Sembilan November lalu, dunia memperingati keruntuhan Tembok Berlin. Kenangan tentang masa-masa kejayaan komunisme di Eropa Timur pun kembali disebut-sebut. Salah satunya tentang anekdot-anekdot yang hidup di masa itu. Kompas menuliskannya di sini: Anekdot Era Komunis Tetap Hidup.
Di antara anekdot yang dirilis kembali oleh Kompas, ada satu yang membuat saya tergelitik. Ini kutipannya:
”Mana yang lebih baik, sebuah neraka komunis atau sebuah neraka kapitalis?
Tentu saja jawabannya neraka komunis! Selalu terjadi kelangkaan korek api dan bahan bakar, pemanas selalu rusak, dan para iblis serta makhluk-makhluknya selalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai”
Saya pun teringat anekdot serupa yang beberapa hari sebelum tulisan di Kompas itu naik cetak membuat tawa sekelompok komunitas meledak. Masih tentang neraka. Sebuah anekdot yang juga lahir karena perasaan ketertindasan.
Orang-orang yang tertawa dan tersenyum, lantaran anekdot itu adalah para veteran sebuah gerakan jihad terlarang (pinjam istilah Matahari Timoer) alias gerakan bawah tanah. Gerakan itu hingga sekarang masih eksis. Dipimpin oleh seorang Syekh yang sangat powerful; yang kekuasaannya tak tergoyahkan. Ia, oleh para pengikutnya, kadang dipuji tapi tapi terkadang dihujat.
Ia dipuji karena punya visi yang luas, kharismatik, tegas bukan kepalang, taktis, dan bla…bla…bla….
Tapi ia dibicarakan di belakang dengan aroma kebencian, yang tentu saja dengan skala yang saling berbeda satu sama lain.
Ia dibenci karena para pengikutnya mulai tak nyaman: ia diduga korupsi, ia disangka tak mau mengikuti ‘konstitusi gerakan’ yang bisa membuat ia kehilangan kekuasaan—atas aset yang ditera bernilai lebih dari dua triliun rupiah.
Ia dicibir karena duduk nyaman di sebuah jok Toyota Alphard, sementara para pengikutnya ‘terjebak’ dalam kemiskinan. Ia digerutui karena ia dianggap mengeksploitasi para pengikutnya demi keeksklusifan dan kenyamanan hidup. Ia juga dihujani serapah karena tak mau berubah meski ratusan ribu pengikutnya telah hengkang meninggalkan ia lantaran protes, melawan, atau hanya sebatas putus asa.
Anekdot ini lahir di kalangan mereka itu, yang tak kunjung berjibun kuasa untuk melawan, juga mereka yang sudah mengikhlaskan segala masa lalu yang penuh getir, sekaligus tawa–dan tentu saja hikmah.
Inilah anekdot itu:
“Aku baru tahu bahwa semua yang pernah menjadi pengikut Syekh akan menjadi penghuni neraka,” kata si fulan A
“Mengapa bisa begitu, bukankah kita sudah ‘taubat’. Bukankah perjuangan kita dulu adalah ibadah? Nggak fair dong kalau kita jadi penghuni neraka,” kata fulan B, C, D, E … dst … sampai fulan Z.
“Lho, aku dan kalian di neraka itu bukan untuk disiksa, bro. Tapi untuk menyiksa beliau, Syekh kita, karena ia sudah zalim atas dirinya sendiri dan para pengikutnya,” jelas fulan A berapi-api.
“Tuhan bermurah hati untuk memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi alogojo-Nya,” lanjut si fulan A.
“Hahahaha……….bisa aja kamu, Bro,” kata fulan B, C, D, E … dst … sampai fulan Z.
______________________________________________________________________________________________
Mohon maaf, jika ada pihak-pihak yang tersinggung dengan anekdot ini. Karena ini hanyalah sebuah kejenakaan semata. Bukan juga untuk semata mencontoh kejenakaan Abunawas atau Nasrudin Hoja yang penuh hikmah itu. Anggap saja tokoh Syekh itu hanya sekadar tokoh rekaan semata.
juga di muat di kalipaksi dot com
(Lihat foto: Neraka (cerbata #2))
Artikel ini memiliki: 0 Komentar • Bagus +1