Waktu terus berputar tanpa menghiraukan adanya makhluk yang bergelut dan memperjuangkannya di dalam perputarannya, manusia. Semua yang tercipta di dunia memiliki sepenggal cerita dimana sesuatu bermula dan akan bermuara. Sama hal-nya pada manusia sendiri yang memiliki awal kelahiran hingga menemui ajal pada akhirnya. Namun segala sesuatunya memiliki proses, dimana berawal dari bayi, bawah lima tahun (balita), muda (remaja), dewasa, tua, dan akhirnya mati. Yang menjadi persoalan saat ini adalah adanya para lanjut usia (Lansia) yang semakin meningkat di Indonesia.
Saat ini memang Lansia terkadang hanya dipandang sebelah mata oleh golongan muda dan dewasa, namun kita harus memberikan sedikit ruang untuk merefleksikan diri dalam keadaan ini. Ada anggapan bahwa Lansia merupakan faktor penghambat dalam perkembangan dari desa hingga kota besar, kok bisa ya? Inilah yang membuat menarik sendiri dari lansia. Lansia sendiri dapat saya golongkan menjadi 2 golongan, lansia intelektual dan lansia bodoh (maap, bingung golek kata-kata yang lain je).
Desa-desa yang berada di Indonesia kebanyakan masih menganut rasa sungkan, enggan, dan menuakan, mungkin ini alasan yang tepat mengapa para lansia di desa lebih mendapat penghormatan yang lebih ketimbang di daerah perkotaan. Namun hal ini tidak disertai dengan adanya perkembangan pola pikir yang lebih maju, karena pola pikir para Lansia masih kaku dan sulit menerima pendapat baru, padahal perkembangan desa harus diubah seiring kemajuan pendidikan dan teknologi. Dengan begitu sistem pembangunan di desa akan tetap sama dan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Lansia diperkotaan mengapa sempat saya sampaikan cukup berpengaruh karena kebanyakan para Lansia golongan intelektual yang mendominasi, bukan sebaliknya.
Perkembangan Lansia
Jumlah Penduduk Lansia Indonesia
Tahun
Usia Harapan Hidup
Jumlah Penduduk Lansia
%
1980
52,2 tahun
7.998..543
5,45
1990
59,8 tahun
11.277.557
6,29
2000
64,5 tahun
14.439.967
7,18
2006
66,2 tahun
+19 juta
8,90
2010 (prakiraan)
67,4 tahun
+23,9 juta
9,77
2020 (prakiraan)
71,1 tahun
+28,8 juta
11,34
Diambil dari: http://www.menkokesra.go.id
Bias dibayangkan perkembangan lansia di Indonesia bukannya mengalami pengurangan tapi malah mengalami peningkatan yang cukup siknifikan. Berdasarkan data di atas kita harus menyiapkan solusi bagi Indoesia bila mana prakiraan data jumlah penduduk Lansia pada tahun 2010, bukan mendiskriminasikan mereka kedalam sebuah ruangan yang mungkin tidak ingin mereka bayangkan dimasa muda dahulu, Panti Jompo.
Ada tanggung jawab yang masih diemban oleh para Lansia, yaitu memberikan atau menceritakan sejarah, ilmu, tragedy, dan pengalaman mereka kepada generasi muda saat ini agar menjadi ajang pembelajaran hingga tidak menyebabkan mereka terjebak kembali pada lubang yang dulu pernah para Lansia arungi. Selama ini pemberdayaan Lansia pada bidang pendidikan sudah jarang terlihat dipandangan, namun mereka kebanyakan bermain dibelakang layar pendidikan Indonesia.
Seperti yang terjadi pada pelantikan presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) terjadi sebuah layar dagelan yang dilakukan oleh Tofik Kemas. Kejadian ini menjadi salah satu contoh kekurangan dari para Lansia sehingga memaksa para penerus bangsa mempercepat jam tayang mereka kelayar laga untuk menggantikan mereka.
"data di bawah saya kutip dari : http://www.menkokesra.go.id"
Kecenderungan meningkatnya Lansia yang tinggal di perkotaan ini bisa jadi disebabkan bahwa tidak banyak perbedaan antara rural dan urban. Karena pemusatan penduduk di suatu wilayah dapat menyebabkan dan membentuk wilayah urban. Suatu contoh bahwa untuk membedakan wilayah rural dan urban di antara kota Jakarta dan Bekasi atau antara Surabaya dengan Sidoarjo serta kota-kota lainnya kelihatannya semakin tidak jelas. Oleh karena itu benarlah kata orang bahwa Pantura adalah kota terpanjang di dunia, tidak jelas perbatasan antara satu kota dengan kota lainnya.
Alasan lain mengapa pada tahun 2020 ada kecenderungan jumlah penduduk Lansia yang tinggal di perkotaan menjadi lebih banyak karena para remaja yang saat ini sudah banyak mengarah menuju kota, mereka itu nantinya sudah tidak tertarik kembali ke desa lagi, karena saudara, keluarga dan bahkan teman-teman tidak banyak lagi yang berada di desa. Sumber penghidupan dari pertanian sudah kurang menarik lagi bagi mereka, hal ini juga karena pada umumnya penduduk desa yang pergi mencari penghidupan di kota, pada umumnya tidak mempunyai lahan pertanian untuk digarap sebagai sumber penghidupan keluarganya.
Selain itu bahwa di masa depan sektor jasa mempunyai peran yang penting sebagai sumber penghidupan. Oleh karena itu suatu negara yang tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup maka di era globalisasi akan beralih kepada sektor jasa sebagai sumber penghasilannya, contoh negara Singapura. Pada hal sektor jasa dapat berjalan dan hidup hanya di daerah perkotaan
(Lihat foto: Lansia atau Lansial ya...)
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Rating 0