Politik Kelamin • penulis: pall, 13 Januari 2010 08:40:05 • 51 KomentarMenarik +6

Di kalangan kaum feminis, ada istilah politik kelamin, atau sexual politics. Pandangan ini menggunakan pola pikir Marxian tentang pertentangan kelas. Jika Marx percaya bahwa konflik historis adalah antara proletar dan borjuis, maka politik kelamin membongkar pertentangan antarkelamin dalam perebutan kuasa.

Karena jenis kelamin juga cuma ada dua, sudah bisa kita tebak bahwa kaum feminis ini menentang dominasi laki-laki. Mereka percaya bahwa superstruktur (budaya, seni, struktur sosial, dsb) menjebak kaum perempuan dalam subordinasi politik. Perempuan dinomorduakan dalam politik. Dan politik dianggap terlalu maskulin.

Tapi ini pandangan yang muncul pada pertengahan abad ke-20, atau bahkan lebih awal lagi. Saat ini, kita telah menyaksikan politik yang tak lagi maskulin. Berbagai tokoh dunia muncul justru dengan memanfaatkan ke-perempuan-annya. Sebut saja Angela Merkel, Hillary Clinton, Margareth Thatcher. Atau mungkin juga Sri Mulyani di dalam negeri (saya tak tahu apakah Megawati termasuk atau tidak).

Sebuah film dokumenter di Discovery Channel, yang saya gagal mencari tautannya di internet, menyebut perempuan punya daya pikat yang tak dimiliki laki-laki. Mereka lebih ekspresif dalam berpidato. Ada emosi yang ditularkan.

Tetapi bahkan di Politikana ini pun maskulinitas amat kental. Jika tak ada statistik tentang berapa pengguna laki-laki dan perempuan, setidaknya dari nama penanya. Coba dilihat-lihat, cuma berapa yang memilih nama pena berkesan feminin?

 

[sumber gambar: http://www.find-female-names.com/uploads/Cleopatra.gif]

(Lihat foto: Politik Kelamin)


Artikel ini memiliki: 51 KomentarMenarik +6

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »