Demokrasi: melelahkan? • penulis: Apprayo, 20 Oktober 2009 14:29:54 • 27 KomentarMenarik +5

Beberapa waktu yang lalu, saya diajak oleh tiga orang teman untuk memulai usaha kecil2an. Sedari awal kami bersepakat untuk membagi tugas dan hak secara merata, termasuk hak untuk berpendapat. Dalam perjalanannya, saya mendapati bahwa banyak keputusan diambil dengan susah payah. Bagi saya pribadi, keputusan2 yang akhirnya diambil bukanlah keputusan yang terbaik. Mengapa demikian? Ya karena keputusan2 tersebut diambil dengan mengompromikan pendapat2 dari rekan2 yang lain, termasuk pendapat yang diberikan secara asal dan seringkali juga tanpa alasan yang jelas. Keputusan tidak diambil dari pendapat2 yang seluruhnya berkualitas, lengkap dengan dasar pemikiran dan pertimbangan dari berbagai segi. Keputusan diambil hanya sekedar sebagai jalan tengah, agar semua pihak merasa terakomodasi pandangannya, terlepas dari pandangan itu diberikan dengan ataupun tanpa alasan yang jelas. Tidak jarang, pandangan diberikan hanya atas dasar seperti "ya karena saya suka itu, tidak harus ada alasan kan?", atau "kamu nggak perlu tau apa alasan saya, pokoknya itu pendapat saya, bukankah pendapat saya juga mesti dihargai?". Ketika ditanya lebih lanjut, kuda2 justru dipasang: "lho, pendapat saya kok tidak dianggap?". Yang empunya pendapat tidak sadar bahwa agar pendapatnya bisa diterima orang lain, pendapatnya haruslah didukung oleh alasan dan pertimbangan yang logis.

Terlalu menyederhanakan situasi bila saya lantas dengan mudah menyimpulkan: demikianlah pula wajah demokrasi kita.

Tapi, memang bila demokrasi dijalankan secara serampangan, pendapat2 dilontarkan secara asal2an, hak bersuara digunakan secara tidak bertanggungjawab, demokrasi menjadi sesuatu yang mahal dan melelahkan. Mahal, karena memakan waktu, tenaga, dan biaya. Jadi melelahkan, terlebih karena pada akhirnya kita merasa tidak sedang melangkah maju ke mana2.

Demokrasi, bila digunakan di tengah masyarakat yang belum dewasa, yang lebih mengagungkan hak ketimbang kewajiban, akan menjadi sekedar zero-sum-game. Tidak ada langkah maju yang bisa diambil, karena tiap pihak selalu ingin menetralisir langkah maju pihak lain, terlepas dari apakah langkah pihak lain itu adalah suatu hal yang positif atau negatif. Demokrasi, akan menemukan lahannya yang paling subur bila berada di tengah masyarakat yang kompak walau berbeda. Kompak dalam tujuan meraih kemajuan bersama, berbeda dalam cara menempuhnya. Cara yang berbeda selalu bisa dirundingkan untuk disinergikan, selama pihak yang merundingkan masih bertujuan sama: meraih keberhasilan bersama.

Saya kuatir, demokrasi kita tumbuh menjadi demokrasi yang melelahkan. Tiap orang memiliki hak pilih yang sama, tapi banyak yang digunakan secara serampangan: memilih seseorang hanya karena si tokoh baru saja menghaluskan aspal jalan kampung; memilih seseorang hanya karena si tokoh tetangga rumah sebelah; memilih seorang tokoh hanya karena beliau lebih sering muncul di iklan teve. Semua orang memiliki hak berpendapat, tapi tak jarang hak berpendapat digunakan secara tidak optimal, digunakan secara tidak cerdas, seperti hanya sekedar tampil beda. Tadi pagi, saat presiden dan wakil presiden terpilih dilantik, masih ada yang berdemo menolak mereka. Tanpa bermaksud memihak, bagi saya, mereka yang berdemo seperti tidak berada dalam realita. Ada banyak cara yang lebih konstruktif untuk mengeluarkan pendapat demi majunya bangsa, daripada sekedar menolak kenyataan di depan mata.

Apakah demokrasi kita sungguh telah menjadi demokrasi yang melelahkan?


Artikel ini memiliki: 27 KomentarMenarik +5

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »