Janji Sugriwa • penulis: liwung, 03 Februari 2010 23:30:52 • 21 KomentarMenarik +5

Meraih kekuasaan tentulah mendatangkan rasa suka cita. Tak jarang rasa suka cita itu demikian memabukkan dan membuat orang lupa bahwa ada janji yang harus diwujudkan dalam sebuah kekuasaan.

Di istana Kiskenda, Rama dan Lesmana gundah. Telah lebih empat purnama ia tinggal di istana para wanara tanpa kepastian. Membayangkan istrinya, dewi Sinta ada di istana Rahwana makin membuat hatinya remuk. Empat purnama terasa empat abad menjalaninya.

Rama sudah tidak sabar, maka ia memberi perintah kepada adiknya  “Lesmana, kau harus pergi menghadap Sugriwa. Ingatkan raja wanara itu bahwa dia bisa merebut tahta Kiskenda karena jasaku. Panahkulah yang membunuh Subali, saudaranya yang sangat sakti itu”.

“Sekarang saatnyalah dia memenuhi janjinya untuk membantuku menemukan dewi Sinta. Empat bulan musim hujan telah berlalu, tidak ada alasan lagi baginya untuk menundanya lagi”.

Jiwa muda Lesmana tak dapat ia tutupi, ia berangkat dengan hati geram. Di gerbang istana para pengawal membaca roman mukanya. Semuanya ketakutan, tak ada yang berani menghadang Lesmana. Mereka berlarian menghadap Hanoman dan Anggada.

Hanoman dan Anggada tahu betapa gentingnya keadaan. Tetapi Sugriwa yang sedang mabuk di keputren tidak juga sadar “Apa salahku, mengapa para sahabatku marah kepadaku. Pasti musuh mengarang cerita tidak benar dan mengadu domba aku dengan mereka”.

Dengan bijak Hanoman memberi nasehat”Maafkan paduka tuanku, paduka telah melupakan janji paduka kepada Rama. Ini menyakitkan hati Rama, paduka terlampau banyak bersenang-senang dan tidak peduli akan kesedihan Rama. Demi kebesaran dan kemasyuran paduka, paduka harus segera meninggalkan kesenangan paduka dan memenuhi janji paduka kepada Rama”.

Lesmana menunggu dengan tidak sabar, segala kemewahan istana Kiskenda yang kini ia lihat makin membuat amarahnya tak tertahankan lagi. Ia angkat busurnya, ia tarik talinya kencang-kencang. Suaranya menggelegar memekakkan seluruh istana Kiskenda. Sugriwa sadar sekutunya sedang dilanda amarah yang meluap-luap.  Dengan cerdik ia minta istrinya menemui Lesmana.

Dewi Tara menemui Lesmana”Maafkan Sugriwa, pangeran. Sekian lama hidupnya menderita, teraniaya dan penuh kekurangan. Kini ia tengah hanyut dalam kekuasaan dan kekayaan duniawi yang memabukkan. Aku tahu kesalahannya, tapi pangeran adalah ksatria utama tentulah bisa memaafkannya. Aku jamin ia tidak akan melupakan janjinya”.

Amarah Lesmana reda, ia pun dibawa masuk ke dalam istana. Sugriwa menyambutnya, ia tahu segala amarah dan perbuatan tidak pantas Lesmana kepadanya memang patut ia terima.

Cimacan, malam hari, 3 Februari 2010.

(Sumber Cerita:  Mahabarata-Ramayana, Rajagopalachari, penerbit  IRCiSoD)


Artikel ini memiliki: 21 KomentarMenarik +5

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »