Kang Sukro, tetangga dan teman main saya sewaktu kecil, bernama lengkap Sukrotes. Ayahnya, yang sekolah hanya sampai kelas dua SR (Sekolah Rakjat), pernah baca buku tentang Socrates dan dia tertarik dengan nama filosof itu. Maka ketika istrinya melahirkan anak laki-laki, sang ayah ingin sekali memberi nama Socrates. Tapi nama itu terlalu berbau kota bahkan kebarat-baratan, khawatir nanti sang anak sakit-sakitan atau bahkan tidak berumur panjang, setelah otak-atik nama jadilah nama Sukrotes, dengan panggilan Sukro.
Kang Sukro, teman kecil saya, hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Orang tuanya yang miskin tidak sanggup membiayai anak-anaknya melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Setelah dewasa, kang Sukro bekerja serabutan membantu para tetangga yang membutuhkan tenaganya untuk menggarap sawah, membetulkan genteng yang bocor, memetik buah kelapa, dan pekerjaan sejenisnya. Di samping bekerja serabutan seperti itu, kang Sukro punya kebiasaan suka berpikir. Tapi dengan suka berpikir itu, dia jadi suka bingung.
Kang Sukro sering sedih jika mendengar orang, atau membaca koran hasil pinjam tetangga yang menyebutkan bahwa kebanyakan rakyat Indonesia itu masih bodoh. Dia sering berpikir biarlah yang bodoh saya saja. Kalau bisa mayoritas rakyat mesti pinter. Kalau pada pinter, negara akan maju dan makmur. Kalau para tetangga pada makmur, kang Sukro berharap upah dia membantu para tetangga akan naik.
Beberapa bulan lalu, tepatnya menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden, kesedihan kang Sukra berkurang secara mencolok. Dari membaca koran pinjaman atau melihat berita TV di rumah tetangga, dia mendapati komentar, ulasan atau pendapat para ahli bahwa sekarang mayoritas rakyat Indonesia sudah pada pintar dan cerdas. Pendapat para ahli itu juga didukung oleh berbagai survey yang diselenggarakan oleh para ahli yang pada bergelar Doktor. Rakyat Indonesia sekarang sudah pandai dan cerdas, mereka akan menggunakan kepandaian dan kecerdasannya dalam menentukan pilihan calon wakil rakyat atau calon presiden nantinya. Kang Sukro gembira, kepintaran dan kecerdasan rakyat ini pertanda Indonesia akan segera maju dan makmur.
Kegembiraan kang Sukro akhir-akhir ini mulai menghilang, dan kesedihannya mulai bertubi-tubi datang. Baca koran, nonton TV, ngobrol dengan kawan-kawan di jalan, pasar, dan di warung kopi, hampir semua orang pada celotehan dan mencela presiden dan mengkritik para wakil rakyat di DPR. Kang Sukro berpikir, kalau waktu itu rakyat ramai-ramai memilih calon presiden yang itu, dan oleh para ahli, para pakar dinilai bahwa rakyat sekarang sudah pintar dan cerdas. Nah, kalau sekarang mereka pada mencela presiden yang orangnya itu juga, berarti rakyat sudah kembali seperti waktu sebelumnya, rakyat jadi bodoh lagi. Begitu logika kang Sukro.
Lalu apa penyebab yang menjadikan kecerdasan kemarin menghampiri rakyat Indonesia, kang Sukro berpikir. Apakah karena ada pemilu? Kalau karena ada pemilu rakyat jadi cerdas, kenapa tidak diadakan pemilu lagi, biar rakyat jadi cerdas lagi. Dan paling tidak, pikir kang Sukro, saya sedikit tambah makmur, ada kaos baru, uang sembako, dan diajak jalan-jalan plesiran oleh tim pemenang tingkat desa kalau calon yang dianjurkan menang. Kang Sukro masih terus berpikir, dan kang Sukro masih bingung.
(Lihat foto: Sukrotes Bingung)
Artikel ini memiliki: 2 Komentar • Bagus +2