Dia melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.
“Ndok kene mesti resik, Mas,” ungkapnya penuh keyakinan.
Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari sana — barangkali– bisa terpantul sejumlah pokok soal yang lebih besar: ihwal perilaku, akses, juga perihal kesehatan yang mensyaratkan sistem sanitasi yang baik.
Sebuah jamban adalah sebuah dunia. Simaklah bagaimana sebuah artikel dari tahun 1927 yang muncul di koran “Soeloeh Indonesia” mengomentari soal toilet dan manusia Indonesia:
Di antara orang Indonesia, ujar sang penulis artikel, “Masih banyak yang lebih menyukai gubug daripada rumah, dan ada sejumlah pelayan Indonesia, bahkan, yang dapat mengotori WC ketika nyonya rumah tidak melihatnya.”
Benarkah itu tanda perilaku jorok warga bumiputera? Nanti dulu. Jorok atau tidak, untuk soal kutipan di atas, bisa jadi mengandung bias: siapa yang berhak menilai dan dengan standar apa jorok atau tidaknya diukur?
Frantz Fanon dan Mas Marco pasti bisa dengan sigap memberikan bantahan yang sama tajamnya.
Lagi pula, Londo-londo memang tak becus — juga tak niat — untuk memberikan fasilitas sanitasi bagi warga bumiputera yang sesuai dengan standar [dengan mengutip istilah Ivan Illich] “higienisme” Barat.
Bahkan hingga menjelang mampusnya rezim kolonial kulit putih itu, rasisme masih juga merembes pada soal buang hajat. Dalam sebuah laporan tertulis buatan tahun 1941 terbaca fakta seperti ini: “…Di bank-bank setempat, di pintu menuju jamban-jamban, ada empat papn yang digantung dengan pesan: 1. Pimpinan; 2. Staf [Kulit Putih]; 3. Orang Asia; [4] Juru tulis dan orang-orang lain.”
Kalimat Mas Marco ketika mengomentari persoalan jatah tempat duduk di kereta yang diskriminatif dan rasialis masih bisa digunakan untuk me-misuh-i situasi di atas: “Astaga, saudara-saudara! Bahkan di situasi semacam itu….!”
Artikel Soeloeh Indonesia terbitkan 1927 di atas sendiri sudah mengeluhkan tendensi diskriminasi macam itu. Sebagian dari kami yang mengenakan selendang asli [baca: sarung] atau kopiah Muslim, demikian tertulis, “…harus membuang hajat di jamban biasa.”
Pria itu, 83 tahun kemudian, juga bersarung dan berkopiah, tapi tidak lagi di jamban. Katanya, “Iki jenenge toilet, mas!”
Dan untuk soal yang terakhir itu, perkara toilet dan muatannya yang serius, silakan bertanya pada Slavoj Žižek.
(Lihat foto: Toilet dan Peradaban)
Artikel ini memiliki: 36 Komentar • Menarik +9