Memperhatikan gonjang ganjing jagad politik negeri memang mengasyikan. Semua asyik mengumpat, juga memuji, atau menusuk dari balik lipatan. Dari sejak awal posisi menteri sudah di wanti wanti untuk hit the ground running. Tidak ada lagi cerita, "nanti saya pelajari dulu" atau "beri saya waktu". Situasinya, baik ekonomi atau politik, memang sudah tidak memungkinkan.
Ada beberapa benchmark yang akan dipergunakan. Yang pertama adalah penyusunan dan pelaksanaan program 100 hari, yang kedua adalah evaluasi menyeluruh satelah satu tahun pertama, dan yang terakhir adalah jika situasi menjadi genting.
100 hari pertama sebetulnya hanya uji coba, test yang sesungguhnya itu ada di tahun pertama kabinet, yaitu Oktober 2010. Akan ada achivement report bagi para menteri yang dikoordinir oleh sekretaris kabinet dan counter-nya dari UKP4. Kenapa harus di counter ? Karena laporan yang berasal dari kementrian masing masing itu isinya memang kurang lebih puja puji narsis kementerian itu sendiri. Mungkin dibuat sedikit agak njelimet supaya staf di setkab kelabakan membaca atau menerjemahkannya. Jadi terlalu berat sebelah. Untuk itu perlu diseimbangan.
Satu tahun adalah kunci evaluasi, karena kalau kita lihat sebuah pemerintahan periode kedua seorang presiden yang sama itu hanya efektif memerintah 3,5 tahun saja. Sisanya adalah periode transisi. Kesinambungan kebijakan sang presiden akan berhenti di sana, karena tidak ada yang mampu menjamin masa depan. Akankah pemenang akan berasal dari partai yang sama atau sama sekali berbeda. Satu tahun menjelang pemilu 2014 adalah masa masa yang tidak mengenakan. Sitting duck, kata orang Sukabumi. Tidak ada yang memperdulikan lagi, karena semua perhatian akan tersedot ke pemilihan presiden yang baru. Dan karena dilarang oleh Konstitusi, tidak bisa ikut untuk ke tiga kalinya.
Jadi, kalau harus dilakukan reshufle, itu hanya akan dilakukan satu kali saja, dan waktunya ya satu tahun itu. Setelah itu tidak ada waktu lagi untuk merubah rubah susuna kabinet, karena menteri baru, apalagi yang belum pernah jadi menteri, rata rata memerlukan waktu 6 - 12 bulan hanya untuk mengerti tugas apa saja yang dikerjakan oleh stafnya.
Reshufle tahun depan itu memang menarik untuk dicermati, karena undangan ke PDIP di bawah kepemimpinan Megawati masih terbuka dengan lebar. Keinginan presiden untuk melembutkan hati sang banteng merah moncong putih itu tidak akan pernah usai. Dan memang ada tiga posisi menteri yang sekarang diduduki oleh kader Partai Demokrat yang akan dengan sukarela diserahkan kepada PDIP, seandainya posisi Megawati sebagai ketua melunak.
Tiga posisi yang disediakan itu adalah Menteri ESDM, Menteri Pariwisata dan Menteri Perhubungan. Kandidat terbaik partai PDIP pun sudah dibidik dengan baik, yaitu Pramono Anung untuk ESDM, Puan Maharani untuk pariwisata dan Teras Narang untuk jadi menteri transportasi. Kader Partai Demokrat walaupun dengan berat hati akan tunduk pada titah sang dewan pembina untuk menyerahkan kursinya.
Undangan tetap terbuka, waktunya satu tahun lagi, itupun kalau Mega bersedia. Karena Taufik yang pragmatis memang sudah dijanjikan posisi untuk Puan di dalam kabinet walaupun akhirnya terhalang.
Satu tahun lagi, catat itu di tanggalan.
Salam, Laler ...
Artikel ini memiliki: 7 Komentar • Menarik +4