Emak…
Lima menit yang lalu
Aku memberimu puisi
Anggukmu dan senyummu
Adalan nafas buat perjuangan hidupku
Langkahmu yang tertatih ke arah dapur
Rambutmu yang mulai dihiasi salju waktu
Menyadarkanku akan jarak saat
Bisakah kau sadar bahwa tangan-tanganku
Yang kini perkasa menari diatas keyboard komputer
Adalah darah dan air matamu?
Aku menatap perempuan tua yang sedang terlelap di sofa itu. Wajahnya mengerut bercampur dengan garis-garis di dahinya yang sedikit hitam. Rambutnya sebagian besar sudah memutih laksana salju. Kebayanya berkibar ditiup angin sore, nafasnya terdengar berirama . Satu dua terdengar lebih panjang.
Emak sudah hampir seminggu ini tinggal di rumahku. Meninggalkan semua kenang-kenangan yang terindah dari hidupnya di desa. Memilih melupakan persahabatannya dengan kesejukan hawa gunung dan gemercik air sungai. Memutuskan untuk tidak menyerah pada niat bapak yang ingin menikah lagi.
Aku tahu dia tidak begitu menyukai suasana kota. Sering aku mendengar dia berujar bahwa tinggal di kota adalah pilihan terburuk dari situasi yang paling buruk. Sebuah situasi yang saat ini tengah dia hadapi.
“Emak teu bisa hirup diduakeun, Jang,(Emak tidak bisa hidup diduakan,nak)”katanya suatu hari saat aku membawanya jalan-jalan ke Museum Fatahillah, tempat yang paling ingin dikunjunginya saat ke Jakarta.
Emak benar. Cinta tidak bisa dibelah-belah. Ia bukan sepotong roti atau kue cuhcur yang bisa diduakan, ditigakan bahkan diempatkan. Cinta adalah persoalan simbiotik antar dua manusia, yang akan kehilangan subtansinya saat salah satu merasa tersakiti.
Mungkin ada 1001 alasan bagi sepasang manusia yang telah disatukan untuk berpaling.Banyak cerita yang beredar di tengah kita tentang seorang manusia yang memperlakukan pasangannya seperti seorang pembeli yang meninggalkan barang kesukaannya karena sudah terperangkap rasa jenuh.
Tapi bukankah kejenuhan itu tak memiliki batas dan selalu terulang jika kita sudah merasa tak berbatas lagi dengan sesuatu?Dan yang terpenting, bukankah nilai berharga dari 2 manusia yang saling mencintai itu adalah kesetiaan?
Aku cuma mengangguk dan tersenyum mendengar kata Emak itu.Tak banyak yang bisa aku lakukan. Aku pikir inilah giliran aku harus mengerti dia, setelah bertahun-tahun saat aku bayi dan remaja dia selalu berusaha mengerti aku. Memaklumi semua yang pernah aku lakukan padanya: ngompol dan menangis di tengah malam, merengek minta disusui, memukul bila tak diberi uang jajan dan bahkan memakinya saat dia memakai uang tabunganku untuk membeli beberapa liter beras buat kami makan. Ya inilah saatnya aku harus menyicil hutang-hutangku padanya.
“Emak benar, emak tidak salah melakukan ini,” ucapku. Tiba-tiba dia berhenti. Matanya yang bulat sedikit redup. Menatap dengan penuh keresahan ke arahku.
“Tidakkah itu berarti aku meninggalkan tanggungjawabku kepada bapakmu, Jang ?” tanyanya perlahan.
“Mengapa Emak berkata begitu? Harusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu ke Bapak..”ucapku. Ya, aku sangat ingin bertanya kepada laki-laki itu, apa arti waktu 38 tahun buat dia saat memutuskan menduakan Emak? Apa?
Aku raih pundak perempuan tua itu.Aku rangkul dia perlahan. Tercium wangi tanaman orang-aring dari rambut saljunya. Wangi yang sangat akrab dengan masa kecilku. Wangi yang membuatku selalu merasa aman dan terlindung jika ada di dekatnya. Wangi yang tak mungkin bisa menjadikan bayangan perempuan tua ini hilang dari hatiku. Sampai kapanpun.
