Belum sebulan menjabat sebagai Presiden, berbagai persoalan sudah mendera Pak Beye. Berangkat menuju Kuala Lumpur dan Singapura dengan meninggalkan pe er satu koper. Kembali dari pertemuan APEC langsung ditunggu dengan amplop coklat berisi rekomendasi yang mampu menggoyang jagad pandita nagari. Bahkan perjalanan kunjungan ke Australia pun terpaksa tertunda.
Dan disetiap simpul peristiwa itu tidak ada satupun tokoh yang berani berdiri di depan membentengi sang Presiden. Ia sendirian. Dan semua kritik mengarah kepadanya tanpa ada satupun balasan dari Istana. Semua staff, khusus atau bukan, menghindar, entah karena mungkin turut terlibat atau mungkin merasa belum cukup nyalinya. Dino Djalal yang masih tersisa terlihat membuat jarak dengan isu domestik yang penuh ranjau paku penuh karat itu. Salah satu langkah saja, maka semuanya bisa sia-sia.
Sosok Andi yang biasanya selalu muncul di media sudah tidak lagi tampak batang hidungnya di sana. Setelah disingkirkan dari lingkaran dalam Istana, ia memilih mengacungkan jari telunjuk dalam model iklan gerakan Pramuka. Mungkin ia juga miris melihat situasi terkini di Istana.
Pesan pesan yang disampaikan dari Istana terlihat kedodoran, tidak rapih apalagi efektif mandraguna. Spin doctor merangkap jubir di garda terdepan Istana untuk politik dalam negeri itu sudah lenyap. Penggantinya belum juga tersedia. Mungkin karena terlalu banyak kriteria atau bisa juga karena lupa. Satu persatu pesan yang dikeluarkan dilahap oleh media. Punch lines yang dikeluarkan terkesan normatif biasa. Dan isu mulai bergerak ke arah putaran yang berbeda. Karena sekarang sudah memasuki wilayah nama baik juga keluarga.Entah siapa yang membawa ke sana.
Ia tidak lagi bisa lagi berharap tameng politik dari orang sekaliber JeKa. sementara hari-hari ini Boediono masih asyik berjalan di Italia. Melihat Collosseum juga Santo Basilica.
Ia sendirian. Kemarin, hari ini atau esok lusa. Di podium kayu bergambar Garuda itu ia berdiri sendirian dengan kantung mata yang semakin kelam.Ia sendirian di sana.
Segeralah tunjuk sang juru bicara, mungkin tidak pakai kumis pun tak apa asalkan mampu berbicara atau terkekeh tertawa ha ha ha .....
Segeralah, waktu yang tersisa tidak lama.
Salam, Laler ...
Artikel ini memiliki: 34 Komentar • Menarik +8