.......
![]()
Menulis, berdiskusi, dan kemudian terjebak dalam fallacy tentu sangat membosankan, terlepas salah-benar dari argumentasi serta premis-premis didalamnya. Di Politikana sendiri ada yang sampai mengundurkan diri atau menghapus artikel gara-gara mendapatkan kritikan pedas ini...hehehe ..kaciaaaann .
Ilustrasi:
- Seorang anak balita yang dilarang Mama-nya supaya tidak membeli jajanan tertentu ,biasanya si Anak tidak akan bertanya mengapa dilarang, melainkan akan berteriak "mama jahat.., mama pelit..huhuhuhu", kaciaaannn
- Seorang penulis mengkritisi suatu kebijakan yang dibuat Presiden, lalu seorang kritikus hebat berkata : "Ooo..jadi anda tidak mendukung Presiden dan membenci Pak Presiden"
- Seorang penulis lain menulis keberhasilan dari seorang Presiden, lalu seorang kritikus hebat berkata: " Oooo..jadi anda ngepro pada Presiden, anda tidak mendukung rakyat..."
- Seorang penulis menulis tentang kecantikan Sandra Dewi, sang kritikus hebat berkata: " Ooo..jadi anda naksir Sandra Dewi, anda pria mata keranjang ya...inget anak isteri wooyy.."
Kesimpulan ilustrasi diatas , yang jadi sasaran kritik bukan kandungan argumentasi dalam tulisan, melainkan diri penulis, dan biasanya pembicaraan akan beralih ke tema karakter diri, substansi tulisan diabaikan (Red Herring) , mungkin hal ini juga bisa disebabkan ketidakmampuan menganalisa isi tulisan maka penulisnya yang jadi sasaran kritik, aduh kaciaann...
Jika sudah demikian maka substansi diskusi-pun punya kemungkinan kacau-balau, terutama jika penulis tidak memiliki kapasitas untuk menetralisir kritikan-kritikan yang tidak obyektif dan tidak kontstruktif tersebut , istilah populer di politikana "asal jeplak (tm)" . Mungkin fenomena spt ini akan berbeda untuk tulisan-tulisan curhat para ABG di friendster yang menulis memang ditujukan untuk curhat percintaan dan mengharapkan suatu konseling dari komentator.
So, tak ada manusia selalu benar, baik penulis maupun tukang kritik, tapi jika terpola secara obyektif dalam estetika bahasa tentu bisa menjadi konstruktif dan menambah kekayaan berfikir dan pemahaman keragaman budaya manusia, sehingga misi suatu artikel sebagai koreksi sosial akan mendapatkan fungsinya, karena suatu artikel online seperti di Politikana ini bukan cuma konsumsi warga, tapi juga dibaca dari seluruh dunia.
Tulisan terkait dengan bahasa, dan bahasa terkait dengan estetika, maka penilaian secara realitas lebih tepat dibanding hanya mengacu faktor metode berfikir ilmiah atau matematis, ataupun berdasarkan persepsi budaya tertentu.
(Lihat foto: Mengkritisi vs ngedumel )
Artikel ini memiliki: 23 Komentar • Bagus +4