**
Aku menatap perempuan tua yang sedang terlelap itu. Kali ini dia tidak berbaring di sofa, melainkan jauh di bawah gundukan tanah yang memerah. Padahal sepuluh jam lalu, baru saja Emak membuatkanku secangkir teh. Sambil menatap tumpukan buku-buku di ruang kerjaku ia kembali mengulang hikayat lama tentang kebiasaan masa kecilku: “Ujang ingeut teu? Kalau akan tidur,Ujang suka minta dibacakan cerita-cerita dari Mangle?” katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk.Pikiranku berlari cepat ke masa puluhan tahun lalu, saat seorang perempuan muda yang cantik dan lembut kerap menemaniku untuk menggapai mimpi di malam-malam masa kecilku,memindahkan makna barisan huruf yang ada di majalah sastra Sunda itu ke benakku.
Aku ingat betapa takjubnya saat mendengar kisah kecerdasan Si Kancil, lalu merasa kesal dengan kelambanan Si Kuya dan kelicikan Si Lutung, sedih dan marah kala mendengar Dalem Boncel yang durhaka kepada orangtuanya, dan ketakutan saat mendengar Si Dagdog dihantui arwah kakeknya. Ya betapa aku selalu diharubiru jika ingat,Emak adalah orang yang pertama kali mengenalkan aku dengan kata dan cinta.
“Ya,aku sangat ingat sekali,Mak.”kataku pelan.
Emak kemudian duduk di kursi dekat jendela, tepat disebelah komputerku. Matanya yang bulat dan sedikit redup menatap lalu-lalang kendaraan dan hiruk pikuk manusia di jalanan.
Sejenak dia terdiam. Menghela nafas kemudian beralih menatapku penuh arti. “Jang...”sapanya lembut,” Emak pesan jangan pernah menyakiti siapapun... Terutama perempuan. Menyakiti mereka, sama juga Ujang menyakiti hati Emak.”
Aku mengernyitkan dahiku. Tanganku yang sedang sibuk mengetik jadwal liputanku di hand phone, mendadak terhenti. Aku tatap perempuan tua berambut salju di hadapanku itu. Perlahan mata ini terasa hangat. Ada air yang mengambang di dalamnya saat tenggorokanku tercekat. Ah, sadarkah Emak, bahwa diriku yang sekarang ada di hadapannya adalah darah dan air matanya? Lantas, bagaimana aku bisa menyakiti sesuatu yang merupakan bagian hidupku?
“Aku ingin seperti yang Emak harapkan.Tapi aku tak berani janji,Mak,”Lidahku seperti kelu mengucapkan kata-kata itu.
Ya, aku memang tak berani berjanji.Kendati aku tak pernah berpikir untuk berpoligami, apa jaminannya aku akan konsisten sampai mati? Aku tahu itu adalah godaan hidup terberat bagi seorang laki-laki.Banyak contoh, tentang janji hidup semati yang ternyata lekang dimakan zaman.Seolah kesetiaan bagi seorang laki-laki hanya bisa ditemukan di cerita-cerita pendek dan novel-novel.
“Cara satu-satunya, Emak harus doakan aku.Emak harus terus berdoa supaya aku bisa menjadi manusia yang lurus dan tidak berlaku zalim kepada sesama.Termasuk kepada perempuan...”
Emak hanya tersenyum. Tipis dan penuh pengertian.Kemudian ia berdiri dan melangkah ke sofa.Merebahkan tubuhnya yang sedikit ringkih. Sambil menatap lemah para-para, mulutnya menggumankan sebuah kidung tua, ya sebuah kidung kerinduan akan tanah tumpah darah kami yang jaraknya beratus-ratus kilo meter dari tempat ini. Sesekali ada suara-suara Tuhan di sela gumanannya. Kemudian pelan-pelan dia terlelap. Masih dengan sesungging senyum. Dan aku tahu itu bukan senyum biasa.(hendijo)
Selamat Hari Ibu
Artikel ini memiliki: 7 Komentar • Bagus +2