M A J N U N! • penulis: Black Horse, 16 Januari 2010 20:38:04 • 71 KomentarMenarik +9

Kisah melankolis Laila dan Majnun sangat terkenal dalam dunia Arab. Konon kedua makhluk Tuhan beda fisik dan ornament itu kesemsem asmara. Majnun,  sangat tergila-gila pada keindahan Laila. Saking dahsyat cintanya kepada Laila, Majnun sering merangkai syair-syair keindahan yang melukiskan kesempurnaan Laila. Dalam sebuah syair ia bertutur. “Sekelompok dungu menghina Laila, karena mereka menyangka Laila berkulit hitam, namun bagiku minyak Misk bernilai tinggai karena berwarna hitam.”

Harun Arrasyid, Khalifah kelima dinasti Abbasiah sampai-sampai penasaran saat mendengar berita tentang kecantikan, keelokan dan kesempurnaan Laila.

Atas perintah Khalifah, suatu hari, Laila dibawa kehadapan Harun. Sontak dan terperanjat kaget sang Khalifah saat mendapati gadis pujaan Majnun hanyalah seorang gadis sahara berkulit hitam. Lalu, sang Khalifah memerintahkan kepada prajuritnya untuk membawa Majnun ke Istana. Dihadapan Khalifah, Majnun sangat tenang dan kalem, berbeda dengan Khalifahyang penasaran, lalu kepada Majnun ia bertanya: “mengapa engkau merangkai syair keindahan dan kesempurnaan buat Laila? bisakah engkau ceritakan kepadaku tentang keistimewaan kekasihmu itu? Bukankah dia hanya seorang gadis sahara yang berkulit hitam?.

Dengan penuh keyakinan, Majnun menjawab dengan merangkai syair: “Engkau melihat Laila dengan penglihatan yang tak sempurna, maka engkau dapati Laila tidaklah seelok sebenarnya, namun aku melihatnya dengan penglihatan sempurna dan segenap mata hatiku, dialah Laila, wanita nan elok. Inilah perbedaan pandanganku dengan yang lain!, Andaikan Laila seikat rambut, maka akulah yang berombak itu, andaikan Laila menjadi alis, maka akulah hiasan itu. Jika pun engkau wahai Khalifah menempati dan duduk tepat di bola mataku, maka hanyalah keelokan Laila yang nampak”.

Orang boleh berdebat dan berbeda pendapat tentang akal, namun semua setuju bahwa akal adalah alat berfikir. Dan dalam perkembangan peradaban, manusia menemukan cara-cara berfikir dengan benar yang mereka sebut dengan logika. Lalu apakah setiap kita berfikir itu selalu logis..? belum tentu, sebab tidak selamanya hasil berfikir itu selalu logis. Tidak jarang apa yang disebut rasional sebenarnya hanyalah irasional, atau yang irasional justru rasional, persis syair Majnun dalam menjawab Khalifah.  Karena dorongan nafsu dan prasangka, Majnun tidak mampu menjelaskan rasionalitas kebenaran Laila seperti di alam nyata, dan yang dia yakini itulah kebenaran.  Begitu juga kita dalam keyakinan, tunjukkan bahwa kita mampu menunjukkan rasionalitas kebenarakeyakinan yang kita yakini itu. Jika tidak, kita tidak jauh beda dengan Majnun. Ada dua kemungkinan, taklid buta dan nafsu!.

Maka, menjadi nihil untuk dialog dan menjadi tolol untuk menjegal yang lainnya.  

(Lihat foto: M A J N U N!)


Artikel ini memiliki: 71 KomentarMenarik +9

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »