Fallacy...si kecil yang membakar akal sehat • penulis: Rahwana Dasamuka, 07 Februari 2010 19:38:36 • 12 KomentarBosenin -1

Fallacy...si kecil yang mematikan

Pada dasarnya fallacy adalah kekeliruan ketika menentukan penilaian.argumentum ad hominem. Fallacy dapat disetarakan dengan tekhnik mantik yang penuh jeratan sekaligus duri...sebuah duri kecil yang cukup membuat kita merasa tidak nyaman, dari  fallacy inilah iblis menuntaskan karya-karya spektakulernya.jebakan-jebakan fallacy,si kecil yang menyebalkan.dijelaskan :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS 17:36)

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman(QS 34:20) 

Seperti Al Farabi dan Ibnu Sina, Al Ghazali berpendapat bahawa Mantik adalah peraturan untuk berfikir yang berfungsi didalam memandu akal dalam membuat kesimpulan dan membebaskanya daripada unsur prasangka dan imajinasi. memang tujuan Mantik sebenarnya memandu pengamalnya agar tidak melakukan sebarang kesalahan ketika berfikir berdasarkan logika. Akan tetapi logika sendiri terbahagi menjadi dua iaitu Minor dan Major. Logika Minor mempelajari struktur berfikir beserta dalil-dalilnya, dan Major mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi. Logika dan perkembangannya dalam dunia ilmiah dikenali dengan adanya "argument" sebagai penguat alasan. Dan setiap argumentasi dapat diuji kebenarannya dengan logika. Maka, untuk menguasai argument dengan baik dan benar perlu menguasai logika. Logika oleh sebahagian ilmuwan juga dapat dikatakan sebagai epistemologi, yaitu ilmu tentang fikiran.  

terjerembab pada kesalahan berpikir (fallacy). Ungkapan yang terlontar dari pembicaraan dosen tersebut merupakan bentuk argumentum ad hominem. Argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack. Ini adalah hal yang dilakukan iblis ketika mengupayakan pembenaran dirinya dihadapan RABBnya. Maka ALLAAH memenuhi tantangannya lalu memasukkannya kepada kelompok orang kafir.

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka (QS 17:64) 

Ketika seseorang dinasehati akan kesalahannya justru kemudian ditanggapi oleh sipelaku kesalahan dengan cara mengkritik sipemberi nasehat tidak sesuai dengan substansi yang sebenarnya. Dan ini merupakan fallacy argumentum ad hominem. Fallacy akan senantiasa bertambah menjadi fallacy lain sehingga Nilai akan Kebenaran semakin tertutupi.Setelah terjebak pada warna argumentum ad hominem maka dia akan melangkahkan kakinya menuju fallacy argumentum ad baculum.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya  maka sekali-kali ALLAAH tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS 4:137) 

Fallacy argumentum ad baculum ialah argumen yag diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak, akan berdampak negatif terhadap dirinya. Dan inilah membuat seseorang yang sebelumnya Muslim dapat menjadi kafir dan semakin kafir lagi.

"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?. ..... dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. "(QS 38:74-75)

Nasehat sangatlah penting, hal ini untuk mengendalikan seseorang agar senantiasa menetapkan diri diatas Kebenaran. karena insan tidak terbebas dari kesalahan yang terkadang khilaf dalam melakukan sesuatu. Namun orang sombong tidak akan mau menerima nasehat hal ini dikarenakan dia memiliki instink superioritas.Sebagaimana sebagian besar warga P ini yang menolak Kebenaran yang saya bawakan di forum ini.

dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat." (QS 7:79)

Dan di antara insan ada yang membantah tentang ALLAAH tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.( QS 31:20)

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan(QS 30:29)

Adalagi jenis fallacy lain yang disebut diksional.Fallacy diksional ini walaupun sepele, tetapi terkadang bisa menjadi suatu hal yang penting. Dalam ilmu komunikasi, diksi yang digunakan akan menentukan keberhasilan komunikasi yaitu tersampaikannya pesan dengan baik dan benar sesuai tujuan dari adanya komunikasi tersebut. Kesalahan penggunaan bahasa bisa berakibat pada kesalahan pemaknaan. Bahasa adalah simbol dari realitas. Terkadang ada kata yang menunjukkan dua realitas yang berbeda. Seperti ALLAAH menjadi tuhan,yang secara ilmiah berarti YANG MAHA KUASA menjadi iblis.Melakukan fallacy seperti ini adalah kegemaran orang yahudi

mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya (QS 5:41)

Menghindarkan diri melakukan kekekeliruan dalam berpikir merupakan suatu keharusan. Sebab dari proses berpikirlah kehidupan, budaya, tradisi, bahkan sebuah peradaban dibangun. dan kekeliruan berpikir sebagai salah satu penghambat pertama dan utama proses perbaikan dalam masyarakat. Begitu banyak insan yang terjebak dalam kekeliruan berpikir. Perlu adanya aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam kekeliruan berpikir yang tentu berakibat buruk terhadap pandangan dunianya dan bahkan Dinnya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.Maka dengan itu dibutuhkan petunjuk keilmuan yang Benar yang datangnya dari ALLAAH itulah Hukum ALLAAH.

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan ALLAAH, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (QS 5:47)

Bila tidak ada Wahyu menjadi liarlah rakyat.Berbahagialahorang yang berpegang pada Hukum(Amsal 29:18)

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadaMu dari RABBmu itulah yang benar dan menunjuki (insan) kepada jalan TuhRABB YANG MAHA PERKASA.(QS 34:6)

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu  Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat KAMI kecuali orang-orang yang zalim.(QS 29:49)

Diantara tanda akan datangnya kiamat lagi ialah akan dihapuskannya ilmu (tentang Ad-Din) dan merajalelanya kejahilan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik  , Ia berkata : RasuluLLAAH bersabda :


"Artinya : Di antara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah dihilangkannya ilmu (tentang Ad-Din) dan tetapnya kejahilan". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Zhuhuri Al-Jahli 1:178, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-Jahli wa Al-Fitan fi Akhir Az-Zaman 16:222].

Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan Abdullah dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi SAW bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya kejahilan dan dihilangkannya ilmu (Ad-Din)". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuri Al-Fitan 13:13].

Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah  , ia berkata : RasuluLLAAH bersabda :

"Artinya : Jangka waktu akan semakin dekat, ilmu (tentang Ad-Din) akan dihilangkan, fitnah akan merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan (dalam hati), dan peperangan akan banyak terjadi". [Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm 16 : 222-223].

Ibnu Baththal berkata : "Tanda-tanda akan datangnya kiamat yang dikandung dalam hadits ini telah kita lihat dengan jelas, yaitu ilmu tentang Ad-Din telah berkurang, kebodohan merajalela, penyakit kikir telah dicampakkan dalam hati banyak orang, fitnah merajalela, dan peperangan banyak terjadi". [Fathul Bari 13:16].

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya demikian : "Yang nampak, bahwa di antara tanda-tanda tersebut yang disaksikannya itu memang banyak terjadi di samping adanya keadaan yang merupakan kebalikan dari itu. Dan yang dimaksud oleh hadits tersebut ialah dominannya hal-hal itu sehingga tidak ada yang tidak demikian melainkan sangat jarang. Inilah yang ditunjuki oleh hadits dengan ungkapannya 'dihilangkan ilmu (Ad-Din)', maka yang tinggal hanyalah kebodohan. Namun hal ini tidak mencegah kemungkinan adanya segolongan ahli ilmu, karena pada waktu itu golongan tertutup di tengah-tengah masyarakat yang jahil tentang ilmu Ad-Din". [Fathul-Bari 13:16].

Dan penghapusan ilmu Ad-Din ini ialah dengan kematian para Ulamanya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari AbduLLAAH bin Amr bin Al-Ash , ia berkata : saya mendengar RasuluLLAAH SAW bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya ALLAAH tidak mencabut ilmu (tentang Ad-Din) dengan serta merta dari hamba-hamba-NYA, tetapi DIA mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang alim (mengerti tentang Ad-Din), maka orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil, lantas mereka ditanya, kemudian memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sendiri sesat menyesatkan (orang lain)". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu Al-Ilm 1:94, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-jahl wa Al-Fitan 16: 223-224].

Imam Nawawi berkata : "Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu (sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits di muka secara mutlak) bukanlah menghapuskannya dari dada (hati) para penghafalnya. Tetapi, yang dimaksud ialah dengan matinya para pemilik ilmu tersebut. Lantas insan mengangkat orang-orang yang jahil untuk menghukum (menetapkan dan memutuskan hukum) dengan kejahilannya sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain". [Syarah Muslim 16:223].


Demikianlah sebagaimana yang terjadi saat ini,pemimpin bodoh diangkat rakyat beramai ramai secara demokratis sehingga menjadilah suatu negeri dipimpin oleh orang bodoh yang mengajak atau menjerumuskan rakyatnya juga untuk berkubang dalam Lumpur kebodohan.Yang dimaksud dengan ilmu di sini ialah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah, yaitu ilmu yang diwarisi dari para Nabi, karena para ulama adalah pewaris (yang mewarisi) para Nabi. Dengan lenyapnya para ulama maka lenyap pulalah ilmu (tantang Al-Qur'an dan As-Sunnah). Sunnah mati, bid'ah-bid'ah bermunculan, dan kejahilan merajalela. Adapun ilmu tentang keduniaan, maka ia semakin bertambah dan ia bukan yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut. Persepsi ini didasarkan pada sabda RasuluLLAAH SAW:

"Artinya : Lalu mereka ditanya, lantas mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain".
Sedang kesesatan itu hanya terjadi karena kejahilannya terhadap Ad-Din (agama). Dan ulama yang sebenarnya ialah ulama yang mengamalkan (menerapkan) ilmu dan mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan yang lurus dan petunjuk. Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada faedahnya, bahkan menjadi bencana bagi pemiliknya. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari dengan lafal:

"Artinya : Dan amal pun berkurang " [Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Husnil Khuluq was-Sakha' wa Maa Yukraha min Al-Bukhl 10:10; 456].

Sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi, setelah menyebut segolongan ulama, beliau berkata, "Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit. Dan sekarang tidak ada yang tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit itu melainkan sedikit sekali yang ada pada orang yang jumlahnya sedikit. Alangkah sedikitnya orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Semoga ALLAAH mencukupi kita, dan DIA-lah sebaik-baik PENGURUS". [Tadzkiratul-Huffazh 3: 1031].

Kalau keadaan pada zaman Imam Adz-Dzahabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan zaman kita sekarang ini ? Sesungguhnya semakin jauh zaman itu dari zaman keNabian maka semakin sedikitlah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah dan semakin banyak kebodohan. Karena, para Sahabat adalah orang-orang yang paling mengerti di kalangan umat ini, kemudian para tabi'ut tabi'in, dan mereka inilah sebaik-baik generasi sebagaimana disabdakan RasuluLLAAH SAW.

"Artinya : Sebaik-baik insan ialah generasiKu, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka lagi". [Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Fadlish Shahabah   Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86].

Ilmu tentang Ad-Din itu akan senantiasa berkurang dan kebodohan akan senantiasa bertambah, sehingga orang tidak tahu lagi apa-apa yang difardhukan oleh Islam. Hudzaifah   meriwayatkan, katanya : RasuluLLAAH SAW bersabda :

"Artinya : Akan hancur Islam ini seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. Dan diterbangkanlah Kitab ALLAAH pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggallah beberapa golongan insan laki-laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang berkata. 'Kami dapati bapak-bapak kami dahulu mengucapkan kaimat ini : Laa ILAAHa IlaLLAAH, maka kami mengucapkan kalimat ini".
 
AbduLLAAH bin Mas'ud   berkata. "Sungguh Al-Qur'an akan dicabut dari kalian, yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap dari hati insan dan tidak ada lagi yang tinggal di muka bumi". [Riwayat Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih, kecuali Syaddad bin Ma'qil, dan dia adalah orang kepercayaan.Majmu'uz Zawaid 7: 329-330. Ibnu Hajar berkata. "Riwayat ini sanadnya shahih, tetapi mauquf. Fathul-Bari 13:16". Saya (Yusuf bin AbduLLAAH) berkata. "Isi riwayat seperti ini tidak mungkin diucapkan berdasarkan pikiran semata-mata, karena itu dihukum marfu".]

Ibnu Taimiyah berkata. "Al-Qur'an akan diterbangkan pada malam hari dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati pada akhir zaman, maka tidak ada satu pun kalimat yang tertinggal dalam dada, dan tidak ada satu huruf pun yang tertinggal dalam mushaf-mushaf". [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 3: 198-199].

Dan yang lebih besar lagi dari ini ialah akan tidak disebut-sebut lagi lafal ALLAAH di muka bumi. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas  , bahwa RasuluLLAAH SAW bersabda.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga di muka bumi tidak diucapkan lagi lafal ALLAAH". [Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Dzahaabil Iman Akhiruzzaman 2:178].

Ibnu Katsir berkata : "Terdapat dua pendapat mengenai makna hadits ini, yaitu :

[1] Maknanya, bahwa tak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran dan melarang orang lain melakukannya. Pengertian ini diambil dari sabda beliau : ".... sehingga tidak ada lagi diucapkan ALLAAH, ALLAAH". sebagaimana pula yang tertera dalam hadits AbduLLAAH bin Amr : "Maka pada waktu itu hanya tinggal orang-orang bodoh yang tidak mengerti kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran". [Musnad Ahmad 11:181-182 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata. "Isnadnya shahih". Mustadrak Al-Hakim 4: 435, dan beliau berkata. "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhani (Bukhari dan Muslim) apabila Al-Hasan mendengarnya dari AbduLLAAH bin Amr". Perkataan Al-Hakim ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi].

[2] Sehingga lafal ALLAAH tidak disebut lagi di muka bumi dan tidak lagi dikenal nama itu. Hal ini terjadi ketika zaman sudah rusak, nilai kemanusiaan telah hancur, kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan telah merajalela. [An-Nihayah fil fitan wal Malahin 1: 186 dengan tahqiq Dr Thaha Zain].

 

 


Artikel ini memiliki: 12 KomentarBosenin -1

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »