Jakarta Belajarlah ke Pangkalpinang. • penulis: FF Haq, 13 Januari 2010 08:03:28 • 9 KomentarPenting +2

Opini ini terlintas  dibenak saya pada saat membaca buku “Setengah Abad Kota Pangkalpinang Sebagai Daerah Otonom.”  Ternyata setelah membaca sedikit , Kota Pangkalpinang memiliki bentuk susunan tanah yang sama dengan Jakarta (cekung). Pangkalpinang pernah mengalami banjir besar pada tahun 1986. Hal ini ternyata menjadi masalah yang klasik pula di Kota Pangkalpinang, sama seperti Jakarta.

Mengapa Jakarta masih harus belajar, karena Pangkalpinang telah berhasil mengatasi masalah klasik tersebut. Bagaimana Jakarta? Banjir besar tersebut ternyata menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Melahirkan visi atau mimpi moral seumber inspirasi bagi pemimpin untuk menyusun perencanaan dan program untuk mengatasi banjir sebagai modal perilaku (mungin di Jakarta sudah dengan Kanal-nya).

Visi dan mimpi yang diharapkan oleh masyarakat Pangkalpinang untuk mengatasi banjir diwujudkan dengan membuat kebijakan revilisasi dan program pengembangan Pangkalpinang Timur. Program ini hampir sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah Jarkarta yaitu memperluas sungai, agar aliran menjadi lancar. Pemerintah Pangkalpinang menurut saya sangat cerdas dengan merencanakan menjadikan lahan sepanjang sungai tersebut akan diupayakan memiliki nilai multifungsi termasuk untuk dijadikan lahan tempat pameran, ekspo, dan bazaar seperti Sunday Market, kawasan industri maupun pemukiman baru seluas sekitar 600 hektar. Ide ini menurut saya sangat menarik karena bukan hanya mampu menciptakan daerah anti banjir, namun dapat mewadahi masyarakat yang memiliki kreatifitas lebih dan mampu menjadi daya tarik kota.

Untuk mengembangkan dan menyempurnakan program diatas Pemerintah Pangkalpinang mencoba memicu semangat mentalitas dan moralitas warga Pangkalpinang untuk menciptakan pola pikir perkotaan yang lebih tertib dan berbudaya, dengan mencanangkan program pencapaian Adipura pada tahun 2007. Sekarang yang menjadi pertanyaan apakah semuar warga Jakarta mau diajak bekerja sama untuk mengatasi masalah yang sudah semakin kritis? Kesadaran akan memilikilah yang mungkin dibutuhkan oleh warga Jakarta bukan hanya harta, tahta, wanita, dan gengsi semata.

Artikel ini terinspirasi dan mengutip sebagian isi dari buku “Setengah Abad Kota Pangkalpinang Sebagai Daerah Otonom.” Terima kasih Drs. Akhmad Elvian yang bersedia mendokumentasikan ini semua, semoga memjadi inspirasi bagi kota-kota lain.


Artikel ini memiliki: 9 KomentarPenting +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »