Bermain Kartu • penulis: tkp, 12 Februari 2010 13:38:17 • 7 KomentarKeren +9

 

Di peron stasiun itu seorang ayah dan anak laki-lakinya yang masih terlalu kecil (saya taksir masih sekitar kelas I SD), sedang mencermati isi sebuah koran. Si ayah membaca dengan gaya santai, sementara di sampingnya si anak mengintip-intip dalam paragraf demi paragraf yang dibaca sang ayah. Gayanya sedikit serius, mungkin karena rasa ingin tahu mendesaknya untuk mengetahui banyak ”hal baru” di dalam koran itu.

Lalu, pandangan mereka sama-sama mengarah pada sebuah berita yang masih hangat-hangatnya, yang ada kata ”koalisi” di situ. Kata yang tentu saja masih asing untuk si anak. Dengan naluri keingintahuannya sebagai manusia, terceletuklah pertanyaan dari mulut kecil si bocah; ”Koalisi itu apa si, Pa?”

Si ayah –atau Papa– tampak tertegun sebentar. Lalu dia tatap si buah hati dengan pandangan bersahabat. Mungkin si orangtua yang tampaknya terpelajar itu sedang bingung; dia tak ingin mengecewakan anaknya, dengan memberikan jawaban, tapi sekaligus harus memberikan penjelasan yang bisa diterima nalar bocah kelas I SD.

Setelah memainkan bola mata, seperti mencari-cari padanan penjelasan yang tepat, si ayah menjawab; ”Koalisi itu bermain kartu.”

Si anak mengernyit. ”Maksudnya bagaimana, Pa?”

”Beberapa orang yang hobi bermain kartu berkumpul bersama dan memainkan kartu. Tahu kan bagaimana bermain kartu?”

”Oh, iya. Kita kan sering main kartu kalau libur. Biar ramai. Biar bisa ketawa-tawa, seperti kita dan kakak,” jawab si anak polos.

”Ya,” si papa tersenyum, ”bermain kartu memang untuk mencari kesenangan. Asal jangan curang ya…” si papa memberikan isyarat dengan kerdipan mata dan senyum.

”Tapi….” si anak menyela lagi, ”Kenapa si Demokrat mengancam mitra koalisinya? Mitra koalisi itu apa?  Apa hubungannya dengan kartu?” lalu si anak menunjuk judul berita yang bertuliskan ”Demokrat Ancam Mitra Koalisi”.

”Oh, itu. Karena Demokrat yang punya kartu. Mitra koalisi itu teman bermain, yang main-main ke tempat Demokrat karena Demokrat yang punya kartunya. Mungkin saja waktu bermain Demokrat, yang merasa punya kartu, merasa dicurangi teman-temannya. Mungkin dia mengira ada yang sengaja menyimpan kartu, atau menyembunyikan kartu, sehingga permainan jadi terganggu. Itu kan namanya curang.”

”Berarti teman-temannya jahat ya, Pa. Curang…”

”Belum tentu. Apa yang punya kartu itu sudah pasti tidak curang? Tidak begitu, Nak. Semua bisa saja curang. Bisa saja yang punya kartu itu juga curang. Karena merasa dicurangi, teman-teman bermainnya merasa dirugikan. Yang merasa dirugikan juga tak mau terus-terusan rugi, dan ikut bermain curang supaya tidak rugi lagi.”

”Berarti ada yang jahat ya, Pa. Kalau terus-terusan curang, kenapa main kartunya diterusin?”

”Karena tidak ada yang menghentikan. Bukannya bermain kartu itu seru? Setiap kita main kartu waktu liburan tidak mau berhenti kan karena serunya? Semua ingin jadi pemenang, Nak. Sementara yang sudah menang ingin menang lagi. Bermain kartu itu tak akan bisa berhenti kalau tidak ada yang menghentikan.”

”Oh, iya ya. Kita kan berhenti kalau Mama sudah datang dan aku disuruh tidur ya, Pa?” si anak seperti diingatkan kembali. ”Mereka tidak punya mama ya, Pa?” si anak penasaran lagi. Si papa hanya menggeleng pelan.

”Lalu, siapa yang akan menghentikan?”

”Mereka akan berhenti sendiri kalau sudah capek.”

Terdengar pengumuman kereta yang mereka tunggu segera masuk stasiun.

”Sebenarnya siapa sih yang curang dalam koalisi itu Pa?” rasa ingin tahu si anak terus menyerbu si papa.

”Papa tidak tahu, karena Papa tidak ikut main.”

”Tapi, kalau aku sudah besar, aku bisa ikut main kartu koalisi seperti mereka? Biar aku cari yang curang siapa, terus aku jewer.”

Si ayah tersenyum. ”Boleh saja, Nak. Tapi, jangan malah kau sendiri yang curang. Itu tidak baik.”

Kereta yang mereka tunggu datang. Si Papa melipat korannya, menggandeng si anak, dan masuk untuk mencari tempat duduk. Si anak yang digandengnya membawa pemahaman tentang ”tak boleh curang kalau bermain.” Semoga saja pemahaman itu dibawa sampai dia dewasa kelak, atau ketika (mungkin) kelak dia memilih terlibat dalam permainan kartu bernama koalisi.

(Lihat foto: Bermain Kartu)


Artikel ini memiliki: 7 KomentarKeren +9

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »