Bangsa GILA • penulis: doeh, 23 Januari 2010 00:35:53 • 0 KomentarBiasa +2

Gila selalu diartikan tidak waras, abnormal, sinting, bahasa jawanya gendeng, edan. "Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku kurang wajar. Gila yaitu hilangnya suatau pikiran dikarenakan penyebabnya oleh setres atau ada masalah pribadi yg di alami oleh seseorang yg tidak waras tersebut. Yang mengakibatkan pikiran yg tidak terkendali dan akhirnya menjaddi berpikiran tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa)" ini artian dalam Wikipedia Bahasa Indonesia.

Ketika orang bertingkah aneh, di luar batas kewajaran, kepatutan, nyeleneh, dan tidak mengikuti sistem maka orang tersebut akan di labeli dan dikatakan gila. Inilah persepsi saya tentang gila, yang selalu keluar dari sistem, norma dan batas-batas kepatutan maupun kewajaran. Saya contohkan; Suatu pertandingan sepak bola di Liga Indonesia dimana dua tim saling beradu di lapangan hijau, terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan tim A di kotak terlarang kemudian wasit menghadiahi tim B pinalti sebagai hukuman pelanggaran oleh tim A, yang kemudian terjadi adalah tim A protes dengan melakukan berbagai hal yang tidak sewajarnya kepada wasit di pertandingan itu, suporter tim A juga merasa kesal dengan keputusan wasit dan melakukan pelemparan hingga masuk ke dalam lapangan dan memukul, menendang, meludahi wasit. Orang-orang di tim A dan suporter yang melakukan tindakan anarkis tersebut saya anggap gila.

Satu contoh lagi; Ketika ada operasi pasar Sembako murah yang diperuntukkan warga kurang mampu, yang terjadi adalah kerumunan warga yang membeludak dan banyak dari warga mampu yang ikut-ikutan mengambil jatah Sembako yang seharusnya mereka tidak dapat, alhasil kerumunan yang membeludak tersebut memakan korban jiwa. Ini seharusnya tidak terjadi, maka warga mampu yang ikut mengambil jatah itu saya anggap gila. Jaman yang kita hidupi sekarang ini tak ubahnya Jaman Edan dimana orang-orangnya ikutan edan, kalau gak edan bisa gak keduman (kebagian).

Kasus-kasus macam korupsi merajalela dimana semua orang ikut-ikutan korupsi, korupsi waktu, korupsi nilai, korupsi uang dan korupsi bla.bla.bla. kasus Century-Gate, Sodomi, Pembobolan ATM, Pembunuhan hingga mutilasi, Silang sengkarutnya dunia pendidikan, UU ITE dan banyak lagi lainnya. Ini yang menegaskan bahwa sekarang ini jaman gila dan bangsanya pun ikut-ikutan gila. Tidak cukupkah kita telah dijajah beratus-ratus tahun oleh bangsa asing dan setelah terbebas, ternyata kita masih dijajah bangsa sendiri dan juga bangsa asing baru.

Effendy Ghazali dalam sebuah artikel di media cetak (Koran) yang menyebutkan bahwa bangsa kita ini adalah bangsa pelupa dan instan. Persepsi saya dari artikel tersebut adalah bangsa kita mudah melupakan kasus-kasus yang belum selesai ujungnya ditambah lagi muncul isu-isu baru dan kasus-kasus baru sehingga kasus yang pertama menjadi hilang entah kemana. Bangsa yang instan karena kita selalu suka dan menginginkan segala sesuatu yang instan atau karena bangsa kita adalah pengkonsumsi Mie Instan terbesar di Asia Tenggara.

 Tak salah jika melihat perkembangan dan kenyataan yang terjadi sekarang ini, semakin memperkuat dan menegaskan bahwa bangsa kita adalah bangsa pelupa, instan dan juga gila. Kemana para Intelektual, Cendekia, Mahasiswa, Profesor, Doktor, Guru, Insinyur dan semua elemen masyarakat, apakah mereka ikut menjadi gila atau diam saja melihat kegilaan yang sedang terjadi sekarang ini.

Diposting juga di blog pribadi dan persma.com


Artikel ini memiliki: 0 KomentarBiasa +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »