Tokoh Kontraversial. Dengan Berbagai Dilema Kehidupan.
Ekalaya iku raja nagara Paranggelung. Dheweke duwe jeneng liya Palgunadi Ekalaya. Prameswarine Ekalaya jenenge Dewi Anggraini sing kondhang kasetyane. Ekalaya mujudake raja sinatriya sing adreng nggegulang dhiri ing ilmu kaprajuritan lan ilmu perang. Dheweke antuk warta yen ing nagara Astina ana sawijining guru sing mulang ilmu manah marang Pandhawa lan Kurawa. Ekalaya banjur nemoni guru kondhang kasebut sing ora liya Resi Drona. Ekalaya ora ditampa dadi siswane Drona. Nanging dheweke panggah pengin meguru marang Drona lan banjur tumuju ing tengahing alas gedhe. Ing tengah alas iku Ekalaya gawe patung sing wujude memper Drona. Ing papan kono Ekalaya ajar manah kanthi kairingan rasa yakin yen dheweke ditunggoni dening Resi Drona. Saben arep gladhen manah, luwih dhisik Ekalaya timpuh ing ngarepe patung Drona kanggo njaluk pangestu supaya kasil dadi satriya sing wegig temen-temen ing kaprigelan manah.
Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nisada. Kaum ini adalah kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu, namun memiliki kemampuan yang setara dengan arjuna dalam ilmu memanah. Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada bhagawan drona. Tetapi ditolaknya dikarenakan menurut drona ekalaya berasal dari kasta yang rendah. Disinilah terlihat betapa drona yang seorang pendetapun belum mampu memahami kemuliaan makna kasta (varna/warna) yang sejati.
Kata "kasta" berasal dari bahasa portugis yang ketika itu bergama kristen (kristen yang saya maksud disini bukanlah pengikut Nabi 'Isa / Yahushuah) "caste" yang berarti pemisah, tembok, atau batas. Sejarah kasta yang dituduhkan pada masyarakat hindu berawal dari kedatangan bangsa portugis yang melakukan pengarungan samudra ke dunia timur yang didasari atas semangat gold (memperoleh kekayaan) glory (memperoleh kejayaan) dan gospel (penyebaran agama/penginjilan). caste yang dalam sejarah portugis sudah berlangsung lama akibat proses feodalisme Bahkan feodalisme ini terjadi pada semua sejarah masyarakat dunia. Di inggris muncul penggolongan masyarakat secara vertikal dengan membedakan namanya seperti sir, lord, duke, dll. Gelar-gelar kebangsawanan teuku dan cut masih diterapkan secara kental di Aceh, di Jawa sendiri juga diterapkan dalam pemberian nama raden.
Sedangkan feodalisme di masyarakat hindu saat ini sendiri muncul dengan menyalah artikan konsep Catur Varna yang diungkapkan dalam Veda. Veda sama sekali tidak mengajarkan pemahaman sistem kasta dan tidak ada satu kalimatpun dalam Veda yang menulis kata "kasta". Catur Varna sebagaimana disebutkan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita 4.13
catur-varnyam maya srstam
guna-karma-vibhagasah
tasya kartaram api mam
viddhy akartaram avyayam
"Catur varna adalah ciptaan-KU, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah bahwa walaupun AKU PENCIPTAnya, AKU tak berbuat dan merubah diri-KU"
Perhatikanlah betapa sloka ini sudah dengan sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa Catur Varna diciptakan oleh DIA sendiri pada seluruh tataran kehidupan insan. Catur Varna hanya didasarkan oleh kerja dan kualitas seseorang, bukan berdasarkan kelahiran sebagaimana produk kasta yang selama ini dilontarkan.
Catur Varna membagi manusia kedalam 4 bagian, yaitu;
a. Brahmana ('Ulama / Cerdik Cendikia)
Adalah mereka yang memiliki kecerdasan tinggi, mengerti tentang kitab suci, ketuhanan dan ilmupengetahuan. Para Brahmana memiliki kewajiban mengajarkan ajaran ketuhanan dan ilmupengetahuan ke masyarakat. Brahmana juga memiliki kewajiban sebagai penasehat pada kaum kesatria dalam melaksanakan roda pemerintahan. Resi, Pedanda, Pendeta, Pastur, Kyai dan pemuka-pemuka agama lainnya, Dokter, Ilmuwan, Guru dan profesi yang sejenis dapat digolongkan kedalam Varna Brahmana
b. Ksatria ( Mujahidin )
Adalah mereka yang memiliki sikap pemberani, jujur, tangkas dan memiliki kemampuan managerial dalam dunia pemerintahan. Mereka yang masuk kedalam golongan Varna Ksatria antara lain; raja/pemimpin negara, aparatur negara, prajurit/angkatan bersenjata.
c. Vaisya ( Pengusaha / Ekonom)
Adalah mereka yang memiliki keahlian berbisnis, bertani dan berbagai profesi lainnya yang bergerak dalam bidang ekonomi. Dalam varna ini termasuk pedagang, petani, nelayan, pengusaha, dan sejenisnya.
d. Sudra
Adalah mereka yang memiliki kecerdasan terbatas, sehingga mereka lebih cenderung bekerja dengan kekuatan fisik, bukan otak. Contoh profesi sudra adalah pembantu rumah tangga, buruh angkat barang, tukang becak dan sejenisnya.
Penggolongan ini akan tetap hidup di masyarakat manapun karena watak, karakter, kecerdasar yang menentukan profesi seseorang tidaklah sama. Harus ada bos dan harus ada pembantu. Harus ada raja/ pemimpin dan harus ada rakyat yang dipimpin. Keempat golongan masyarakat ini harus bekerjasama untuk menciptakan masyarakat dunia yang harmonis dan bahagia. Jika kaum Vaisya mogok kerja, maka roda perekonomian tidak akan jalan dan terjadi krisis ekonomi. Jika kaum brahmana tidak menjalankan tugasnya, masyarakat mungkin akan kacau karena moral, agama dan pengetahuan masyarakat menjadi kurang, jika para administrator negara tidak jalan, maka negara bersangkutan menjadi lemah dan mungkin akan terjadi chaos dalam masyarakat. Jika para sudra / kaum buruh mogok kerja maka perekonomian dan kehidupan 3 golongan yang lain juga menjadi timpang.
Hanya saja akibat proses feodalisme, egosime dan keinginan untut menancapkan kuku kekuasaan, manusia sebagai orang tua berusaha menancapkan dan mengibarkan bendera kekuasaan yang sama kepada anaknya meskipun sang anak tidak memiliki kualifikasi yang sama dengan orang tuanya.
Orang tua terpelajar yang berkedudukan sebagai pemuka agama dan masuk kedalam golongan brahmana ingin agar anaknya dihormati dengan menjadikannya sebagai seorang Brahmana meskipun si anak tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam filsafat ketuhanan maupun pengetahuan lainnya.
Demikian juga pemimpin negara / raja berkeinginan agar garis keturunan biologisnyalah yang tetap berkuasa dan dihormati masyarakat sehingga dia memberikan nama gelar kebangsawanan pada anaknya yang meskipun kecerdasan anak tersebut sangat rendah dan tidak layak menjadi pemimpin.
Jadi, konsep pembagian penduduk secara vertikal yang berdasarkan kelahiran / trah / keturunan yang selama ini diterapkan baik di masyarakat Hindu sendiri ataupun di luar masyarakat Hindu sangatlah bertentangan dengan konsep ajaran Veda / Hindu sehingga masalah ini merupakan tantangan kita bersama untuk menghilangkan salah kaprah ini dari sistem sosial masyarakat dunia.
Artikel ini memiliki: 0 Komentar • Rating 0