Membumikan “Politik” ala Politikana • penulis: Black Horse, 03 Desember 2009 16:18:52 • 31 KomentarMenarik +6

“Nun, Demi Pena dan apa yang tertulis” (al-Qur’an, 68:1)
 
Media tulis dengan ruang kertasnya ternyata masih jua membersitkan pengalaman eksistensial tersendiri yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh kehadiran media elektronik. Sebuah pengalaman eksistensial yang telah menitiskan “sakralitas”  yang lahir secara primordial bersama sejarah pengatahuan manusia. Sehingga tidaklah berlebihan jika “Nun…Demi pena dan apa yang tertulis”  adalah kesaksian perenial ayat-ayat Tuhan atas keluhuran peran historis “apa yang tertulis”.

Terilhami oleh makna falsafi petikan ayat al-Qur’an di atas, terserah jika dianggap lelucon, saya mencoba mengangkat isu klasik namun cukup menantang. 

Politikana jika tidak berlebihan, adalah sebagai ikon pemikiran dan wacana berpolitik, sayang dan terasa hambar jika gagasan dan ide yang mencerahkan di forum Politikana hanya bisa dinikmati di dunia maya. Gagasan-gagasan energik, membangun sekaligus menyentil itu, terlampau murah jika hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkesempatan akses dunia internet. Maka, tidak berlebihan dan akan lebih santun dan jujur jika gagasan dan ide itu juga bisa dirasa oleh warga bumi. Gagasan yang cukup sederhana, namun perlu keberanian dan ego. Iya… membumikan politikana agar cita-cita yang tertuang dalam Politikana>>>> [Politikana menganut prinsip independen dan non partisan dengan tujuan akhir untuk berkontribusi nyata terhadap kemajuan Republik Indonesia dan segala isinya. Semoga yang kita kerjakan di Politikana secara bersama-sama ini besar manfaatnya, untuk kita dan lingkungan kita, tidak saja sekarang tapi juga di masa yang akan datang!]. ……….bisa terwujud tidak hanya dialam maya, namun alam realitas. 

Membumikan Politikana yang saya maksud adalah mencoba menuliskan gagasan dan ide-ide Politikana yang tertuang dalam situs dengan mencetaknya sebagai kliping atau semacamnyalah…. yang mencerahkan sembari menawarkan kebersamaan yang lebih dekat dan akrab melalui penerbitan jurnal kajian politik ala “Politikana” yang tak lain adalah versi cetak dari situs.

Kalaupun masih ditanya mengapa harus “Politikana”? seru saya, “why not…?!”. Dus, kalaulah sekedar persoalan membubuh nama. Maka siapapun boleh sesuka hati memilih nama. Tapi jika tersirat alasan-alasan teologis dan filosofis disebalik itu, layak kiranya kita berbincang sejenak merenungkan arti yang terkandung. Namun begitu, dengan label “Politikana” bukanlah berarti kita hendak melugaskan sebuah madzhab politik baru di antara pelbagai aliran yang sok mendaku paling suci dan bersih berpolitik seraya berkelindan dengan beragam embel-embel yang selalunya menjuntai di belakang “ana”. Tapi “ana” menurut saya adalah upaya membuka diri untuk berani dan bebas memilih dan menerima ide dan gagasan membangun dari manapun datangnya. “Politik” adalah sudi mendengar dan berdialog tentang berbagai pandangan, “ana” adalah tegas dalam menyuguhkan pilihan yang benar dan ragam. Maka Politikana adalah tawaran ide dan gagasan politik sebagai pilihan purna ditengah keniscayaan altar kebhinekaan.!

Leluconkah…?

(Lihat foto: Membumikan “Politik” ala Politikana)


Artikel ini memiliki: 31 KomentarMenarik +6

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »