?”
Dalam hitungan jam email saya sudah berbalas:
”Anakku yang jauh di dataran rendah sana, tampaknya Indonesiamu itu terlalu gagap menangkap sebuah makna dan sisi baiknya. Mungkin juga karena banyak orang-orangnya yang berpikiran ”jorok”. Prasangka dikedepankan.
”Dunia, khususnya Indonesia, harusnya bersyukur bahwa perputaran jagat raya tahun ini menjatuhkan perayaan Imlek dan Valentine kompak bersama-sama dalam satu hari. Ada dua momentum indah yang seharusnya bisa dinikmati dengan tepat dan dicerap maknanya. Kalau makna itu bisa ditangkap dengan sehat, bagus kalau bisa diaplikasikan dalam hidup Indonesia yang bhineka ini. Semestinya juga bisa jadi obat mujarab untuk meredam kisruh.
”Anakku, ketika kita memilih untuk menentukan sebuah ”peringatan”, bukankah maknanya tak hanya berhenti pada tanggal merah atau hari libur? Tapi, bukankah ada makna yang lebih perlu dicerap? Tapi, itulah, mungkin Indonesia kita ini masih terlalu gagap dalam menangkap makna yang positif. Dan semoga saja kekurangan yang satu itu bisa segera dibenahi.
”Sadarlah, bahwa ada dua peringatan bermakna denotatif yang diperingati bersamaan tahun ini. Perayaan Imlek, peringatan yang tak diperbolehkan ketika Orde Baru berkuasa –dengan alasan budaya tapi pada dasarnya politis– membawa makna bahwa toleransi sebenarnya begitu hidup di Indonesia.
”Untuk yang satu ini kita memang wajib berterimakasih pada almarhum Gus Dur. Tapi, keran yang dibuka Gus yang hebat itu, di mana etnis Tionghoa boleh memperingati hari istimewanya di negeri ini, sebenarnya hanyalah perantara. Inti sebenarnya adalah naluri bangsa ini sendiri, yang secara harfiah masih begitu permisif pada toleransi di tengah keanekaragaman etnis penghuninya. Oh, indahnya negeri ini kalau makna itu benar-benar muncul di permukaan.
”Untuk Valentine, Anakku, tentang agama apa yang memperkenalkan konsep ini pada dunia, menurut aku di ketinggian ini, semestinya tak perlu diributkan. Yang jelas, Valentine telah dikenal dunia sebagai hari di mana kasih sayang begitu tumpah ruah. Tak ada permusuhan. Yang ada saling merangkul.
”Konsep tentang kasih sayang itu, hakul yakin, tak akan ditolak oleh agama apa pun, termasuk Islam-nya beberapa MUI yang menganggapnya sebagai masalah itu. Tak perlu meributkan bagaimana latar belakangnya, tapi maknanya. Lebih pada intinya.
”Kalau dirangkaikan jadi satu, Anakku, datangnya Imlek dan Valentine secara bersamaan ini bukankah bisa diartikan sebagai pengingat, bahwa di dunia ini masih ada toleransi dan di dalam berbagi itu ada kasih sayang? Sebuah konsep sosial yang indah, bukan?
”Bukankah dengan adanya dua momentum indah yang begitu kompak datang bersamaan, kalau kita sudi menyerah pada maknanya, kisruh-kisruh bisa direm. Bukankah saling tentang itu muncul karena toleransi dan kasih sayang selalu dipinggirkan? Ketika momentum toleransi dan kasih sayang itu dihadirkan Tuhan melalui hitungan perputaran almanak secara bersamaan pada kita, apakah tidak lebih baik kita nikmati saja dan tendang upaya saling tentang itu?
”Tapi, entahlah, Anakku. Aku kadang juga tak sanggup menangkap logika para pemimpinmu, atau orang-orang penting di dataran rendah sana, kenapa enggan mencerapi makna Imlek dan Valentine –dua peringatan yang diamini negeri ini– yang tahun ini datang dalam satu paket itu. Malahan masih ada juga yang mengangkatnya sebagai masalah.
”Karena kebingungan inilah, Anakku, aku memilih hidup di gunung. Karena di sini, di tengah rerimbunan alam ini, di ketinggian 3 ribu meter dari permukaan air laut ini, aku selalu merasa Valentine dan Imlek menghampiri setiap saat.
”Gong Xi Fa Chai and Happy Valentine, Anakku…”
Angin semilir yang menerobos begitu saja melalui nako rumah kost itu begitu genit mencolek tengkuk saya ketika mata menyusuri kata demi kata dalam surat Mpu. Dingin, agak merinding, tapi fantasi melayang ke suatu tempat sembari meraba-raba, di manakah si Mpu itu berada?
Setelah selesai membaca, saya isap rokok dalam-dalam, saya embuskan asapnya pelan-pelan, sembari mencoba membiasakan diri untuk kembali pada kenyataan.
Ah, seandainya saya tahu di gunung mana si Mpu hidup, akan saya susul dia ke sana.
(Lihat foto: Tahun yang (Seharusnya) Indah)
Artikel ini memiliki: 3 Komentar • Menarik +2