Sungguh, sinar laser ternyata selain merupakan sebuah produk ilmu fisika terapan ternyata juga berdimensi spiritual dan motivasional. Dalam bahasa Inggris, LASER berarti: Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation). Intinya, dengan sebuah efek mekanika kuantum, pancaran cahaya distimulasi untuk menghasilkan sebuah cahaya yang koherens yang dikontrol kemurnian, ukuran, dan bentuknya. Akhirnya, pancaran cahaya itu menjelma menjadi sebuah kekuatan yang mampu menembus materi super kuat seperti baja.
Jika semangat LASER itu kita bawa ke dalam kehidupan manusia sehari-hari, pada prinsipnya sangat bisa. Juga dalam ber-politikana.
Siapapun manusia di muka bumi ini jelas diberi modal “cahaya” oleh Sang Pencipta. Dalam bahasa Arab diistilahkan dengan “nur”. Secara bahasa, dalam kata “nur” itu terdapat sebuah sifat “energi potensial” (yang ditandai dengan tanda baca “dlammah”). Nah, persoalannya, seberapa besar kita bisa menstimulasi potensi “cahaya” yang ada pada setiap diri itu menjadi sebuah kekuatan dahsyat.
So, singkatnya filosofi LASER memberi kita pelajaran bahwa saya, anda, dan kita semua bisa memiliki kekuatan untuk menembus apapun persoalan sepanjang kita mampu mengelola “potensi cahaya” yang sudah dititipkan Tuhan kepada diri kita.
Dus, filosofi LASER memberi kita pesan moral sebagai berikut:
- Dalam ilmu fisika, cahaya bisa menjadi LASER jika amplitudo atau panjang gelombangnya konstan. Artinya, di sana terdapat semangat “KONSISTEN” ( = disiplin, tegas).
- Stimulasi, punya makna mengerahkan segenap “potensi cahaya” itu kepada satu titik = KONSENTRASI (khusyuk).
- RADIATION (radiasi) punya makna semangat agar manusia memiliki daya radiasi positif (bermanfaat) bagi kehidupannya dan kehidupan alam semesta.
Artikel-artikel yang saban hari hilir mudik di ruang politikana ini juga berpotensi menjadi cahaya-cahaya yang mencerahkan. Bukankah tulisan yang diniatkan untuk sebuah pencerahan adalah juga 'cahaya' dalam bentuk lain?
Cahaya-cahaya itu, seperti juga pesan tersibak dari fenomena fisika sinar laser, bisa kita stimulasikan untuk sebuah tujuan mulia. Ini serupa seperti ketika komunitas blogger mampu memberi posisi tawar yang kuat pada kasus Prita versus Omni.
Memang, semangat politikana adalah netralitas. Namun, dalam kenetralitasannya itu, politikana tetap punya potensi besar untuk menjadi 'laser' bagi setiap dinamika politik dan publik di negeri ini. Setidaknya, 'mencahayai'. Semoga.
(tulisan ini dimodifikasi dari posting lawas di kalipaksi.com berjudul: Hiasi Harimu dengan Filosofi Sinar Laser).
Artikel ini memiliki: 9 Komentar • Bagus +4