Melihat demokrasi kita yang penuh keriuhan, membuat saya berpikir, haruskah demokrasi itu riuh? Yang menjadi masyarakat biasa berupaya mengencangkan teriakannya, karena merasa kurang didengar pendapatnya. Yang sedang memerintah sibuk menjelaskan apa yang selama ini dilakukannya, merasa masyarakat tidak memahaminya. Yang satu bilang gagal total, yang lainnya bilang berhasil 100%. Apakah demokrasi yang benar itu demokrasi yang berlangsung dengan mengadu kerasnya suara, banyaknya massa, baik yang pro ataupun yang kontra?
Betapa repot dan mahalnya demokrasi yang riuh itu. Tenaga dan daya banyak tercurah untuk mengeraskan suara, bukan untuk berkarya nyata. Diskusi pada forum terhormatpun sebagian besar waktunya habis untuk meributkan masalah yang bukan pokok bahasan utama. Rakyat sibuk menonton, bingung memilah dan memilih mana yang bersuara benar. Jam tayang televisi habis untuk menayangkan orang bertengkar, bukan untuk menayangkan hal2 yang menginspirasi masyarakat untuk makin maju. Koran penuh dengan kutipan cerita keriuhan yang sedang terjadi, bukan mewartakan prestasi nyata yang telah diraih.
Saya membayangkan demokrasi yang santun dan tenang, di mana saat seseorang menyatakan pendapatnya, yang lainnya dengan penuh perhatian mendengarkan, berusaha memahami apa yang dimaksudkan si pembicara. Saya membayangkan setiap pembicaraan dalam forum2 kenegaraan berlangsung dengan lugas, langsung ke pokok persoalan, bersama2 mencari solusi, bukan sekedar nampang aksi. Saya membayangkan demokrasi yang penuh rasa persahabatan, di mana setiap pembicaraan berlangsung dengan hangat laksana percakapan antar sahabat; saling mengoreksi di mana perlu; saling mendukung kebaikan yang dilakukan sahabatnya. Demokrasi yang santun dan tenang tidak perlu teriakan, cukup kata2 bijak. Demokrasi yang santun dan tenang tidak perlu kemarahan, tapi perlu kecerdasan. Demokrasi yang santun dan tenang, perlu komunikasi yang baik antara pemandu dengan yang dipandu, antara yang telah terpilih dan yang telah memilih, antara yang telah berjanji dan yang diberi janji, antara pemikir dan pekerja.
Artikel ini memiliki: 27 Komentar • Menarik +5