Sudah 6 presiden memimpin Indonesia. Gaya kepemimpinan mereka berbeda-beda meskipun ada yang mengatakan gaya salah satu mirip dengan pendahulunya. Yang pasti menurut laporan kompas, gaya mereka dalam menghadapi demo juga tak sama. Ada yang merangkul pendemo dengan senyum. Ada yang memarahi pendemo, tapi ada pula yang ngacir.
Presiden Soekarno menjelang turun dari kekuasaannya menerima demonstran angkatan 66 di istana merdeka, meskipun tak jelas suasana pertemuan dan apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut.
Presiden Suharto, punya cara berbeda. Saat 26 Desember 1973, Hariman Siregar, Ketua DM UI memimpin demo di depan Istana Negara, tak bisa ketemu dengan Presiden. Tapi oleh staf kepresidenan, pendemo diminta bikin surat untuk bertemu presiden.
Hariman meminta secarik kertas. Di situ dia menulis agar pendemo bisa bertemu dengan Presiden. Hasilnya, 5 tahun kemudian, 11 Januari 1978, para demonstran wakil dari seluruh perguruan tinggi diterima Soeharto.
Dalam pertemuan itu seorang mahasiswa berteriak pada Suharto, “Penipu, pembohong.” Tapi suharto cuma tersenyum. Tapi, ketika pertemuan rampung, mahasiswa yang berteriak tadi malah minta tanda tangan Suharto dan minta foto bersama. ”Saya mencegah keinginan mahasiswa itu. Pak Harto memeluk saya,” ujar Hariman.
Habibie beda lagi, dia belum pernah menerima pendemo. Pada masa itu (1998), pengunjuk rasa dari Universitas Trisakti menerobos masuk ke halaman Sekretariat Negara. Sejak itu salah satu ruas Jalan Merdeka Utara ditutup untuk lalu lintas umum sampai hari ini.
Gus Dur punya cara yang berbeda. Jumat, 29 Oktober 1999, setelah pelantikan kabinet, ratusan mantan pegawai Departemen Sosial dan Departemen Penerangan berunjuk rasa di depan Istana Merdeka. Gus Dur dan Megawati keluar dari istana menghampiri para pengunjuk rasa. Terjadi dialog antara Gus Dur dan para wakil pengunjuk rasa. Gus Dur menjelaskan mengapa harus membubarkan kedua departemen itu.
Siang hari, 7 April 2000, ratusan anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah demo di depan Istana Merdeka, persis saat Gus Dur sedang tidur siang. Ia bangun dan menerima enam wakil pengunjuk. Setelah keluar sampai di halaman istana, salah seorang panglima Laskar Jihad berteriak-teriak mengecam keras sikap Gus Dur tentang kerusuhan di Maluku saat itu. Menurut salah seorang pembantu Gus Dur, saatpertemuan, para pemimpin Laskar Jihad itu kena marah dari Gus Dur.
Megawati, juga tak pernah menghadapi langsung pendemo. Menjelang akhir pemerintahannya, banyak terjadi aksi unjuk rasa terhadap Mega. Terjadi aksi pembakaran foto Mega dan ban bekas di depan Istana Merdeka. Dari rumahnya di Kebagusan, Megawati memberikan komentar. ”Lho, foto saya kan cantik dan ban bekas itu bisa dibuat pot tanaman, kenapa dibakar?” Namun, ada mahasiswa yang ditahan polisi karena aksi tersebut.
Nah SBY punya cara yang berbeda lagi, seperti di tulis sarapan politikana. Saat demo peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember lalu, SBY pergi ke Bali, untuk mengadiri Forum Demokrasi, padahal pertemuan yang dihadiri 31 perwakilan negara itu, resminya baru dibuka 10 Desember, sehari setelah demo Anti Korupsi.
Ketika terjadi demo memperingati 100 hari pemerintahan SBY jilid 2. SBY pun, pergi ke Banten, untuk meresmikan proyek pembangkit listrik. Apakah SBY ngacir menghadapi demo? Tidak. “Itu agenda kerja yang sudah dipersiapkan sejak lama,” kata juru bicara presiden.
Dari sekian banyak gaya presiden di atas, mana gaya favorit Anda menghadapi pendemo?
Foto dari sini
(Lihat foto: Menghadapi Demo: Senyum, Marah atau Ngacir?)
Artikel ini memiliki: 8 Komentar • Menarik +1