Petinggi Partai Demokrat menilai sikap nyentrik Ruhut Sitompul memiliki kemiripan dengan perilaku almarhum Abdurrahman Wahid. Gus Dur tampil di panggung politik dengan gaya khasnya sendiri dan Ruhut pun demikian.
"Perilakunya hampir sama dengan Gus Dur, tidak mewakili siapa-siapa tapi mewakili dirinya sendiri,” ujar Wakil Ketua Partai Demokrat Ahmad Mubarok saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Minggu (17/01/2010).
Mubarok menjelaskan, kini sudah banyak orang yang memisahkan Ruhut dengan Demokrat. Tindakan Ruhut dianggap tidak mewakili partai dan tidak akan berdampak pada citra partai. ( Okezone News, 17 - 1 - 2010 )
Beginilah cara politisi dalam memutar-balikkan fakta. Fakta yang saya maksud jelas berkaitan dengan kemiripan yang dialamatkan Ruhut dengan Gus Dur. Benarkah demikian? Benarkan ke’nyentrik’an Ruhut dapat disamakan dengan Gus Dur. Ya, mungkin yang dimaksud ke”nyentri”kan Ruhut dan Gus Dur terletak pada keberanian untuk beda dengan pendapat orang lain. Namun melihat “beda”-nya Ruhut dengan kawan-kawan pansus tentu sangat disayangkan jika kemudian tergesa-gesa kita samakan dengan kenyentrikan Gus Dur.
Baiklah, salah satu "kenyentrikan" Gus Dur yang saya ingat adalah manakala keberanian untuk menyebut para anggota dewan dengan sebutan anak-anak TK. Saat itu sebenarnya telah banyak sorotan miring berkaitan dengan kualitas anggota dewan. Adanya dewan yang hanya suka rebut-ribut dalam ruang sidang, tapi di lapangan/pekerjaan hasilnya nihil. Banyak anggota dewan yang pandai untuk merengek-rengek jabatan. Banyak anggota yang suka sekali refresing, dan lain sebagainya, sebagai cerminan anak-anak usia TK. Hal yang lumrah jauh sebelum Gus Dur mengecap para dewan dengan sebutan anak-anak TK.
Artinya apa? Gus Dur meskipun selalu ceplas-ceplos dalam memberikan statmen tentu atas dasar apa adanya. Meskipun “apa adanya” tersebut selalu terbukti kemudian setelah orang-orang mencibir pernyataannya. Usulan Gus Dur untuk membubarkan Departemen Agama yang nampak berseberangan sebenarnya cerminan kehendak rakyat atas carut marutnya Departemen itu.
Nah, bagaimana apakah masih berani menyamakan "kenyentrikan" Ruhut Sitompul dengan Abdurahman Wahid? “Sudah banyak publik yang memisahkan Ruhut dengan Demokrat. Perilaku Ruhut itu dianggap bukan representasi Demokrat. Dia kan pemain sinetron, jadi ekspresi sinetronnya lebih kuat dari ekspresi politik,” ujarnya. “Wong Ruhut saja kok repot, Ruhut, ya Ruhut,” imbuh Mubarok. Nah ini mungkin, bikin repotnya ini yang dimasud sama dengan Gus Dur.****
(Lihat foto: Demokrat : Ruhut Mirip Gus Dur)
Artikel ini memiliki: 41 Komentar • Menarik +8