Kemarin, dalam rangka ulang tahun kantor, dibuat lomba menyanyi para karyawan, dengan salah satu jurinya adalah Maribeth, si denpasar moon, yang sangat tenar di Indonesia beberapa tahun yang lalu (ketahuan umurnya, kata bung Ibnu Muslim :D). Ketenaran ini sepertinya sampai membuat Maribeth berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Dan, beberapa tahun kemudian, dia jadi juri lomba menyanyi antar karyawan, tanpa ada orang yang mengenalnya, jika tidak diperkenalkan oleh panitia.
Mungkin Maribeth tidak pernah meyesali kepindahan kewarganegaraannya, tapi betapa ironis, hal yang pastinya begitu besar bagi Maribeth secara pribadi itu, sepertinya tidak ada membekas di hati masyarakat Indonesia.
Contoh lainnya, manohara, di mana beberapa bulan yang lalu, televisi tidak pernah luput menyebutkan namanya tiap hari (atau bahkan jam?) dengan kontrak sinetron milyaran per episode (produser yang jenius!), kini harus ikut demonstrasi di bundaran HI untuk mengungkit popularitasnya?
Dan lihatlah, SBY yang menang pemilu beberapa bulan yang lalu, dengan gegap gempita, dengan kemenangan yang gagah, kemenangan mutlak, didahului puja-puji pendukungnya yang menganggapnya setengah dewa selama kampanye (seseorang di sini menyebutnya mandor :D), lihatlah sekarang... Hari-hari ini, apa saja yang dilakukan SBY akan dianggap salah. Apapun yang diputuskan, harus lengser!
Kalimat 'ketenaran itu kejam' mungkin sudah umum, tapi, sepertinya menemukan bentuknya yang paling hebat di Indonesia. Mungkin ungkapan bahwa ingatan bangsa Indonesia yang pendek, benar adanya. Masyarakat begitu mudah menyanjung-nyanjung orang, dengan segala kebaikannya yang tanpa cela, dan kemudian, beberapa waktu kemudian, mencampakannya ke lubang, sedalam-dalamnya.
Kata istri saya, mikul dhuwur mendhem jero, meninggikan setinggi-tinggi-nya dan kemudian merendahkan serendah-rendahnya (jangan kuatir, itu merupakan tafsir kontemporer dari filsafat jawa tersebut versi istri saya saja).
Dalam beberapa hal, mungkin hal ini yang membangkitkan jiwa korupsi dari parapejabat pemerintahan kita (sekedar mungkin lho ya, tanpa bermaksud sebagai apologi buat para koruptor). Ketika mereka menjabat, segala sesuatu terlihat mudah, hingga batas-batas yang tidak masuk akal. Masyarakat begitu memuja mereka, menyediakan apa saja, bahkan tanpa diminta. Mereka mabuk. Mabuk tapi dengan kesadaran penuh, bahwa sesudah mereka selesai berkuasa, mereka akan langsung dicampakkan.
Dan satu-satunya cara untuk mempunyai kekuasaan sesudah tidak memiliki jabatan adalah dengan uang. Konsekuensinya, mereka 'menabung' sebanyak-banyaknya selama menjabat, dengan segala cara.
Pada akhirnya, jika anda sedang tenar hari-hari ini, berhati-hatilah. jangan kaget jika tidak seberapa lama lagi anda akan dicampakkan, sedalam-dalamnya.
Artikel ini memiliki: 11 Komentar • Menarik +4