Sebuah berita di JakartaPost hari ini mengingatkan saya tentang posting fiksi ini.
Laler kemudian menutup pertemuan itu. “I guarantee you, We will have that strategic partnership when President Obama visit us in November”. Ditambahkannya bahwa agenda kerjasama militer dan pertahanan masih disimpan dan baru akan dikeluarkan pada saat kedua pemimpin nanti bertemu bulan November. Karena kebetulan akan ada pertemuan APEC di negara tetangga Singapura. Hanya 1 jam terbang dari Jakarta. [Pertemuan berubah ke April 2010-Red].
Laler menambahkan, “And please be cautious about the request to have access to Hambali from other branches within my government. Your plan to shut down Guantanamo will certainly trigger such request” tambahnya lagi sambil menyerahkan keputusan itu kepada rekannya. Ditegaskannya lagi, “The palace has no interest to bring him back ! With two elections this year, we do not need unnecessary distraction.”
Mereka berdiri, berjabatan tangan lalu berpisah arah. Belakangan Laler mendapat laporan bahwa permintaan itu ternyata datang langsung dari JK. Ia sudah menduga akan timbulnya kecenderungan itu segera setelah Presiden Obama menyatakan secara terbuka akan menutup Guantanamo, tetapi tidak pernah terlintas adalah JK langsung yang akan menyampaikan kepada pihak Amerika. Satu lagi broken chain of command dalam pemerintahan ini dalam mengelola isu. Entah apa yang ada di dalam otaknya.
JK mungkin sudah lupa apa yang terjadi dengan Abu Bakar Ba’asyir yang hanya mendapat dakwaan minor dan menjalani hukuman ala kadarnya, dan dalam prosesnya berubah menjadi super star, mengumpulkan pengikut dan menyebarkan benih-benih kebencian pada pemerintah.
Yudikatif adalah salah satu cabang kekuasaan trias politica yang paling tidak tersentuh reformasi selama ini, dan entah sudah seberapa jauh pengaruh dari kaum ekstrimis di lembaga peradilan negeri ini dengan dalih agama. Memutar balikkan kebenaran dan jam waktu dibentuknya negeri nusantara serta mencoba menggeser pondasi dan falsafah negeri. Tidak ada yang tahu sudah seberapa dalam penetrasi ideologi itu menusuk sendi-sendi perangkat lembaga peradilan.
Sambil berjalan menjauhi lounge mewah itu sekilas dilemparkannya pandangan keliling. Dari sudut matanya tampak tiga pasang mata dengan kesiagaan tinggi itu ternyata masih mengawasinya.
Laler sadar, nomor handphone yang dipakainya ini dimonitor oleh setidaknya 4 lembaga negara. SMS-nya tentang konfirmasi pertemuan siang ini sudah bocor kemana-mana. Seharusnya ia memakai alkom yang lain. Ah sudahlah. Diingatkannya lagi untuk menyempatkan waktu berkunjung ke markas besar Pejaten nanti siang untuk meminta Opung menarik para telik sandinya dari pekerjaan tak berguna ini. Tiga orang yang diturunkan untuk operasi seperti ini sepertinya sudah terlalu banyak.
Putaran kunci itu menghidupkan jeep mercy hijau lawas bernomor polisi tiga digit tanpa akhiran yang akan mengantarkannya kembali ke istana. Sudah ada pekerjaan lain yang menunggu. Terbongkarnya penyelundupan puluhan ribu bungkus rokok ke Singapura yang melibatkan sejumlah oknum TNI AL bekerjasama dengan pangkalan AL Singapura itu harus segera dicarikan jalan keluarnya. Komunikasi sudah dijalinnya dengan Kolonel Bibit di ring 1 dan Pak Alberto di kantor Menko. Laler hanya ingin memastikan agar semua pihak bersiap dan mendapatkan update informasi terkini. Masih ada cukup waktu sebelum berita ini bocor tertangkap media. Untuk hari ini rasanya sudah cukup.
Jeep Mercy itu baru saja meluncur melewati lampu merah depan Bank Indonesia menuju Istana. Blackberry Bold hitam keluaran terbaru dengan enkripsi sandi crypto 128 kilobita yang ditanam khusus pegangan telik sandi bhayangkara utama yang tergeletak di kursi samping pengemudi itu bergetar lembut, tetapi luput dari perhatiannya. Layarnya berkedip …. “Dian Sastro is calling ….” Halah.
(Selesai)
PS: Mohon maaf bila ada kesamaan nama dan peristiwa. Laler sedang belajar bertutur dan bermain-main dengan diksi. Ngung .. Salam, Laler …
Original post here
Artikel ini memiliki: 2 Komentar • Keren +2