Berikut adalah sedikit percakapan dua mahasiswa yang concern akan perkembangan bahasa Indonesia yang terjadi dalam bidang jurnalistik.
Ratih: de
Ratih: ada kata baru
Ratih: pricesensitive
Ratih: jurnalis jaman sekarang sangat berpengaruh sekali yah dalam perkembangan kata pinjaman
aziz: iya...alergi barang mahal
Ratih: tapi kayaknya ga ada kata itu deh
aziz: jurnalis mana tuh yg nulis?
Ratih: okezone
Ratih: ada2 aja
aziz: ga mutu deh bahasanya
Ratih: abiiiiis
Ratih: tapi itu realita
Ratih: sering terjadi
Ratih: kaum pers yang mempropagandakan kata2 baru tersebut
Ratih: entah yang dipinjam dari bahasa asing
aziz: pas pemilu jurnalis sering bgt slah nulis istilah
Ratih: atau dipinjam dan dipadupadankan dengan bahasa asing maupun bahasa indonesia
Ratih: oiya?
aziz: iya....money politic dipake di mana2
aziz: padahal salah istilah mereka
aziz: dasar waton
Ratih: waton apaan?
aziz: waton nulis money politic...tp salah maksudnya
Ratih: tapi kan karena posisi masyarakat indonesia yang menengah cenderung ke bawah dalam hal kualitas, menganggap apa yang mereka dengar itu pasti benar
Ratih: jadi, kepakelah kata2 itu
Ratih: pembodohan publik
aziz: jurnalis kompas aja nulis money politic
aziz: terjemahan dr politik uang
Ratih: hmmm.....
Ratih: mungkin karena kata itu sudah dianggap konvensi masyarakat
Ratih: lepas dari arti sesungguhnya
Ratih: alasannya ya karena prestise
aziz: money politic kn udah ada istilahnya sendiri...baku lg
Ratih: apa?
aziz: money politic itu istilah ekonomi
aziz: bank sentral yg ber-money politic
Artikel ini memiliki: 4 Komentar • Rating 0